MANAGED BY:
RABU
24 MEI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Selasa, 07 Maret 2017 01:08
Kelakar Politik (Bagian 2)

Cerpen

Oleh: Dirhanuddin (Pengiat Literasi HMI-MPO)

PROKAL.CO, Pukul tujuh tiga puluh pagi, Jihad sudah berada di pelataran kantor DPRD Kota Madu. Tujuannya tidak lain, mencari sejak awal para anggota wakil rakyat yang bisa dijadikan narasumber. Namun hingga pukul delapan tiga puluh menit, Jihad belum satupun menjumpai wakil rakyat yang turun untuk ngantor.

Sementara beberapa nomor anggota wakil rakyat lainnya yang ada di handphone Jihad, telah dihubungi satu persatu. Mereka baru akan masuk kantor sekitar pukul sepuluh nantinya. Karena bosan menunggu, Jihad memutuskan ke kantin DPRD. Sekalian untuk ngopi dan mengisi perut yang belum sempat terisi saat berangkat dari kos-kosan tadi.

Sesampainya di kantin, Jihad mendapati sudah ada beberapa pegawai sekretariat DPRD, ada juga beberapa diantara mereka adalah kontraktor. Wajah-wajah mereka sudah tidak asing bagi Jihad. Mereka biasa ditemukan di kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU), dengan segala macam kesibukan dan urusan. Karenanya, saat masuk, sekenanya, Jihad melemparkan senyuman kepada orang-orang proyek tersebut.

Usai sarapan dan ngopi, telingga Jihad yang peka, mendengar bincang-bincang para orang-orang proyek. Obrolannya mudah ditebak oleh Jidah. Masalah proyek. Menariknya, Jihad seakan menemukan jalan masuk dari apa yang sedang dicarinya. Orang-orang tersebut sedang membicarakan pokok-pokok pikiran dewan.

Salah seorang dari orang-orang proyek itu, tepat berada di bagian sudut kanan meja bercelutuk, pengesahan APBD Kota Madu masih sangat alot. Katannya, antara unsur pimpinan, fraksi hingga komisi, masih tarik ulur soal angka-angka yang diterima setiap fraksi, serta para anggota wakil rakyat.

Naluri jurnalistik Jihad mendadak bergeliat. Jarak Jihad dengan orang-orang tersebut hanya sekitar lima meter. Semaksinal mungkin telingganya dipasang baik-baik. Apalagi pembicaraan orang-orang proyek tersebut semakin serius. Sudah sampai ke arah pembagian anggaran di unsur pimpinan dewan.

Menurut pria berbadan gempal dengan baju kotak-kotak, keterlambatan pengesahan APBD dikarenakan adanya ketidak sepahaman antaran unsur pimpinan. Apalagi, partai kuning selaku ketua dewan, hanya berselisih suara dari partai biru. Jumlah wakil rakyat kedua partai tersebut sama-sama delapan orang. Saat pemilihan legislatif (Pileg), partai biru selisih sekitar seribu suara. Dengan demikian, kursi pimpinan atau ketua DPRD yang sebelumnya ditempati partai biru terpaksa harus direlakan ke partai kuning.

Lelaki berbadan ceking, yang duduk di kursi ketiga, tak kalah sengitnya menyapaikan informasi. Menurut lelaki berkulit sawo matang tersebut, pengesahan anggaran semakin alot, karena wakil ketua II dewan dari partai hijau, adalah istri dari Walikota Kota Madu, ikut ambil bagian dalam masalah itu.

Partai hijau menurut lelaki ceking itu, juga mengingginkan anggaran yang besar untuk mengakomodir pokok-pokok pikiran yang diusulkan konstituen, atau pemilih partai hijau. Karenanya, kemungkinan APBD baru dapat diketok akhir Desember. Itupun kemungkinan hanya sekedar formalitas, apabila kesepakatan terkait besaran pokok-pokok pikiran dewan, masih terdapat selisih.

Mendadak kehusukan Jihad buyar. Handphone yang ada di depannya berdering. Mendegar nada handphone, mata orang-orang di kantin itu sejenak mengarah ke arah tempat Jihad duduk. Dengan ketergesa-gesaan, Jihad meraih handphone. Di layar handphone tertera nama yang tidak asing. Dengan cakatan Jihad menerima panggilan.

“Iya, Kang,” kata Jihad penuh keterburu-buruan.

“Kamu lagi dimana, dinda?,” tanya pria dalam handphone.

“Saya lagi di kantin DPRD, Kang. Kenapa, Kang, ada yang harus saya liput kah?,” tanya Jihad.

“Aku mau minta tolong. Kamu segera ke warung Sinta Raya. Di sana ada pak Trisno. Kamu tolong ambilkan berkas kantor sama dia. Sekalian kamu bisa minta nomornya pak Kandar, dia mungkin bisa kamu jadikan narasumber untuk liputan mu,” katanya.

“Oke, Kang. Segera saya ke sana,” kata Jihad lalu menutup telepon. Lelaki yang barusan mengobrol dengan Jihad adalah Kang Mamat.

***

Angin malam yang berhembus begitu terasa malam ini. Roman-romannya akan turun huran. Langit juga terasa mendung. Bahkan di sisi barat Kota Madu, sepertinnya telah diguyur hujan. Itu terlihat dari pekatnya awan malam.

Jihad yang sedari tadi nongkrong di warung kopi Mbok Sinah, juga masih belum beranjak. Seduhan kopi khas tanggan tua yang lekat oleh jaman, mungkin jadi alasan Jihad belum beranjak. Ditambah obrolan dan candaan hangat Mbok Sinah membuat Jihad betah berlama-lamaan di warung beratapkan terpal biru, yang sebagian diantaranya telah mulai berlubang, karena harus berjuang dengan angin malam yang semakin kencang berhembus.

Jihad ingin berlama-lamaan. Namun pukul delapan tiga puluh nanti, dirinya telah berjanji untuk bertemu dengan pak Kandar. Saat menghubungi pak Kandar siang tadi, Jihad diminta ke rumahnya di Jalan Angkringan, jika ingin bertemu, atau bercerita, juga sekaligus wawancara.

Beranjak dari tempatnya duduk, Jihad menarik uang dua puluh ribu di saku kanannya. “Mbok, sisannya simpan aja. Sekalian buat saya ngopi besok,” kata Jihad beranjak keluar dari warung. Mbok Sinah menjawabnya dengan anggukan kepala, sebagai tanda dia mengiyakan.

Tiba di rumah pak Kandar, Jihad langsung dipersilahkan duduk di ruang tamu. Sementara pak Kandar terlihat masih sibuk dengan mencoret sejumlah berkas. Beberapa diantaranya dibubuhi tandatanggan.

“Ndut, tolong sediakan kopi dua. Bawakan ke ruang tamu,” suara pak Kandar meminta pembantunya menyediakan kopi.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 01 Mei 2017 19:07

Oleh-Oleh Perjalanan dari Surabaya-Malang (1); Belajar Kelola Zetizen, Anak Muda Kreatif Berkumpul di Graha Pena

Untuk pertama kalinya, Bontang Post mendapatkan kesempatan belajar lebih dalam tentang pengelolaan halaman…

Kamis, 16 Maret 2017 19:02

Kelakar Politik (Bagian 3)

Pagi ini Jihad terlambat bangun pagi. Bahkan solat subuh tak sempat dilaksanakannya. Efek begadang dengan…

Rabu, 08 Maret 2017 01:01

Kelakar Politik (Bagian 4-Habis)

Sepekan sudah Jihad berkelut dengan menggali informasi. Masuk dinas satu ke dinas yang lain. Ketemu…

Selasa, 07 Maret 2017 01:17

Terima Kasih Bontang

Corner Kick 82 merupakan edisi terakhir yang saya buat. Itu setelah, sejak Selasa (7/3) hari ini, saya…

Selasa, 28 Februari 2017 00:37

Menanti Ketua Baru

Tanpa bermaksud mengecilkan cabang olahraga (cabor) lain, selama ini sepak bola menjadi yang paling…

Selasa, 21 Februari 2017 01:21

Belajar dari Anak Muda

101 daerah di Indonesia menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak, 15 Februari lalu.…

Selasa, 21 Februari 2017 00:52

Penguasa dan Diktator

Siapa bilang penguasa diktator haram. Penguasa diktator sangat dibutuhkan untuk perubahan. Akan tetapi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .