MANAGED BY:
RABU
22 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Kamis, 16 Maret 2017 19:00
Kelakar Politik (Bagian 1)
Oleh: Dirhanuddin (Pengiat Literasi HMI-MPO)

PROKAL.CO, Jarum jam menunjukan pukul enam sore. Sebentar lagi suara azan berkumandang. Seperti layaknya jurnalis lainnya, Jihad, masih disibukan dengan sejumlah ketikan berita. Sejak duduk di meja kerjanya pukul lima sore, Jihad ternyata baru menyelesaikan dua berita.

Memandang jam dinding, Jihad mendadak kalut. Kini deadline tersisa tiga puluh menit. Dengan penuh ketergesa-gesaan, Jihad memfokuskan pikiran ke layar monitor. Sejurus, jari jemarinya dengan cekatan menghentak papan keyboard. Dia menyusun kata perkata hasil wawancarannya siang tadi menjadi sebuah kalimat, paragraf dan berita.

Bila tidak menyetor tiga berita, maka, sumpah serapah, omelan hingga cibiran, bakal meluncur deras dari bibir sang Redaktur Pelaksana (Redpel). Apalagi pukul delapan malam nanti, seperti biasannya, akan ada rapat redaksi yang dilanjutkan dengan rapat perencanaan liputan. Tulisan yang dinilai semrawut, apalagi ada jurnalis yang tidak menyetor tiga berita, ya bakal jadi sasaran omelan selama rapat berlangsung.

Menurut redaktur, ataupun redpel, sikap yang mereka ambil demi menempa mental dan semangat kerja para jurnalis, supaya lebih tekun lagi menyajikan berita-berita menarik, apik, cetar membahana dan memiliki kualitas bagi para pembaca. Ada juga yang bilang, kalau redpel marah-marah pada para jurnalisnya, itu tandanya dia peduli…hehehehe,. Entahlah. Bagi Jihad, dicecar, atau apapun itu, sedikit tidak sejalan dengan visinya yang tidak banyak bicara.

Jarum jam serasa cepat, ketika Jihad berburu ketikan. Jihad sedikit beruntung, karena berita yang dia ketik hanya berita ringan, soal rencana pembangunan jalan pendekat pelabuhan Kota Madu.

“Jihad, sudah selesai kah ketikan mu,” teriak redpel dari balik meja kerjanya yang berjarak sekitar lima meter dari tempat Jihad duduk mengetik.

“Sebentar lagi, Kang. Saya cek dulu ketikannya, takut ada kata-kata yang salah. Setelah itu saya langsung masukan folder berita,” sahut Jihad dengan wajah sedikit mendoga ke atas, lantaran meja kerjanya dibuat sekat seperti bilik kecil.

“Oke, cepat….Ini sudah jam berapa, kalau ngak, berita mu aku tinggal nanti,” kembali redpel berteriak dari meja kerjannya.

***

Usai solat berjamaah bersama redpel, redaktur, dan jurnalis lainnya, kini waktunya Jihad untuk melaksanakan rapat redaksi dan rapat perencanaan. Dalam rapat perencanaan, masing-masing jurnalis mengajukan rencana liputan. Ada yang mengajukan melanjutkan berita yang akan terbit keesokan harinnya. Ada pula yang mengajukan isu-isu baru.

Nah, Jihad masih duduk termenung. Pikirannya kosong. Binggung. Limbung. “Jihad, tinggal kamu yang belum menggajukan perencanaan liputan,” kata Kang Mamat, redaktur yang menaungi Jihad.

“Sebentar, Kang. Saya belum punya ide yang bagus nih, mau liput apa besok,” sahut Jihad tersadar dari lamunannya.

Sejenak ruang rapat hening. Ada yang berbincang, namun suaranya hanya pelan. Sementara redaktur lainnya sibuk memberikan arahan kepada para jurnalis yang mereka naungi.

“Gimana, Jihad. Sudah ada ide liputan kah?,” kembali Kang Mamat melontarkan pertanyaan, kali ini suarannya sedikit lebih tegas.

“Atau aku yang memberikan penugasan,” sambung Kang Mamat, kembali memberikan tekanan pada nada suaranya.

Halaman:

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .