MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

SANGATTA POST

Senin, 20 Maret 2017 16:32
Pangan Kutim Tercampakkan

Hanya Fokus di Perkebunan

PROKAL.CO, SANGATTA – Tanaman palawija maupun holtikultura di Kutim semakin terabaikan. Kutim dianggap lebih condong mengutamakan perkebunan seperti sawit dan karet. Akibatnya, Kutim mengalami krisis kedua tanaman tersebut. Padahal sebelum Kutim dimekarkan, beberapa kecamatan seperti Muara Bengkal merupakan penghasil terbesar. Hebatnya, sampai ekspor dalam negeri.

“Kita memiliki masalah pertanian pangan saat ini. Saya ingat dulu Muara Ancalong dan Muara Bengkal merupakan kawasan palawija saat masih Kutai. Panen melimpah sampai ekspor. Karena penataan masalah pangan dibidang palawija sangat diperhatikan. Sekarang kita jadi kabupaten, masalah palawija seperti kedelai hilang. Masalah  holtikultura seperti pisang mulai hilang. Jadi hampir hilang semua saat ini,” ujar Pemerhati Pertanian, Halidin Katung.

Kutim, saat ini  jauh tertinggal dengan beberapa kabupaten tertangga lainnya. Pasalnya, daerah tersebut menyeimbangkan antara tanaman pangan dengan perkebunan. Bahkan tak sedikit yang mengutamakan tanaman pangan. Sehingga, tidak mengalami krisis seperti yang dialami Kutim saat ini. “Kita tertinggal dengan Panajam, Paser Utara, Kutai Kartanegara, dan Berau,” katanya.

Dirinya meminta agar masa makmur dahulu dikembalikan lagi seperti semula. Ada beberapa upaya agar tanaman pangan Kutim kembali Berjaya. Pertama, melakukan usaha tani dengan intensifikasi. Intensifikasi merupakan pemanfaatan bibit, pupuk, pemberantasan hama dan pengairan secara tersier, sekunder, dan primer yang benar dan baik  serta menyiapkan pola bercocok tanam modern.

Kemudian, eksistensifikasi. Merupakan pemanfaatan lahan kosong yang belum dimanfaatkan semaksimal mungkin. Seperti melakukan cetak lahan sawah baru dan atau perluasan areal, pemanfaatan lahan tidur baik hutan ringan maupun utan semak. Dengan catatan, tidak menggarap hutan berat karena merupakan keseimbangan manusia.

Selanjutnya, dipersifikasi tanaman. Langkah ini dianggap perlu untuk menyeimbangkan antara tanaman pangan yang satu dengan yang lainnya. Jika tanaman ladang, tidak hanya fokus pada kedelai, akan tetapi diselingi dengan komoditi lain seperti jagung, kacang tanah, serta ubi kayu. Begitupun jika dipersawahan tidak hanya menanam padi, juga perlu ditebar ikan di areal tersebut.

Terakhir ialah Rehabilitasi. Mulai dari perbaikan saluran air, waduk, bendungan sampai perbaikan cara tanam.Kemudian, selain petani yang mendapatkan bimbingan, para penyuluh pertanian juga wajib dibina. Tak kalah penting, satu desa satu penyuluh. Hal ini dimaksud agar kinerja penyuluh lebih efesien, efektif, dan fokus dalam bekerja.

“Kenapa tidak kita benahi lagi dengan baik. Yang tua hilang yang muda lagi bergerak. Sektor pangan dikemas dengan rapi. Diprogramkan secara terpadu dan konprehensif. Sehingga semua pekerjaan dalam pertanian pangan, terkonsentrasi, terfokus, terkoordinasi, dengan baik dan terpadu. Sehingga daerah kita ini tidak hanya dilihat dari sektor kelapa sawit saja, tetapi pangan juga,” katanya.

Hal senada juga diutarakan oleh, Sekretaris Umum, DPD KNPI, Arham. Selaku pemuda dirinya menilai pemerintah mulai mengabaikan sektor tanaman pangan. Padahal, Kutim kaya dan unggul dengan daerah lain. Karena minimnya perhatian dan keseriuasan,   akhirnya Kutim tertinggal jauh dengan daerah tetangga.

“Luas sawah komoditi padi eksisting di Kutim 6.458 hektar  ditambah dengan pencadangan food estate seperti jagung, singkong dan lainnya seluas 62.634 hektar. Belum lagi ditambah dengan rehabilitasi dan penghijauan di lahan kritis. Jika potensi tersebut dimaksimalkan, seharusnya Kutim mandiri pangan. Baik berupa padi, jagung, kedelai, dan lainnya,” kata Arham yang juga merupakan alumni pertanian tersebut. (dy)


BACA JUGA

Senin, 20 November 2017 16:49

Warga Mendukung, Minta Pungutan di RT Dihapus

SANGATTA - Pungutan restribusi sampah untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kutim mendapatkan…

Senin, 20 November 2017 16:48

Januari, Buang Sampah Bayar

  SANGATTA - Dimulai pada Januari 2018 nanti, masyarakat yang membuang sampah akan dikenakan pungutan.…

Senin, 20 November 2017 16:47

Faktor Ekonomi Buat Pria Ini Nekat Edarkan Sabu

SANGATTA - Gara gara miskin, Oktavianus Manase Paung Alias Oteng warga  Jalan Sawit RT 04 Desa…

Senin, 20 November 2017 16:45

Muhammadiyah Minta Jaga Persatuan

SANGATTA- Perwakilan Pimpinan Muhammadiyah Kutim, Yakub Fadilah berpesan kepada peserta Musyawarah Cabang…

Senin, 20 November 2017 16:44

‘Tak Tertarik’ Pilgub Kaltim, Mahyudin: Saya Enggak Mau Serakah

SANGATTA - Mahyudin mengaku ogah turun gunung untuk bertarung dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim…

Senin, 20 November 2017 16:43

WPP Bantu Korban Kebakaran

SANGATTA – Wanita Persatuan Pembangunan (WPP) Kutim ikut meringankan duka korban kebakaran di…

Senin, 20 November 2017 16:42

Terus Galakkan Senam Sehat

SANGATTA – Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim, Herlang Mappatitti terus…

Senin, 20 November 2017 16:41

Pansus RPPPI Tinjau PPI Selili

SANGATTA – Tim Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Retribusi Pelayanan…

Minggu, 19 November 2017 00:23

PATUT DICONTOH..!! Desa Pampang Baliho APBDes

SANGATTA – Sesuatu yang unik dilakukan di beberapa desa di Kutim. Yaitu memasang baliho jumbo…

Minggu, 19 November 2017 00:22

PERINGATAN!!! Merokok di KTR, Denda Rp 500 Ribu Menanti

SANGATTA - Untuk para perokok aktif, kini harus lebih berhati-hati saat merokok. Jangan sampai lokasinya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .