MANAGED BY:
SELASA
25 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Rabu, 26 April 2017 00:57
Vonis Dahlan Iskan dan Negeri yang Gagal Berterima Kasih
Oleh Imam Shamsi Ali Imam di Kota New York dan presiden Nusantara Foundation

PROKAL.CO, Beberapa hari lalu saya mendapat pesan singkat lewat WhatsApp bahwa Pak Dahlan divonis bersalah dengan hukuman penjara dua tahun di Pengadilan Tipikor Surabaya. Kota di mana beliau membangun bisnis besarnya sekaligus kota yang dalam beberapa saat ini sudah menjadi penjaranya sendiri (tahanan kota).

Mendengar berita itu, saya bagai tertimpa sesuatu yang begitu berat. Di tengah kesibukan saya sendiri di Kota New York, saya tiba-tiba menjadi lesu, malas, seolah kehilangan semangat sekaligus merasakan kekecewaan, bahkan kemarahan.

Ada apa dengan negeri ini? Dari hari ke hari, fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara semakin diinjak serta dimainkan. Akan ke mana sebuah negara di saat hukum telah dijadikan barang mainan atau objek transaksi kepentingan kekuasaan?

Saya ingin marah, ingin berteriak, ingin melampiaskan kemarahan itu kepada kezaliman yang merajalela. Kezaliman yang seolah menjadi sesuatu yang alami dalam dunia kekuasaan. Tapi, saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Hanya kata hati dan nurani yang menggerakkan sehingga saya bangkit untuk salat malam, hanya dua rakaat. Khusus untuk mendoakan Pak Dahlan Iskan semoga dikuatkan, dimudahkan, serta diberi jalan keluar dan hasil yang terbaik dari Allah. Al Fatihah!

Di pengujung doa itu, saya kembali diingatkan ketika bertemu dengan beliau beberapa kali. Sebuah memori kehidupan yang menyentuh saya secara pribadi. Pak Dahlan telah menjadi guru yang hebat untuk saya. Guru kehidupan yang mengajarkan apa dan bagaimana hidup.

Tentu nama Dahlan Iskan telah lama saya kenal. Saya kenal sebagai pengusaha sukses dan kaya. Awalnya, saya mengira beliau pasti memiliki gaya hidup mewah. Sebagaimana lazimnya orang-orang kaya Indonesia, rata-rata tampil beda dan (maaf) agak sok. Walau terkadang kekayaannya biasa-biasa saja. Belum sekaya Bill Gates, Warren Buffet, atau Mr Carlos dari Meksiko, bahkan minimal Donald Trump.

Saya banyak mendengar di kemudian hari di pemerintahan. Memegang BUMN, menjadi menteri, bahkan pernah maju mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat melalui konvensi partai. Beliau memenangkan itu, walaupun akhirnya bersama Anies Baswedan (sekarang gubernur DKI terpilih) hanya dijadikan pelengkap konvensi.

Saya kemudian banyak membaca tentang beliau. Dari latar belakang keluarga, kehidupan masa kecil, hingga proses membangun perusahaan raksasa itu. Tapi, saya masih tetap terbawa dengan bayangan seorang pebisnis sukses. Pasti beda. Gaya hidup yang mentereng, glamor, dan sudah pasti pergaulan yang cenderung memilih serta berlagak bos.

Ternyata bayangan saya tentang sosok Dahlan Iskan terpeleset. Bayangan saya tentang seorang pengusaha yang (maaf) rakus, tiada puas, dan cenderung menghalalkan segala cara tidak ada pada Pak Dahlan. Beliau menjabat posisi-posisi strategis di negeri ini, tapi tak serupiah pun beliau ambil. Yah, untuk apalah gaji dan fasilitas itu dengan kekayaan yang beliau miliki?

Tapi, masalahnya bukan pada kekayaan. Melainkan jiwa beliau yang memang sudah merasakan ”kepuasan dengan apa adanya”. Bukan jiwa yang bergantung pada harta dan tidak pernah menemukan kata puas dalam hidup.

Sejak menjadi pejabat tinggi negara, Dirut BUMN (PLN) maupun menteri, beliau menjalani hidup tanpa berubah. Jika pergi ke pertemuan dengan presiden dan mengharuskan naik ojek atau kendaraan umum, beliau lakukan. Dan semua itu dilakukan bukan sekadar untuk pencitraan. Tapi, memang itulah beliau apa adanya.

Setelah selesai di pelayanan publik (menteri), beliau kembali menjalani hidup biasa. Salah satunya kembali mendalami keilmuan di berbagai tempat. Salah satunya di Mid West, Amerika Serikat. Sekali lagi, sebuah pembuktian karakter yang luar biasa. Bahwa posisi tinggi bukan jaminan kualitas pendidikan. Setiap orang harus berani mengembangkan kualitas diri.

Saat berada di Amerika itulah saya sempat berinteraksi dengan beliau beberapa kali. Suatu hari saya dikejutkan oleh pesan singkat, ”Ustad, ini Dahlan Iskan. Saya mau ketemu jika ustad berkenan.” Sejujurnya, saya masih menyangka itu Dahlan Iskan yang lain. Bukan pengusaha sukses dan mantan menteri. Kenyataannya, itulah beliau.

Di New York, beliau bahkan menolak dijemput dengan kendaraan pribadi saya. Apalagi dengan kendaraan dinas perwakilan pemerintah. Beda dengan yang lain, terkadang anak dan keluarganya saja minta dilayani bak raja.

Dua tahun lalu saya mengundang beliau untuk menjadi pembicara di PBB dalam sebuah seminar yang disponsori yayasan saya, Nusantara Foundation. Sebagai undangan, beliau sama sekali tidak meminta apa pun, bahkan penjemputan. Beliau lakukan semuanya karena sebuah dorongan pengabdian.

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 00:04

Sangsel Bangkit Bersama Media

Dhedy Ketua Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT)  SANGATTA Selatan merupakan salah satu  …

Senin, 24 September 2018 18:29

Problematika PAW Anggota DPRD Samarinda

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H., LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Samarinda) Pergantian…

Senin, 17 September 2018 19:38

HAMIL DULUAN, NIKAH KEMUDIAN? OOH NO!

Oleh : Muthi' Masfu'ah / Yattini *) Owner Rumah Kreatif Salsabila, Koordinator Literasi DPW Kaltim dan…

Senin, 17 September 2018 19:33

Nasib Caleg Eks Koruptor Pasca Putusan MA

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H., LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Unmul Samarinda) Sejak awal penyusunan,…

Sabtu, 15 September 2018 00:20

ETIKA MASYARAKAT MAJEMUK

Sektiono Ketua Forum Pembauran Kebangsaan ( FPK ) – KOTA BONTANG  Kita menyadari bahwa dunia…

Kamis, 13 September 2018 18:38

Politik Dua Kaki DPRD

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H.,LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman) Dewan Perwakilan…

Kamis, 06 September 2018 23:50

Medali Emas untuk Indonesia, Tambang Emas untuk Asing

Oleh: Dian Eliasari, S.KM  Usai sudah perhelatan akbar Asian Games 2018, meskipun ada duka dibalik…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:05

Kemerdekaan Yang Tergadai

Oleh: Yusi Wulandari Ibu Rumah Tangga Agustus, bulan sakral bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut,…

Minggu, 22 Juli 2018 00:20

Aplikasi Tik Tok, Potret Generasi Alay yang Abai

Oleh Nurul Inayah, SEI (Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang)  Para pegiat dunia maya…

Senin, 25 Juni 2018 00:05

Dinamika Pemilihan Kepala Daerah di Kaltim

Oleh: Rajja “Kekacauan, kecurangan, kurang pengawasan, keterpurukan, karut-marut, dan lain-lain…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .