MANAGED BY:
RABU
28 JUNI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

SANGATTA POST

Minggu, 18 Juni 2017 00:13
Dampak Negatif Sawit Dikeluhkan Warga
Kasianto/Kabid Produksi Disbun (DHEDY/SANGATTA POST)

PROKAL.CO, SANGATTA-  Perkebunan kelapa sawit seringkali menimbulkan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan. Salah satu ancaman yang paling besar ialah eksistensi hutan di Indonesia, khususnya Kutim yang berpotensi mengalami kerusakan. Hal ini diungkapkan Azis, salah seorang petani  asal Desa Singa Gewe Kecamatan Sangsel.

Menurut Azis, perkebunan kelapa sawit menciptakan dampak negatif yang sangat luar biasa.  Dirinya menjabarkan, sedikitnya terdapat tujuh masalah yang ditimbulkan oleh sawit. 

Pertama, pada umumnya, budidaya kelapa sawit dilakukan dengan sistem monokultur. Hal ini dapat memicu hilangnya keragaman hayati dan kerentanan alam seperti kualitas lahan menurun, terjadinya erosi, serta merebaknya hama dan penyakit tanaman.

Kedua, kebanyakan kegiatan pembukaan lahan kelapa sawit dilakukan dengan metode tebang habis (land clearing) agar menghemat biaya dan waktu. Akibatnya makhluk hidup yang tinggal di dalamnya pun menjadi terganggu. Ketiga, kelapa sawit membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak mencapai 12 liter/pohon.

Kemudian yang keempat, proses pertumbuhan tanaman ini juga acapkali dirangsang memakai pestisida, zat fertilizer, dan bahan kimia lainnya.Kelima, kebun sawit pun dapat mengakibatkan kemunculan hama baru. Penyebab utamanya ialah karena penerapan sistem lahan monokulturasi.Keenam, aktivitas pembukaan kebun yang dikerjakan dengan membakar hutan menimbulkan polusi udara yang parah. Bahkan asap pencemaran ini bisa terbawa angin sampai ke negeri tetangga.

Ketujuh menimbulkan konflik, baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Misalnya konflik antar pekerja daerah dengan para pendatang, atau konflik antara pemilik kebun dengan perusahaan dan atau pemerintah setempat.

"Yang paling nyata dilihat ialah terjadinya pencemaran terhadap sungai. Perkebunan sawit juga menimbulnya bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Hal ini dikarenakan struktur tanah mengalami perubahan sehingga kondisinya menjadi labil," papar sarjana pertania tersebut. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Alfian didampingi Kepala Bidang Produksi, Kasianto cukup menafikan tudingan tersebut. Pasalnya tidak semua yang dituduhkan memiliki dasar yang tepat. Realitas dilapangan masyarakat berbondong-bondong menanam sawit. Jika hal ini merugikan maka niscaya akan ditinggalkan. 

"Contoh kasus dulu seperti jarak. Banyak masyarakat yang tanam. Tetapi karena tidak menguntungkan, maka langsung ditinggalkan. Tetapi sawit, enggak ada hentinya. Itu berarti sawit diterima dan membawa dampak positif bagi masyarakat," ujar Kasianto. 

Tidak hanya dimasyarakat Kutim saja, keberadaan sawit diakui dunia. Siapapun menerima sawit. Itu karena sawit memberikan perubahan besar bagi perekonomian masyarakat. 

"Adapun tudingan lahan pertanian semakin sempit, itu benar.  Itu semua karena lajunya perkebunan kelapa sawit. Warga menentukan pilihan untuk beralih ke sawit. Kami tidak bisa memaksakan hal itu. Bahkan di Malaysia perkebunan coklat diganti ke sawit," katanya. 

Jika diteliti lebih mendalam, sawit memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Pertama, meningkatkan pembangunan di daerah. Paling mencolok adalah dibangunnya akses jalan dari perkebunan ke pusat kota yang juga bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Kemudian, pendapatan per kapita daerah semakin naik. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya kebutuhan tenaga yang diperlukan oleh suatu perkebunan kelapa sawit, dan untuk menjaga kesehatan serta kesejahteraan para pekerja, seringkali pihak perkebunan juga mendirikan pusat layanan kesehatan dan pendidikan terpadu. Walaupun kualitasnya masih di bawah standar, setidaknya fasilitas tersebut cukup berguna bagi warga sekitar.

"Memang ada dampak negatifnya, tetapi tidak bijak jika dikesampingkan dampak positifnya," ungkap Alfian. (dy)


BACA JUGA

Jumat, 23 Juni 2017 00:42

LUAR BIASA!!! Kesadaran Pegawai Tinggi, Tanpa Disdak, Tak ‘Curi Start’ Libur Duluan

SANGATTA- Bupati Kutim, Ismunandar mengaku senang lantaran hampir semua kepala Organisasi Perangkat…

Jumat, 23 Juni 2017 00:41

Cegah Penyaluran Salah Sasaran, Pembeli LPG Melon Bakal Didata

SANGATTA – Kelangkaan LPG tiga kilogram membuat Pemkab Kutim mengambil kebijakan penataan dan…

Jumat, 23 Juni 2017 00:41

Satgas Pangan Awasi Harga dan Distribusi Sembako

SANGATTA - Peringatan keras bagi agen atau pedagang pangan di wilayah hukum Kutai Timur yang berniat…

Jumat, 23 Juni 2017 00:39

WADUH!! Dari 643, Baru 45 Perusahaan Lapor Pembayaran THR

SANGATTA - Idealnya pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) wajib ditunaikan perusahaan H-20 sebelum …

Jumat, 23 Juni 2017 00:38

Terkait Rusaknya Pipa PDAM di Kaliorang, KPP sebut Miskomunikasi

SANGATTA – PT Kalimantan Prima Persada (KPP) membantah acuh terhadap kerusakan pipa air bersih…

Jumat, 23 Juni 2017 00:38

PDAM : Tak Mungkin Geser Pipa Induk

SANGATTA - Hingga saat ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tuah Benua, belum dapat mengambil…

Kamis, 22 Juni 2017 00:12

Satu Pelaku Perampokan Rp 1,1 Milliar Tertangkap

SANGATTA - Satu pelaku perampokan PT PT Multy Pasific Indonesia (MPI) di Kecamatan Karangan berhasil…

Kamis, 22 Juni 2017 00:11

Izin Pelabuhan Terbit Jika Pekerjaan Selesai, Tahap Awal hanya Izin Sementara

SANGATTA - Hasil pertemuan dengan Kementerian Perhubungan terkait masalah izin operasional Pelabuhan…

Kamis, 22 Juni 2017 00:09

Layani Pemudik, Diskes Sebar Posko Kesehatan

 SANGATTA - Untuk menjaga kesehatan masyarakat saat mudik dan balik lebaran, Dinas Kesehatan (Diskes)…

Kamis, 22 Juni 2017 00:09

RSUD Diminta Standby

SANGATTA- Bupati Kutim Ismunandar meminta kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga Sangatta untuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .