MANAGED BY:
JUMAT
18 AGUSTUS
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

SANGATTA POST

Minggu, 18 Juni 2017 00:13
Dampak Negatif Sawit Dikeluhkan Warga
Kasianto/Kabid Produksi Disbun (DHEDY/SANGATTA POST)

PROKAL.CO, SANGATTA-  Perkebunan kelapa sawit seringkali menimbulkan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan. Salah satu ancaman yang paling besar ialah eksistensi hutan di Indonesia, khususnya Kutim yang berpotensi mengalami kerusakan. Hal ini diungkapkan Azis, salah seorang petani  asal Desa Singa Gewe Kecamatan Sangsel.

Menurut Azis, perkebunan kelapa sawit menciptakan dampak negatif yang sangat luar biasa.  Dirinya menjabarkan, sedikitnya terdapat tujuh masalah yang ditimbulkan oleh sawit. 

Pertama, pada umumnya, budidaya kelapa sawit dilakukan dengan sistem monokultur. Hal ini dapat memicu hilangnya keragaman hayati dan kerentanan alam seperti kualitas lahan menurun, terjadinya erosi, serta merebaknya hama dan penyakit tanaman.

Kedua, kebanyakan kegiatan pembukaan lahan kelapa sawit dilakukan dengan metode tebang habis (land clearing) agar menghemat biaya dan waktu. Akibatnya makhluk hidup yang tinggal di dalamnya pun menjadi terganggu. Ketiga, kelapa sawit membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak mencapai 12 liter/pohon.

Kemudian yang keempat, proses pertumbuhan tanaman ini juga acapkali dirangsang memakai pestisida, zat fertilizer, dan bahan kimia lainnya.Kelima, kebun sawit pun dapat mengakibatkan kemunculan hama baru. Penyebab utamanya ialah karena penerapan sistem lahan monokulturasi.Keenam, aktivitas pembukaan kebun yang dikerjakan dengan membakar hutan menimbulkan polusi udara yang parah. Bahkan asap pencemaran ini bisa terbawa angin sampai ke negeri tetangga.

Ketujuh menimbulkan konflik, baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Misalnya konflik antar pekerja daerah dengan para pendatang, atau konflik antara pemilik kebun dengan perusahaan dan atau pemerintah setempat.

"Yang paling nyata dilihat ialah terjadinya pencemaran terhadap sungai. Perkebunan sawit juga menimbulnya bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Hal ini dikarenakan struktur tanah mengalami perubahan sehingga kondisinya menjadi labil," papar sarjana pertania tersebut. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Alfian didampingi Kepala Bidang Produksi, Kasianto cukup menafikan tudingan tersebut. Pasalnya tidak semua yang dituduhkan memiliki dasar yang tepat. Realitas dilapangan masyarakat berbondong-bondong menanam sawit. Jika hal ini merugikan maka niscaya akan ditinggalkan. 

"Contoh kasus dulu seperti jarak. Banyak masyarakat yang tanam. Tetapi karena tidak menguntungkan, maka langsung ditinggalkan. Tetapi sawit, enggak ada hentinya. Itu berarti sawit diterima dan membawa dampak positif bagi masyarakat," ujar Kasianto. 

Tidak hanya dimasyarakat Kutim saja, keberadaan sawit diakui dunia. Siapapun menerima sawit. Itu karena sawit memberikan perubahan besar bagi perekonomian masyarakat. 

"Adapun tudingan lahan pertanian semakin sempit, itu benar.  Itu semua karena lajunya perkebunan kelapa sawit. Warga menentukan pilihan untuk beralih ke sawit. Kami tidak bisa memaksakan hal itu. Bahkan di Malaysia perkebunan coklat diganti ke sawit," katanya. 

Jika diteliti lebih mendalam, sawit memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Pertama, meningkatkan pembangunan di daerah. Paling mencolok adalah dibangunnya akses jalan dari perkebunan ke pusat kota yang juga bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Kemudian, pendapatan per kapita daerah semakin naik. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya kebutuhan tenaga yang diperlukan oleh suatu perkebunan kelapa sawit, dan untuk menjaga kesehatan serta kesejahteraan para pekerja, seringkali pihak perkebunan juga mendirikan pusat layanan kesehatan dan pendidikan terpadu. Walaupun kualitasnya masih di bawah standar, setidaknya fasilitas tersebut cukup berguna bagi warga sekitar.

"Memang ada dampak negatifnya, tetapi tidak bijak jika dikesampingkan dampak positifnya," ungkap Alfian. (dy)


BACA JUGA

Kamis, 17 Agustus 2017 00:05

Permen Tengkorak Tak Berlabel Halal, Harusnya Dilarang Edar

 SANGATTA - Ada masalah lain yang menjerat permen tengkorak. Yakni tidak berlabel halal. Padahal,…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:04

Nelayan Masih Butuh Fasilitas Tangkap, Bupati Minta DKP Pilah Usulan Prioritas

SANGATTA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kutai Timur (DKP Kutim) Nur Ali mengakui, pihaknya banyak…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:03

Semua Pasar Pemerintah Punya Izin Lingkungan

SANGATTA - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kutai Timur, Irawansyah memastikan jika semua pasar milik…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:02

Sangkulirang Rock Art, Masih Dipuncak

SANGATTA - Memasuki minggu ke-11 vote polling Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017, Sangkulirang Rock…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:02

Hari ini Gerakan 171717 Digelar

 SANGATTA - Masyarakat Indonesia termasuk Kutim diminta untuk meluangkan sedikit waktunya tepat…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:01

Bupati Kukuhkan Paskibra Kutim 2017

SANGATTA- Suasana khidmat menyelimuti rangkaian kegiatan upacara pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:00

Pejabat Pemkab Dengarkan Pidato Presiden RI

SANGATTA- Sesuai agenda, seluruh pejabat lingkup Pemkab Kutim, mulai dari Bupati Kutim Ismunandar, Wabup…

Kamis, 17 Agustus 2017 00:00

Meriahkan HUT RI ke-72, Pemkab Gelar Panggung Hiburan

SANGATTA- Dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-72, Pemkab…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:17

BEJAT!!! Ayah 'Garap' Anak Tiri

SANGATTA - Bi memang tidak pantas disebut ayah. Pasalnya, pelaku tega mencabuli anak tirinya sebut saja…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:16

Penyegelan Dicabut, Permen Kembali Legal

PERMEN tengkorak kembali dilegalkan pasca keluarnya hasil uji laboratorium Balai POM Samarinda. …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .