MANAGED BY:
SELASA
17 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

SANGATTA POST

Minggu, 18 Juni 2017 00:13
Dampak Negatif Sawit Dikeluhkan Warga
Kasianto/Kabid Produksi Disbun (DHEDY/SANGATTA POST)

PROKAL.CO, SANGATTA-  Perkebunan kelapa sawit seringkali menimbulkan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan. Salah satu ancaman yang paling besar ialah eksistensi hutan di Indonesia, khususnya Kutim yang berpotensi mengalami kerusakan. Hal ini diungkapkan Azis, salah seorang petani  asal Desa Singa Gewe Kecamatan Sangsel.

Menurut Azis, perkebunan kelapa sawit menciptakan dampak negatif yang sangat luar biasa.  Dirinya menjabarkan, sedikitnya terdapat tujuh masalah yang ditimbulkan oleh sawit. 

Pertama, pada umumnya, budidaya kelapa sawit dilakukan dengan sistem monokultur. Hal ini dapat memicu hilangnya keragaman hayati dan kerentanan alam seperti kualitas lahan menurun, terjadinya erosi, serta merebaknya hama dan penyakit tanaman.

Kedua, kebanyakan kegiatan pembukaan lahan kelapa sawit dilakukan dengan metode tebang habis (land clearing) agar menghemat biaya dan waktu. Akibatnya makhluk hidup yang tinggal di dalamnya pun menjadi terganggu. Ketiga, kelapa sawit membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak mencapai 12 liter/pohon.

Kemudian yang keempat, proses pertumbuhan tanaman ini juga acapkali dirangsang memakai pestisida, zat fertilizer, dan bahan kimia lainnya.Kelima, kebun sawit pun dapat mengakibatkan kemunculan hama baru. Penyebab utamanya ialah karena penerapan sistem lahan monokulturasi.Keenam, aktivitas pembukaan kebun yang dikerjakan dengan membakar hutan menimbulkan polusi udara yang parah. Bahkan asap pencemaran ini bisa terbawa angin sampai ke negeri tetangga.

Ketujuh menimbulkan konflik, baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Misalnya konflik antar pekerja daerah dengan para pendatang, atau konflik antara pemilik kebun dengan perusahaan dan atau pemerintah setempat.

"Yang paling nyata dilihat ialah terjadinya pencemaran terhadap sungai. Perkebunan sawit juga menimbulnya bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Hal ini dikarenakan struktur tanah mengalami perubahan sehingga kondisinya menjadi labil," papar sarjana pertania tersebut. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Alfian didampingi Kepala Bidang Produksi, Kasianto cukup menafikan tudingan tersebut. Pasalnya tidak semua yang dituduhkan memiliki dasar yang tepat. Realitas dilapangan masyarakat berbondong-bondong menanam sawit. Jika hal ini merugikan maka niscaya akan ditinggalkan. 

"Contoh kasus dulu seperti jarak. Banyak masyarakat yang tanam. Tetapi karena tidak menguntungkan, maka langsung ditinggalkan. Tetapi sawit, enggak ada hentinya. Itu berarti sawit diterima dan membawa dampak positif bagi masyarakat," ujar Kasianto. 

Tidak hanya dimasyarakat Kutim saja, keberadaan sawit diakui dunia. Siapapun menerima sawit. Itu karena sawit memberikan perubahan besar bagi perekonomian masyarakat. 

"Adapun tudingan lahan pertanian semakin sempit, itu benar.  Itu semua karena lajunya perkebunan kelapa sawit. Warga menentukan pilihan untuk beralih ke sawit. Kami tidak bisa memaksakan hal itu. Bahkan di Malaysia perkebunan coklat diganti ke sawit," katanya. 

Jika diteliti lebih mendalam, sawit memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Pertama, meningkatkan pembangunan di daerah. Paling mencolok adalah dibangunnya akses jalan dari perkebunan ke pusat kota yang juga bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Kemudian, pendapatan per kapita daerah semakin naik. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya kebutuhan tenaga yang diperlukan oleh suatu perkebunan kelapa sawit, dan untuk menjaga kesehatan serta kesejahteraan para pekerja, seringkali pihak perkebunan juga mendirikan pusat layanan kesehatan dan pendidikan terpadu. Walaupun kualitasnya masih di bawah standar, setidaknya fasilitas tersebut cukup berguna bagi warga sekitar.

"Memang ada dampak negatifnya, tetapi tidak bijak jika dikesampingkan dampak positifnya," ungkap Alfian. (dy)


BACA JUGA

Senin, 16 Oktober 2017 17:03

Hanura Intai Calon Kuat

SANGATTA - Sampai saat ini Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) belum menentukan sikap terkait Pemilihan…

Minggu, 15 Oktober 2017 19:06

108 Calon Panwascam Lolos Tes Tulis

SANGATTA - Usai memeriksa perlengkapan berkas, Panwaslu Kabupaten kembali menguji peserta untuk mengikuti…

Minggu, 15 Oktober 2017 18:59

Tiga Buaya Monster Huni Folder

SANGATTA - Masyarakat Kutim khususnya Sangatta diminta untuk berhati hati pada saat berwisata di Folder…

Minggu, 15 Oktober 2017 18:54

Pemkab Buka Aplikasi Pelaporan

SANGATTA- Semua kinerja pemerintah bisa dipantau langsung oleh masyarakat. Jika tak sesuai, masyarakat…

Minggu, 15 Oktober 2017 18:51

Wabup Minta Segera Diperbaiki

SANGATTA - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Kasmidi Bulang meminta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:09

Taklukkan Cuaca Kutim Ekstrim, 12 Penerjun Unjuk Kebolehan

SANGATTA - Ditengah kondisi cuaca yang ektrim, sebanyak 12 penerjun yang berasal dari Batalion Intai…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:08

Dampak Defisit, Anggaran OPD Dipangkas 30 Persen

SANGATTA - Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Irawansyah menyakinkan meski tahun depan…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:08

6 Rumah di Long Masangat Direndam Banjir

SANGATTA - Hujan deras yang mengguyur Kutim mengakibatkan satu kecamatan direndam banjir. Ialah Kecamatan…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:07

Ayah Cabul 'Dibui' 14 Tahun

SANGATTA - Nasib, AF ayah kandung yang tega mencabuli anak kandungnya hingga melahirkan anak, akhirnya…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:06

WADUH!!! Gas Melon Dibawa ke Pedalaman karena Harga Lebih Tinggi

SANGATTA - Tampaknya pemerintah belum mampu mengatasi masalah kelangkaan elpiji di Kutim. Pasalnya dari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .