MANAGED BY:
RABU
20 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Kamis, 22 Juni 2017 00:01
Berdakwah dengan Pendekatan Budaya di Italia
Dok Pribadi

PROKAL.CO, Oleh:

H. Khumaini Rosadi, SQ., M.Pd.I

Dai Ambassador Cordofa 2017

ROMA -  “Dakwahkan Islam di luar negeri dengan pendekatan budaya,” ujar Parni Hadi, pendiri dan ketua dewan pembina Dompet Dhuafa, berpesan kepada kami, Dai Ambassador Cordofa 2017, setelah selesai memerankan tokoh sunan kalijaga, pada pementasan seni ketoprak, 21 Mei 2017 lalu di Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo, Ciputat,Banten.

“Sebagaimana dulu Islam masuk ke Indonesia dengan santun, damai, dan tidak saling menyalahkan. Islam berkembang dengan adaptasi. Penyesuaian budaya namun tetap menjaga etika. tetap menghormati ajaran pendahulunya dan membenarkannya secara perlahan,” ujar Parni Hadi.

Sejarah walisongo patut menjadi referensi berdakwah bagi para dai. Baik di dalam negeri apalagi di luar negeri. Budaya saling menghargai satu sama lain untuk menciptkan toleransi sangat dianjurkan dalam Islam. Selama tidak berlebihan. Selama ada batasan. Bila berkaitan dengan masalah sosial dan kebangsaan, wajib bertoleransi. Tetapi jika sudah menyentuh ranah aqidah dan ibadah, maka tidak boleh ditoleransi. Ini prinsip.

Sunan kalijaga contohnya. Menerapkan model dakwah dengan pendekatn budaya, yaitu dengan melalui lagu dan wayang. Kita mengenal lagu ilir-ilir, itu ciptaan sunan kalijaga. Wayang dengan tiket masuk nontonnya membaca Kalimosodo, artinya dua kalimat syahadat. Dan di dalamnya ada peran tokoh lakon Yudhistitira, bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Itu semua digambarkan sebagai Rukun Islam. Dua kalimat Syahadat – Yudhistira. Sholat – Bima. Puasa – Arjuna. Zakat – Nakula. Haji - Sadewa.

Begitu indah cara dan model walisongo menyebarkan Islam. Pengajarannya disampaikan dengan santun, tidak serta merta langsung menyalahkan, dan tidak langsung menghilangkan tradisi lama yang sudah turun temurun. Pendidikannya disampaikan secara pelan-pelan tapi pasti.Slowly but sure.

Sebagaimana kisah Rasulullah menenangkan orang Baduy yang buang air kecil di masjid, sedangkan ada sahabat yang ingin memarahinya. Tetapi Rasulullah katakan biarkan sampai habis dulu air seninya, jangan dikejutkan sehingga berantakan atau berceceran ke mana-mana. Bila sudah selesai, nanti tinggal disiram dengan air, baru diberikan nasihat bahwa ini masjid, suci. Tidak boleh sembarangan buang air kecil. Subhanallah. Begitu santun ajaran Islam. Ini budaya Islam, saling mengingatkan.

Contoh lain, ketika Rasulullah berhadapan setiap pagi dengan nenek-nenek buta yang selalu berteriak, jangan dekati Muhammad! Jangan percaya Muhammad! dan menuduhkan tuduhan-tuduhan yang tidak baik kepada Rasulullah. Padahal Rasulullah ada di depannya. Dengan santunnya Rasulullah menyuapinya setiap pagi dan menyembunyikan identitasnya. Setelah beliau wafat, dan sunnah ini diteruskan oleh Abu Bakar Shiddiq, barulah si nenek tahu dari keterangan Abu Bakar ternyata yang biasa menyuapinya setiap pagi adalah Muhammad, terkejut bukan kepalang. Lantas seketika itu juga di hadapan Abu Bakar, nenek tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat. Subhanallah. Budaya santun yang baik sekali. Ini Islam. Akhlak Rasulullah yang begitu mulia.

Sebagaimana Allah mengharamkan Khamr dan Judi secara perlahan.Tersebut dalam alquran, proses pengharaman Khamr dan judi secara Pelan-pelan, tidak langsung memvonis haram. Disampaikan dulu perbandingan halal dan haram, lalu dijelaskan manfaat dan mudlaratnya, yang ternyata mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya, lalu disampaikan tidak boleh sholat dalam keadaan mabuk, padahal sholat adalah cara mendekatkan diri dengan Allah, baru tahapan akhir dijelaskan bahwa Khamr dan judi hukumny haram. Sampai empat kali tahapan, Khamr dan judi baru diharamkan secara jelas.Bertahap-tahap pengharamannya, karena tradisi khamr dan judi pada saat itu sudah menjadi budaya tidak baik pada zaman itu.

Menjadi seorang dai harus mampu menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya. Bukan hanya di dalam negeri. Tetapi di luar negeri pun mengenalkan Islam harus dengan pendekatan budaya. Tentunya budaya yang baik. Budaya Indonesia yang santun. Budaya Islam yang mencerahkan. Budaya saling sapa ketika beretemu. Budaya saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain. Budaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Indahnya Islam, disebarkan melalui kesantunan Budaya.

Saya berdakwah di Italia, khususnya di kota Roma, juga dengan pendekatan budaya. Budaya saling bersalaman ketika bertemu. Budaya berdzikir bersama setelah sholat. Budaya membaca sholawat sebelum dan sesudah sholat dan kajian. Semua jamaah senang, terlihat bahagia. Indahnya budaya Islam. Indahnya budaya Indonesia.(***)


BACA JUGA

Rabu, 20 September 2017 00:55

Bantu Perawat Meminimalkan Medication Error

Pelayanan keperawatan merupakan bagian terbesar dari pelayanan kesehatan. Meningkatkan mutu pelayanan…

Sabtu, 16 September 2017 00:26

Duka Rohingya, Duka Kita Juga

Oleh: Wardatil Hayati, S.Pd Pengajar  Aliansi Bontang Peduli, Ikatan Pemuda Baiturrahman (Idaman)…

Sabtu, 02 September 2017 00:12

Solusi Pembantaian Muslim Rohingya, Perlu Tindakan Nyata

Penulis:  Nurul Inayah, SEI Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang  Konflik berdarah…

Rabu, 30 Agustus 2017 00:05

Jangan Biarkan Bangsaku Krisis Arsip di Era Kemerdekaan

Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi setiap manusia. Inilah yang selalu didengungkan, sekaligus…

Minggu, 27 Agustus 2017 00:09

Permasalahan Kulit dan Jagal

Penulis: Ust Habib Alma'ruf Mubalig Muhammadiyah  Status panitia maupun tukang jagal dalam pengurusan…

Jumat, 25 Agustus 2017 00:25

Qurban Jangan Kau Tinggalkan, Itu Ada di Al-Qur’an dan Sunnah !

Allah telah mengingatkan kita tentang ni’mat-ni’mat yang Allah karuniakan kepada seorang…

Selasa, 22 Agustus 2017 00:12

Karena Ayahku Seorang Veteran

Oleh: Muthi' Masfu'ah 'Ma'ruf' Amd (Ketua Gagas Citra Media dan Rumah Kreatif Salsabila)  Alhamdulillah,…

Jumat, 04 Agustus 2017 00:13

Apa Realisasi Pemerintah Jalankan Program Terkait Visi Misi ?

Bangga rasanya menjadi seorang putra daerah di salah satu kota kecil di Kalimantan timur. Lahir, besar…

Minggu, 23 Juli 2017 00:09

Meneguhkan Perjuangan Dakwah

oleh : Bambang Al-Fatih (Ketua BEM STIT-SYAM) Kita semua tahu, dalam menapaki perjuangan dibutuhkan…

Jumat, 07 Juli 2017 00:12

Ramadan Berlalu Raih Derajat Taqwa

Oleh: Drs. H. Syafruddin Syam, M.AP Ketua PD Muhammadiyah Kutai Timur DI tengah suasana idul fitri pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .