MANAGED BY:
KAMIS
18 JANUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

BONTANG

Sabtu, 19 Agustus 2017 00:51
Terpidana Kasus Pengadaan Layanan Internet 2012 Dieksekusi

Terpidana Kasus Pengadaan Layanan Internet 2012

DITAHAN: Plt Kajari Bontang (kanan) bersama Kasi Pidsus Novita (kiri) saat berhasil menangkap terpidana tipikor pengadaan layanan internet di Pemkot Bontang, Laila Erika (kerudung ungu) sebelum dikurung di Lapas Klas II A, Samarinda, Jumat (18/8) kemarin. (ist)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Rumah dua lantai Blok ES di Kompleks Citra Garden City bercat abu-abu dengan pagar setinggi 1,5 meter jadi perhatian warga sekitar, kemarin (18/8). Polisi berseragam lengkap mendampingi petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Bontang bertandang ke kediaman Erika. Perempuan 33 tahun yang merupakan terpidana kasus korupsi pengadaan layanan internet pada 2012 silam.

Dia dijemput paksa setelah sebelumnya ditetapkan tahanan rumah sejak Februari lalu. Bersama Plt Kepala Kejari Bontang Agus Kurniawan, Erika dijemput paksa dan dijebloskan ke Lapas Klas IIA Sudirman, Samarinda.

Erika terbukti punya andil besar dalam mengeruk negara untuk memperkaya diri. Kasus korupsi itu sudah pernah disidangkan pada pertengahan Juni 2016 dengan menyeret Syamsuddin Nonci, mantan kabag Evaluasi Pembangunan Setkot Bontang, ke meja hijau.

Pria yang sempat masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejari Bontang selama 11 bulan itu diringkus tim kejaksaan di daerah Tangerang. Dalam proses sidangnya, Nonci pasrah saat divonis 14 bulan penjara. “Tersangka sebelumnya bahkan sudah rampung menjalani hukuman,” ujar Agus. Kasus yang turut menyeret Erika itu adalah pengadaan layanan internet pada 2012 di lingkungan Pemkot Bontang dengan nilai proyek Rp 1,2 miliar.

Kasus yang disidik sejak 2015 itu diakui tim Kejari Bontang berawal dari adanya laporan masyarakat. “Dari itu, tim masuk dan mulai menyelidiki dan ternyata benar,” ujar Agus. Nah, kasusnya mulai menguak nama Nonci. Setelah pemeriksaan Nonci rampung, baru Kejari Bontang mengembangkan kasusnya kepada Erika.

Proyek yang dianggap ada penyelewengan dan ada indikasi kerja sama antara Erika selaku kontraktor pemenang lelang dari CV Indokarya Sakti dengan Nonci. Erika sebelumnya sangat kooperatif dengan mengikuti pemeriksaan di kejaksaan Bontang. Dari kasus itu, negara merugi senilai Rp 422.332.200.

Diketahui, Nonci sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bidang Evaluasi Pembangunan Setkot Bontang ditunjuk wali kota Bontang. Atas penunjukan itu, Nonci kemudian menyusun kerangka acuan kerja (KAK) dan harga perkiraan sendiri (HPS). Kajian teknis pun dilakukan. Tak lama kemudian, surat penawaran dikeluarkan. Tapi, hal itu rupanya hanya modus. Di situ permainan antara Erika dan Nonci berjalan mulus.

Dalam perjalanannya, HPS dibuat berdasar penawaran yang dilakukan calon pemenang lelang tanpa melakukan survei ke PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT Telkom), sebagai penyedia layanan internet di Bontang. Lalu, dalam pelaksanaan di lapangan kontraktor pemenang lelang, yakni CV Indokarya Sakti, telah menyerahkan pekerjaan tersebut kepada pihak ketiga.

Padahal, seharusnya pengadaan jasa layanan internet tidak perlu dilelang karena penyediaannya hanya Telkom. Tak hanya itu, pengadaan layanan internet di lingkup Pemkot Bontang ditengarai terjadinya monopoli. Rekanan yang mengikuti lelang masih satu induk dengan perusahaan.

Bahwa setelah CV Indokarya Sakti selesai seratus persen melakukan pekerjaan sesuai kontrak dengan Pemkot Bontang. Kemudian, CV Indokarya Sakti melakukan penagihan pembayaran melalui dua termin. Namun, pada kenyataannya, PT Telkomlah yang melakukan pekerjaan seperti pada surat perjanjian antara Pemkot Bontang dan CV Indokarya Sakti.

TAHANAN RUMAH DICABUT

Nama Erika memang tak banyak yang mengetahui. IRT yang dikenal tertutup dengan warga itu nyaris tak pernah bercengkerama di lingkungan tempat tinggalnya. Ibu satu anak itu menyandang status tahanan rumah sejatinya sejak Desember 2016. Namun, surat keputusannya baru keluar Februari lalu. Suratnya diperpanjang hingga 12 Mei 2017. Seiring berjalannya waktu, Erika divonis bersalah dan dihukum 14 bulan penjara. “Vonisnya tanggal 5 Juni dan tidak mengajukan banding,” sebut Agus.

Lantas, mengapa tak ditahan. Agus menjelaskan, ada rasa kemanusiaan karena yang bersangkutan masih harus memberikan asupan air susu ibu (ASI) ke anaknya yang lahir setahun lalu. Selama menjalani pemeriksaan di Bontang, di hadapan penyidik kejaksaan, Erika kerap mengeluarkan air mata. “Kami menjalankan eksekusi, karena itu prosedur,” ujar Agus.

Pun demikian dengan penjemputan Erika kemarin. Petugas kejaksaan yang sudah ada di kediaman terpidana sejak pukul 17.00 Wita itu setidaknya harus menunggu tiga jam untuk membawanya ke pemasyarakatan. Nah, dengan dijemputnya Erika kemarin petang, status tahanan rumahnya tentu dicabut.

Kepada penyidik kejaksaan, Erika sejatinya sudah mengembalikan kerugian negara yang sempat dirasakannya. Namun, iktikad baik itu tak menguburkan perkara yang menyeretnya. Kini Erika sudah di Lapas Sudirman Klas IIA Samarinda dan menjalani sisa masa hukumannya.

Selama penjemputan paksa itu, media ini yang secara eksklusif berada di kediaman Erika yang sempat dilarang bertugas oleh suaminya. Media ini hanya diperbolehkan sampai di pekarangan rumah terpidana kasus korupsi itu. Selama pelimpahan ke Lapas Sudirman, Erika tampak berkaca-kaca dan mendekap buah hatinya.

Prosesnya selesai sekitar pukul 20.30 Wita setelah anak dan suaminya mengendarai mobil pribadi mengantarkan Erika ke depan lapas. Erika harus melanjutkan sisa hukumannya di balik teralis besi. (*/dra/rom/k8/bbg)


BACA JUGA

Rabu, 17 Januari 2018 00:25

Harga Beras Naik, Pedagang Diprotes IRT dan Pemilik Warung Makan

Kalangan Ibu Rumah Tangga (IRT) dan para pedagang-pedagang rumah makan ikut merasakan dampak dari naiknya…

Rabu, 17 Januari 2018 00:24

Beras Naik, Pedagang Menjerit

BONTANG – Kenaikan harga beras yang terjadi dalam sebulan terakhir telah membuat limbung bukan…

Rabu, 17 Januari 2018 00:23

Wacana Ganti Warna Plat Nopol

BONTANG – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri berencana mengganti warna pelat kendaraan…

Rabu, 17 Januari 2018 00:22

Cegah Aksi Penyuapan, Pengadilan Negeri Bontang Luncurkan Aplikasi PTSP dan e-SKUM

BONTANG – Inovasi dilakukan oleh Pengadilan Negeri (PN) Kota Bontang berkaitan dengan segi pelayanan.…

Rabu, 17 Januari 2018 00:21

2018, Jumlah TPS Berkurang

BONTANG – Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) di Bontang pada Pilkada serentak 2018 ini akan…

Selasa, 16 Januari 2018 00:20

Sengkarut “Pindah Tangan” Yayasan Stitek

AKHIR-AKHIR ini, Sekolah Tinggi Teknologi (Stitek) Bontang diperhadapkan prahara perubahan struktur…

Selasa, 16 Januari 2018 00:18

Soal STITEK Dewan Lakukan Investigasi

KETUA Komisi I DPRD Bontang Agus Haris mengaku tidak akan terlalu masuk ke dalam permasalahan kepengurusan…

Selasa, 16 Januari 2018 00:15

Polemik STITEK Berdampak ke Mahasiswa

“Intinya dari yayasan terkesan tertutup dan tidak transparansi ke mahasiswa,” Ketua Badan…

Selasa, 16 Januari 2018 00:14

Yayasan Lama Tidak Transparan Soal Anggaran

TIDAK transparansinya pengelolaan Stitek pada struktur yayasan lama, membuat beberapa pihak menduga…

Senin, 15 Januari 2018 19:24

Bontang Siap UNBK SMP

BONTANG – Tahun ini, siswa kelas 3 SMP se-Bontang akan melaksanakan  UJian Nasional Berbasis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .