MANAGED BY:
KAMIS
18 JANUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Selasa, 22 Agustus 2017 00:12
Karena Ayahku Seorang Veteran
Muthi' Masfu'ah 'Ma'ruf' Amd

PROKAL.CO, class="m-4519087463995203579p1">Oleh:

Muthi' Masfu'ah 'Ma'ruf' Amd

(Ketua Gagas Citra Media dan Rumah Kreatif Salsabila) 

Alhamdulillah, usia kemerdekaan kita mencapai 72 tahun. Kita sendiri merasakan bagaimana semaraknya masyarakat menyambut Pesta Kemerdekaan di seluruh penjuru bangsa ini... Tak terkecuali di tanah air, warganegara Indonesia di luar negeri pun turut meramaikannya... 'Melupakan' sejenak problem bangsa yang kian menggunung...

Mengingat betapa berat perjuangan mereka mempertahankan bangsa ini, tak terhitung banyaknya korban yang gugur karena mempertahankan kemerdekaan. Menunjukkan betapa kejamnya kolonialisme dan imperialisme dengan nafsu jajahannya. Karena itulah para pendiri Republik dalam Pembukaan UUD 1945 merumuskan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Ikrar tersebut sejalan dengan prinsip dan ajaran Islam yang mengutuk segala macam bentuk penjajahan dan penindasan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain. Islam juga menegaskan: kemerdekaan merupakan hak bagi setiap bangsa. Karena itulah begitu Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, banyak kyai dan tokoh agama melalui pesantren dan masjid-masjid menyerukan jihad untuk membela Tanah Air dan mempertahankan kemerdekaan.

''Hanya bangsa yang besar yang menghormati jasa pahlawannya'', demikian ungkapan patriotik yang dimaksudkan agar kita tetap mengenang pejuang kemerdekaan. Islam malah memberikan penilaian yang sangat tinggi kepada mereka. Dalam surah Ali Imran Ayat 169 Allah berfirman: ''Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup terus di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki.'' Subhanallah...

Bila memasuki Bulan Agustus saya selalu mengingat sosok ayah yang begitu menginspirasi... Berikut ada pula beberapa tokoh pahlawan kita yang menginspirasi untuk bahan renungan kita bersama, betapa bangsa kita merdeka adalah Rahmat Allah SWT juga usaha perjuangan mereka... Walaupun tidak semua saya paparkan disini... Semoga kita dapat belajar dari sosok-sosok pejuang bangsa kita... 

Ayahku seorang Veteran yang mengajarkan kejujuran dan kerja keras, sikap jujur, pantang berbohong dan kerja keras, selalu ayah tanamkan kepada tiga putrinya sejak kami masih kecil. Termasuk juga membiasakan bangun waktu subuh hari, bila kami terlambat bunyi tendangan pintu kamarpun terdengar...

Ayah memang mendidik kami sangat tegas dan disiplin, sholat terlambat pun sangat pantang bagi ayah, mungkin karena ayah terbiasa saat berjuang dahulu... Ayah adalah Pejuang Veteran RI asal Blitar, berjuang mempertahankan RI di bawah komando Sukarno... Bersama beberapa temannya, ayah dibuang ke hutan Kalimantan Timur oleh penjajah saat itu. Mendengar cerita perjuangan ayah tentu sangat luar biasa, bagaimana hidup di hutan lebat Kalimantan bersama beberapa teman tanpa bekal apapun. Dari cerita duka perjuangan, hal-hal gaib yang ditemui dilalui bersama. 

Walau mata ayah hanya satu yang dapat melihat, karena satu matanya buta karena terkena peluru zaman Belanda dahulu, tapi ayah jago sekali menggambar termasuk mengajariku sejak kecil cara menggambar yang baik... Sosok ayah yang religi, tegas serta sabar sangat lekat dalam ingatan kami putri-putrinya... 

Hingga di era kemerdekaan hidup ayah berkecukupan karena ayah memiliki banyak keahlian sementara tak sedikit teman seperjuangan ayah yang hidup masih memprihatinkan...

Mohammad Hatta yang memiliki kepedulian pada saudara sebangsa.

Sosoknya terkenal cerdas dan sederhana, menggemari buku. Sangat tertib berbahasa Indonesia. Itulah Mohammad Hatta. Pejuang Indonesia yang melewati saat-saat susah dengan kesederhaan dan semangat juang tinggi. Meski dihormati banyak kalangan, Hatta bukan jenis orang haus pujian. Bukan pula, beliau jenis orang yang melupakan teman. Apalagi suka memakan teman.

Dalam penjara, Hatta mendapat jatah logistik seperti tahanan lain.

Jatah logistiknya antara lain ikan asin dan minyak goreng. Setiap hari, Hatta menjemur ikan asinnya. Ketika ditanya, beliau menjawab agar ikan itu lebih kering dan cepat masak ketika digoreng. Tidak memakan minyak banyak. Di akhir bulan, minyak goreng sisa yang disimpan Hatta dari hasilnya berhemat, dijual kepada sipir. Hatta senang sekali mendapat uang tersebut. Buat apa?

Buat tiga keperluan: beli buku, beli perangko dan membantu keluarga-keluarga para janda-yatim yang ayahnya wafat atau ayahnya juga dipenjara.

Bayangkan! Beliau sendiri di penjara! Beliau sendiri butuh bantuan, butuh banyak uang, butuh sokongan dana hidup. Namun perhatiannya pada teman-teman seperjuangan sunggu luar biasa.

Ah, andai Hatta tahu, sekarang ada slogan: teman makan teman. Saat susah teman seperjuangan. Saat senang, teman ditinggalkan, bahkan dikhianati...

Habib Husin Al Muthohar, pencipta lagu 17 Agustus

Muthohar Lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. Beliau orang kepercayaan sekaligus "Supir" pribadi Bung Karno Saat perang. Beliau lah pencipta lagu 17 Agustus, lagu Syukur dan lain sebagainya. 

Muthohar juga Pendiri Gerakan Pramuka, Pejuang “Pertempuran Lima Hari” Semarang, Pengawal Bung Karno saat haji, Orang yg di percaya Bung Karno untuk menyelamatkan Bendera Pusaka saat Belanda  melumpuhkan Yogyakarta pada 1948. dan Muthohar lolos dari pemeriksaan ketat tentara Belanda. Beliau pernah menjadi Duta Besar RI di Takhta Suci Vatikan, menjadi Penerima anugerah Bintang Gerilya, Penerima Bintang Mahaputra dan masih banyak prestasi beliau.

Masyarakat luas tak perlu tahu kalau beliau adalah seorang habib, karena beliau merasa manusia umumnya manusia, sehingga selama ini hanya disebutkan H. Muthohar. Beliau Meninggal dunia Rabu petang 9 Juni 2004, pukul 16.30, dua bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-88.  Beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam.

Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Tetapi, beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau.

Kesederhanaan Muhammad Natsir

Natsir pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan dan Perdana menteri Indonesia di era Soekarno. Kesederhanaan hidup beliau benar-benar membuat orang geleng-geleng kepala. Beliau mungkin, satu-satunya PM Indonesia yang punya jas bertambal-tambal. Baginya, jas tak perlu baru dan bermerek. Selama yang lama masih ada dan cukup pantas dipakai rapat –meski bertambal-tambal- tak perlu beli yang baru.

Suatu ketika, anak-anak Natsir senang sekali. Mobil dinas DeSoto yang sudah kusam, yang dipakai bekerja dan sesekali dipakai acara keluarga; akan diganti dengan mobil Impala merek baru. Anak-anak Natsir yang merasakan duka derita hidup sebagai anak pejabat serba kekurangan, ingin punya mobil baru. Toh itu bantuan dari seorang teman. Tapi anak-anak beliau gigit jari. Sebab Natsir menolak pemberian itu.

Nasehat Natsir kepada anak-anaknya sungguh mulia.

“Cukupkan dengan yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat.”

MasyaAllah Allah... Duhai, andai semua pejabat negara seperti Natsir... (Dari berbagai sumber). (*)


BACA JUGA

Jumat, 08 Desember 2017 00:38

Pentingnya MCU bagi Karyawan

Penulis: Dr Yunita Kabid Pelayanan RS Amalia   Medical Check Up (MCU) adalah pemeriksaan kesehatan…

Jumat, 01 Desember 2017 01:06

Fokus COP23: Tekan Jumlah Emisi Berarti Menekan Gas Rumah Kaca

Efek rumah kaca yang menjadi pokok utama bahasan pertemuan COP23 tidak lepas dari kacamata Sofyan Hasdam…

Rabu, 29 November 2017 01:08

Catatan dr H Sofyan Hasdam Sps, Tentang COP23 di Bonn, Jerman (1)

Berkesempatan mengikuti pertemuan Conference of The Parties(COP) to The United Nations Framework Convention…

Rabu, 29 November 2017 01:04

Banjir Kota Bontang sebagai Bahan Refleksi Implementasi Pendidikan Lingkungan

Oleh:  Suyanik, M.Pd Guru SMAN 1 Bontang Jl. DI Panjaitan Gg Piano 11 No  59 Bontang …

Selasa, 31 Oktober 2017 16:54

Peran Pendidikan Pemuda Sebagai Agen of Change

Oleh : Yakub Fadillah, S.IP Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan DPD KNPI Kutai Timur.  …

Sabtu, 28 Oktober 2017 00:25

Cadar (Niqob) dan Dunia Pendidikan

Oleh: Siti Munawarah, SE  Sungguh miris dan arogan, mungkin itu kalimat yang pantas menggambarkan…

Senin, 16 Oktober 2017 17:30

Kaum LGBT Makin Berani

Belum hilang dari benak, ratusan pria yang ditangkap saat penggerebekan pesta seks gay  di Kompleks…

Minggu, 15 Oktober 2017 18:45

Kaum LGBT Makin Berani

Belum hilang dari benak, ratusan pria yang ditangkap saat penggerebekan pesta seks gay  di Kompleks…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:11

LPG Untuk Rakyat

Penulis: Fatma Karyawan Swasta Indonesia adalah Negara kepulauan, sering disebut surga kecil dunia.…

Minggu, 08 Oktober 2017 00:14

Perilaku Seks Bebas di Kalangan Remaja

Oleh: Purwanti Rahayu Ibu Rumah Tangga Masa remaja adalah masa dimana seseorang harus menghadapi tekanan-tekanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .