MANAGED BY:
KAMIS
18 JANUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

BONTANG

Kamis, 14 September 2017 00:35
Pajak Walet Dianggap Memberatkan Pengusaha
Ilustrasi

PROKAL.CO, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Sarang Burung Walet Thalib mengatakan, pungutan pajak dianggap memberatkan pengusaha sarang burung walet. Kebijakan tersebut dinilai belum waktunya untuk diterapkan, sebab kondisi usaha bisnis sarang burung walet sedang pasang surut. Apalagi, musim kemarau selama setahun pada 2016  lalu membuat mereka gagal panen.

Diakui pihaknya, belum banyak mengetahui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010 tentang pajak daerah yang di dalamnya juga mengatur tentang pajak sarang burung walet. Saat proses penggodokan Perda tersebut, pihaknya mengusulkan agar besaran tarif pungutan pajak adalah 2,5 persen, sementara dewan kukuh tarif pajak 10 persen, jika mengacu pada Undang-Undang No 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

“Tapi dari dewan tidak menggubris dan menerima. Akhirnya terus berlanjut sampai diketuk (disahkan, Red),” ungkapnya, Rabu (13/9) saat mengikuti sosialisasi pungutan pajak sarang burung walet.

Menurut dia, belum waktunya Pemkot melakukan pungutan, sebab tak sedikit pengusaha yang masih memiliki tanggungan untuk membayar pinjaman selama menjalankan usaha tersebut. Terlebih untuk skala pengusaha walet, di Bontang hanya sebagian yang boleh dikata berhasil, selebihnya nihil. Lantas jika mereka dibebankan pembayaran pajak, pihaknya sangsi akan bisa membayar.

“Karena hasilnya tidak ada, untuk bayarnya kami bisa keteter. Alangkah bijaknya pemerintah bisa arif menimbang persoalan ini,” ucapnya.

Senada, Akhiruddin dengan lantang meminta untuk menunda langkah Pemkot melakukan pungutan. Ia bahkan mempertanyakan kewenangan Pemkot untuk menarik pajak bagi pengusaha yang tak berizin. Pasalnya, hampir seluruh bangunan sarang burung walet tak berizin. Jika Pemkot kukuh memungut pajak. Apakah hal tersebut bukan sebuah pelanggaran.

Udin, --begitu akrab disapa mengatakan, usaha sarang burung walet saat ini tidak seperti waktu disahkannya Perda tentang sarang burung walet. Musim kemarau berkepanjangan membuat burung walet banyak yang mati. Alhasil  sekitar 60-70 persen usaha di sektor ini mengalami gagal produksi. Adapun  yang masih hidup adalah anakan burung yang belum bisa memproduksi sarang. Dibutuhkan waktu sekira 7-8 tahun untuk memproduksinya.

“Kalau untuk posisi sekarang belum waktunya ditarik,  Izin Mendirikan Bangunan saja belum diterbitkan Pemkot, termasuk belum memberikan kami akses untuk kemudahan mengurus IMB. Nah sekarang logikanya kita mau ditarik pajak tapi kok IMB-nya tidak ada. Di mana-mana itu IMB ada, baru pajak ditarik supaya legal,” terangnya.

Dia menambahkan, besaran tarif 10 persen sangat memberatkan para pengusaha. Sedangkan dalam aturan sudah jelas mengatur tarif pajak maksimal 10 persen. Artinya, Pemkot masih bisa memungut pajak minimal, sesuai yang mereka sanggupi yakni 2,5 persen.  “Pemerintah harus ikut andil juga terhadap kami, jangan ujuk-ujuk melakukan pungutan. Kami minta perizinan IMB dilakukan  pemutihan agar kami juga dimudahkan.

Selain kami juga mendorong agar Pemerintah melakukan study banding di luar daerah, utamanya Sumatera. Di sana ada daerah yang pemerintahnya yang memasarkan hasil usaha sarang burung walet. Sehingga pemerintah terbantu, dan kami juga pengusaha diuntungkan,” pungkasnya. (*/nug)               


BACA JUGA

Kamis, 18 Januari 2018 00:17

WASPADA!!! Siswi SD Nyaris Diculik

BONTANG- Masyarakat Bontang diminta waspada terhadap kasus penculikan anak. Baru-baru ini, salah satu…

Kamis, 18 Januari 2018 00:15

Bukan BEM, Penulis Komentar Miring untuk Anggota Dewan Itu Ternyata.....

BONTANG – Beberapa waktu lalu muncul kiriman tulisan bernada miring di jejaring Facebook atas…

Kamis, 18 Januari 2018 00:13

Legislator Sebut PT KNE Lepas Tangan

Komisi I DPRD menyesalkan adanya sikap lepas tanggung jawab dari Dirut PT Kaltim Nusa Etika (KNE) selaku…

Kamis, 18 Januari 2018 00:12

Tuntut Pesangon Eks Karyawan PT KE Mengadu ke Dewan

BONTANG – Kekecewaan 53 eks karyawan PT Kaltim Equator (KE) tumpah ruah saat menghadiri rapat…

Rabu, 17 Januari 2018 00:25

Harga Beras Naik, Pedagang Diprotes IRT dan Pemilik Warung Makan

Kalangan Ibu Rumah Tangga (IRT) dan para pedagang-pedagang rumah makan ikut merasakan dampak dari naiknya…

Rabu, 17 Januari 2018 00:24

Beras Naik, Pedagang Menjerit

BONTANG – Kenaikan harga beras yang terjadi dalam sebulan terakhir telah membuat limbung bukan…

Rabu, 17 Januari 2018 00:23

Wacana Ganti Warna Plat Nopol

BONTANG – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri berencana mengganti warna pelat kendaraan…

Rabu, 17 Januari 2018 00:22

Cegah Aksi Penyuapan, Pengadilan Negeri Bontang Luncurkan Aplikasi PTSP dan e-SKUM

BONTANG – Inovasi dilakukan oleh Pengadilan Negeri (PN) Kota Bontang berkaitan dengan segi pelayanan.…

Rabu, 17 Januari 2018 00:21

2018, Jumlah TPS Berkurang

BONTANG – Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) di Bontang pada Pilkada serentak 2018 ini akan…

Selasa, 16 Januari 2018 00:20

Sengkarut “Pindah Tangan” Yayasan Stitek

AKHIR-AKHIR ini, Sekolah Tinggi Teknologi (Stitek) Bontang diperhadapkan prahara perubahan struktur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .