MANAGED BY:
SENIN
23 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Jumat, 29 September 2017 00:22
Menyoal Bendera dengan Lafaz Tauhid
Penulis: Nurwanah Ibu Rumah Tangga

PROKAL.CO, Penulis:

Nurwanah

Ibu Rumah Tangga 

Ribuan peserta aksi dukungan terhadap Rohingya datang ke Gedung Sate Bandung sambil meneriakkan takbir, "Allahu Akbar", pada Senin pagi (4/9/2017). Selain pekikan takbir, terlihat ribuan peserta aksi terus membentangkan bendera-bendera bertuliskan kalimat tauhid, “La ilaha Illa al- Allah, Muhammad Rasul al-Allah”. Selain bendera-bendera ormas yang dibawa para peseta aksi, terdapat juga Al-Liwa dan Ar-Rayah berukuran sangat besar. Kedua bendera tersebut memiliki panjang sekira 10 meter dan lebar sekira 5 meter. (FissilmiKaffah.com September 18, 2017)

Aksi tersebut mendapatkan perhatian publik pasalnya bendera besar yang bertuliskan kalimat tauhid ini menjadi sorotan saat ini. Baru-baru saja Kapolda Jawa Barat, Brigjen Pol Agung Budi Maryoto menangkap salah satu mahasiswa Bandung yang berinisial DI, diduga DI telah malakukan penghinaan terhadap Ibu Negara Iriana Joko Widodo di akun Instagram miliknya. DI mengunggah foto melalui akun Instagram @warga_biasa dengan pernyataan, ‘Ibu ini seperti pelacur pakai jilbab hanya untuk menutup aib bukan karena iman’.

Agung menjelaskan, DI mengaku tidak suka dengan pemerintahan sekarang. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan awal pada akun Instagram miliknya, banyak hal lain juga yang tidak DI suka. “Bukan hanya ditujukan kepada pemerintah, banyak yang lain. Tapi kebetulan yang kita dapati (ujaran) pada pemerintah,” jelasnya. Selain itu, Agung akan mendalami keterlibatan DI dengan Ormas HTI. Pasalnya, polisi menemukan sejumlah barang bukti, yakni dua buah bendera HTI dan satu buah gantungan kunci HTI. (FAJAR.CO.ID,/ September 13, 2017 )

Pernyataan Kapolda Jawa Barat, Brigjen Pol Agung Budi Maryoto langsung dibantah oleh mantan juru bicara HTI Ustadz Ismail Yusanto, mengatakan bahwa “HTI tidak pernah mengajarkan anggota maupun simpatisan untuk melakukan penghinaan atau penistaan”. Menurut Ismail kritik itu merupakan dari amar ma’ruf nahyi mungkar. Tetapi berbeda antar kritik dan penghinaan. Yang dilakukan oleh pemuda itu adalah penistaan, penghinaan. Karena menuduh Ibu Negara sebagai pelacur itu kan suatu penistaan. Kalau dalam Islam, itu termasuk perbuatan dosa karena menuduh orang telah melakukan perzinaan. Hukumnya sangat berat. Jadi itu jelas, bukan bagian dari kegiatan atau dakwah HTI. Ismail juga menjelaskan tidak ada hubungan antara anak itu (DI) dengan HTI. Kalau disebut di sana ditemukan bendera dan atribut HTI maka bendera itu bukan bendera HTI. Menyebutkan bahwa itu bendera HTI sebuah kesalahan, kesalahan yang disengaja. Apalagi kemudian mengkaitkan barang-barang yang ditemukan itu dengan tindakan dari yang bersangkutan. (mediaumat.news/ 14 september 2017)

Panji Rasulullah SAW, baik al-liwa (panji putih) dan ar-rayah (panji hitam) bukanlah sembarang panji yang berhenti sebagai simbol. Rayah dan Liwa’ Rasul saw. digambarkan secara detil dalam banyak hadits, baik warnanya, bentuknya maupun tulisannya. Ibnu ‘Abbas ra. menuturkan: “Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih“ (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi, ath-Thabarani dan Abu Ya’la). Bentuk Rayah dan Liwa’ Nabi saw. itu persegi empat. Al-Barra’ bin ‘Azib ra. menuturkan: “Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah” (HR at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Baghawi). Pada Rayah dan Liwa’ Rasulullah saw. tertulis kalimat tauhid Lâ ilâha illallâh Muhammad RasûlulLâh, sebagaimana hadis penuturuan Ibnu Abbas ra.: ” Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh ” (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Liwa’ dan Rayah Rasulullah saw. merupakan lambang akidah Islam. Pada al-Liwa` dan ar-Rayah tertulis kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad Rasûlullâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran, yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat.

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu bisa dimaknai sebagai identitas Islam dan kaum Muslim. Pasalnya, Liwa’ dan Rayah Rasululah saw. ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Rayah Nabi saw. itu tidak boleh diinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Dalilnya bahwa “Rasulullah saw. memakai cincin yang diukir dengan kalimat: Muhammad RasululLâh. Jika masuk kamar mandi, beliau selalu melepas cincin itu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dan al-Hakim). Faktanya, pada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. sama-sama tertulis lafzh al-Jalâlah.

Karena itu apapun sikap dan tindakan yang bertujuan untuk menghinakan al-Liwa’ atau ar-Rayah yang bertuliskan “Lâ Ilâha Illallâh Muhammad Rasûlullâh”  jelas dilarang. Bentuk penghinaan yang dilarang tidak hanya dalam bentuk verbal, dengan menempatkan di tempat yang identik dengan penghinaan, tetapi juga penghinaan dalam bentuk non-verbal. Seperti menyatakan bahwa bendera tersebut bendera teroris, bahkan dikriminalisasi.

Tentu aneh sekali jika penghinaan dan pelecehan itu datang dari seorang Muslim. Bagaimana mungkin seorang Muslim melecehkan panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka? Bagaimana mungkin seorang Muslim, yang mengaku menjadi pengikut Nabi saw. yang di akhirat berharap mendapat syafaat beliau, justru membenci dan merendahkan panji Rasulullah saw? Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian dan makna keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka. (*)


BACA JUGA

Minggu, 15 Oktober 2017 18:45

Kaum LGBT Makin Berani

Belum hilang dari benak, ratusan pria yang ditangkap saat penggerebekan pesta seks gay  di Kompleks…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:11

LPG Untuk Rakyat

Penulis: Fatma Karyawan Swasta Indonesia adalah Negara kepulauan, sering disebut surga kecil dunia.…

Senin, 02 Oktober 2017 18:06

Tak Musti Tajir, Ada TKI dan Guru SLTA

BERHAJI atau pun berumrah adalah memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk datang ke tanah suci…

Rabu, 30 Agustus 2017 00:05

Jangan Biarkan Bangsaku Krisis Arsip di Era Kemerdekaan

Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi setiap manusia. Inilah yang selalu didengungkan, sekaligus…

Minggu, 27 Agustus 2017 00:09

Permasalahan Kulit dan Jagal

Penulis: Ust Habib Alma'ruf Mubalig Muhammadiyah  Status panitia maupun tukang jagal dalam pengurusan…

Jumat, 25 Agustus 2017 00:25

Qurban Jangan Kau Tinggalkan, Itu Ada di Al-Qur’an dan Sunnah !

Allah telah mengingatkan kita tentang ni’mat-ni’mat yang Allah karuniakan kepada seorang…

Jumat, 04 Agustus 2017 00:13

Apa Realisasi Pemerintah Jalankan Program Terkait Visi Misi ?

Bangga rasanya menjadi seorang putra daerah di salah satu kota kecil di Kalimantan timur. Lahir, besar…

Minggu, 23 Juli 2017 00:09

Meneguhkan Perjuangan Dakwah

oleh : Bambang Al-Fatih (Ketua BEM STIT-SYAM) Kita semua tahu, dalam menapaki perjuangan dibutuhkan…

Jumat, 07 Juli 2017 00:12

Ramadan Berlalu Raih Derajat Taqwa

Oleh: Drs. H. Syafruddin Syam, M.AP Ketua PD Muhammadiyah Kutai Timur DI tengah suasana idul fitri pada…

Sabtu, 24 Juni 2017 00:05

Ramadan dan Perilaku Konsumtif

Oleh: Hasan Basri, S.Pd Pemuda Muhammadiyah Kutai Timur. Staff Pengajar SMK Muhammadiyah 1 Sangatta …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .