MANAGED BY:
SELASA
19 DESEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA

BONTANG

Kamis, 12 Oktober 2017 01:06
Kerja Bersama Menuju Bontang Jago
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni

PROKAL.CO, Pemimpin boleh berganti, tapi pembangunan harus terus berlanjut. Inilah yang menjadi kunci suksesnya pembangunan di Kota Taman. Sejak era Wali Kota pertama, Sofyan Hasdam yang diteruskan Adi Darma, hingga saat ini dijabat Neni Moerniaeni, pembangunan baik fisik maupun sumber daya manusia (SDM) Bontang terus dilakukan. Besar harapan seluruh elemen masyarakat dapat bekerja bersama pemerintah untuk menyukseskan pembangunan, demi tercapainya Bontang yang Juara, Aktif, Global, dan Optimis (Bontang JAGO).

 

Pembangunan di Bontang memang relatif cepat sejak berubah status menjadi kotamadya pada 1999. Kehadiran dua perusahaan besar di Kota Taman mempercepat pertumbuhan dan perkembangan di kota yang berpenduduk sekitar 163.326 jiwa.

Semakin banyaknya warga pendatang dari berbagai etnis untuk bekerja makin menguatkan identitas Bontang sebagai daerah pendatang, pun menasbihkan diri sebagai miniatur Indonesia.

Namun, apakah Bontang kini sudah mandiri sejak memutuskan menjadi kotamadya? “Sedang menuju ke arah kemandirian,” kata Neni.

Baginya, fakta Bontang sebagai kota industri berbasis gas dan kondensat memang tak bisa ditutupi. Beragamnya industri mulai gas alam cair, pupuk, dan batu bara di Kota Taman menjadi penyumbang keuangan Bontang.

Tapi, Neni menolak jika dikatakan ketergantungan dengan mereka. Penguatan Bontang sebagai Kota Maritim dan berkebudayaan industri yang bertumpu pada kualitas sumber daya manusia serta lingkungan hidup kini jadi perhatiannya. “Sesuai dengan visi misi saya, Bontang sebagai smart city, green city, dan creative city. Muaranya untuk kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Perjalanan menuju kemandirian itu memang masih panjang. Namun, Pemkot Bontang di tangan Neni dan wakilnya, Basri Rase memastikan sudah berjalan di jalan yang tepat. Untuk memastikan hal tersebut, prioritas utama saat mereka memimpin Bontang adalah keterpenuhan listrik dan air. Menurut Neni, jika listrik dan air sudah terpenuhi, maka pembangunan di Bontang akan berjalan. Kedua hal ini pun merupakan hal mendasar yang dibutuhkan warga. “Coba kita lihat data di PLN (Perusahaan Listrik Negara, Red.), rasio elektrifikasi (tingkat perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan jumlah total penduduk, Red.) di Bontang sudah mencapai lebih dari seratus persen,” ungkap Neni.

 

Pun sama dengan air. Kata Neni, sudah lebih dari 90 persen penduduk Bontang memiliki akses air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sisanya, merupakan rumah ataupun perumahan yang baru terbangun. “Bahkan di daerah pesisir akan diterapkan desalinasi (proses pengolahan air laut menjadi air tawar, red.),” tambahnya.

Setelah listrik dan air terpenuhi, investor pun akan berduyun-duyun menyambangi Kota Taman, memberikan investasinya untuk kemajuan Bontang. Neni sudah meminta komitmen dari PLN jika ada investor ingin membangun di Bontang. Perusahaan listrik itupun menyanggupinya. Neni tak ragu mengundang investor datang ke Kota Taman, karena ketersediaan listrik dan air jadi jaminan untuk investor. “Contohnya pembangunan mal. Indikator sebuah daerah maju itu kan salah satunya ada mal yang berdiri,” ujarnya.

Proses perizinan yang dipermudah, diyakini Neni akan mempercepat investor masuk ditengah kondisi daerah yang mengalami defisit anggaran. Proyek seperti NPK Cluster dan kilang minyak menjadi harga mati. Serapan tenaga kerjanya pun diyakini besar, sekitar 7.500 hingga 10 ribu orang akan terserap. “Pembangunan di Bontang kan bisa menimbulkan multiplier effect. Tingkat pengangguran bisa menurun, ekonomi warga juga bisa bergeliat,” kata Neni.

Agar serapan sebesar itu sebagian besar diisi oleh putra daerah Bontang, berbagai pelatihan pun coba digelar. Pun di jenjang perguruan tinggi, kehadiran Sekolah Tinggi Teknologi (Stitek) Bontang dan berbagai perguruan tinggi lain diharap membuka jurusan yang sesuai dengan karakteristik Bontang, sebagai kota industri berbasis gas dan kondensat. “Jangan sampai menjadi penonton di daerah sendiri. Para sarjana ataupun warga Bontang yang sudah bekerja saya harap juga mau menyumbangkan ilmunya untuk kemajuan kota,” pesannya.

Ia tak menampik, semakin pesatnya industri di Kota Taman dapat menimbulkan degradasi lingkungan di kemudian hari. Pembangunan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) jadi tolok ukur utama, agar pembangunan di Bontang tetap tertata. Pembangunan yang berawasan lingkungan terus digenjot.  Ini sudah dibuktikan saat Bontang berhasil meraih Nirwasita Tantra Award 2017 dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Kemen LHK). Penghargaan ini diberikan kepada kepala daerah yang dinilai bisa merumuskan dan menerapkan kebijakan, serta program kerja berbasis pembangunan yang berkelanjutan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di daerahnya masing-masing.

Neni berharap, masyarakat membantu pemerintah mewujudkan apa yang dicita-citakan pemerintah. “Bontang sudah 18 tahun, semoga semakin maju,” ucapnya.

Sementara Wakil Wali Kota Basri Rase yang sudah tinggal di Bontang sejak 1996 merasakan perbedaan yang luar biasa dari sisi pembangunan. Sekata dengan Neni, menurutnya, Bontang tidak selamanya akan tergantung dari industri pupuk dan gas yang ada saat ini.

Perlu alternatif industri baru agar mengantisipasi era Bontang pasca gas. “Pengembangan ekowisata, industri di sektor maritim, perikanan, dan kelautan jadi sasaran,” ujar Basri.

Apalagi, di tengah badai defisit yang menerjang di seluruh daerah di Indonesia juga berimbas kepada Kota Taman. Sinergi program dengan pemerintah pusat jadi salah satu jalan. Menggiatkan pembangunan harus terus dilakukan, dari industri hulu sampai hilir. “Saya berharap Bontang menjadi kota maju, mewujudkan Bontang sebagai kota jasa dan industri yang besar,” pungkas Basri. (zul) 

Kenali Bontang Lewat Sejarah 

Presiden pertama Indonesia, Soekarno atau akrab disapa Bung Karno pernah berpesan kepada Bangsa Indonesia. “Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Seru Bung Karno kala itu. Pesan ini dimaksudkan agar bangsa ini dapat mempelajari dan mengambil contoh dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, Bung Karno menginginkan agar masyarakat dapat menghormati tokoh-tokoh yang berjasa besar di masa awal merintis negara ini.

Hal yang sama juga berlaku untuk Kota Taman. Masyarakat Bontang mesti mengetahui sekilas sejarah Bontang untuk menghargai dan mencintai daerahnya sendiri. Tim redaksi Bontang Post merangkum sejarah Bontang sejak awal masa setelah kemerdekaan Indonesia.

1. Dua Pemimpin dalam Satu Kampung

Bontang yang kala itu mulai berkembang menjadi pemukiman, mulai ditetapkan sebagai kampung oleh tetua adat pada 1952. Hal-hal yang berkenaan dengan tata pemerintahan ditangani oleh kepala kampung. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat dipimpin oleh tetua adat yang bergelar Aji. Kepala Kampung Bontang saat itu yakni AM Abdul Wahab yang menjabat pada 1952 hingga 1958. Kepemimpinan Abdul Wahab dilanjutkan oleh HM Idrus Panu pada 1958 hingga 1974. Di masa Idrus inilah, ibukota kecamatan dipindahkan dari Bontang ke Bontang Baru. Sedangkan Kampung Bontang mendapat julukan baru sebagai Bontang Kuala.

Selain itu, HR Abdul Kamba meneruskan kepemimpinan Idrus pada 1974 hingga 1977. HM Silek Pancong melanjutkannya pada 1977 hingga 1981. Sedangkan Kampung Tanjung Laut sudah dipimpin oleh H. Habibon mulai 1965 hingga 1990.

2. Bontang dipimpin Asisten Wedana Kesultanan Kutai Kartanegara

Bontang dulunya merupakan bagian dari Kesultanan Kutai Kartanegara.  Pada masa Sultan Aji Muhammad Parikesit, Kota Taman kala itu dipimpin oleh seorang asisten wedana yang bernama Karim. Ia sempat menjadi asisten wedana mulai 1949 hingga 1953. Usai Karim menjabat, tongkat estafet asisten wedana dipegang oleh C.Kajat pada 1953 hingga 1954. Abdul Samad dan P Soraja menjadi asisten wedana terakhir di Bontang pada 1969 hingga 1973 sebelum akhirnya Bontang berstatus menjadi kecamatan dan dipimpin oleh Camat pada 1976.

3. Perubahan ke Kecamatan Akibat Masuknya Industri

Camat Bontang pertama, Zainuddin Junaidi mengawali pertumbuhan dan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Masuknya Badak LNG dan Pupuk Kaltim dalam masa kepemimpinannya membuat Bontang kala itu semakin ramai oleh penduduk yang merupakan pekerja dua perusahaan besar tersebut. Suksesornya, Yusran Jafri melanjutkan estafet pembangunan di Bontang. Hingga camat terakhir, Fahmurniddin, Bontang ditetapkan menjadi Pusat Pemerintahan Pembantu Bupati tingkat II Kutai Wilayah Pantai pada 1989, melalui Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1989.

4. Wali Kota Kotif Bontang Satu-satunya, Ishak Karim

Perkembangan penduduk dan pembangunan yang pesat di Kota Taman membuat Gubernur Provinsi Dati I Kaltim, mengusulkan Bontang menjadi kota administratif (Kotif). Usul ini baru mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat pada 1990. Ishak Karim secara resmi ditunjuk menjadi Wali Kota Kotif Bontang pertama mulai 16 Mei 1990. Di era kepemimpinannya, Bontang dipecah menjadi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sangatta, Bontang Utara, dan Bontang Selatan. Namun Kotif Bontang hanya membawahi Kecamatan Bontang Utara dan Bontang Selatan.

Ishak ternyata menjadi Wali Kota kotif Bontang satu-satunya. Sebab, di masa reformasi unsur pemuda di Bontang berkumpul dan bersepakat memprakarsai naiknya status Kota Taman dari Kotif menjadi kota otonom. Para pemuda yang berjuluk Tim Sebelas itu yakni, Abdul Muis, Ridwan Habibon, Kaharuddin Jafar, Rusli Burhan, Syamsuddin, Bestari Alamsyah, A Mansyah Moespa, Roy Basuki, Awang Syahrudin Has, Mulyana, dan Kamran Haya. Bontang pun resmi naik statusnya menjadi kotamadya pada 12 Oktober 1999.

5. Fahmurniddin, Pengawal Bontang di masa Permulaan

Resminya Bontang menjadi kota otonom mengharuskan ada pejabat walikota untuk memastikan kegiatan dan tugas-tugas umum pemerintahan tetap berjalan sebelum dibentuknya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan ditunjuknya walikota serta wakil wali kota. Fahmurniddin yang menjadi camat terakhir pada 1985 hingga 1990 dipercayakan mengemban amanah ini. Di masanya, Bontang membawahi dua kecamatan dan sembilan desa.  Kesembilan desa ini pun kemudian diubah menjadi kelurahan sekaligus dimekarkan menjadi tiga kecamatan yang membawahi 14 kelurahan dan satu desa. Melalui Peraturan Daerah (Perda) nomor 4 tahun 2005, satu desa yakni Desa Sekambing yang berubah statusnya menjadi Kelurahan Sekambing diubah namanya menjadi Kelurahan Bontang Lestari.

6. Wali Kota Bontang dari Masa ke Masa

Selama dua tahun Kota Taman dipimpin oleh pejabat wali kota, Bontang akhirnya memiliki wali kota dan wakil wali kota pertama yaitu Andi Sofyan Hasdam dan Adam Malik yang resmi dilantik pada 1 Maret 2001. Lima tahun berikutnya, Sofyan Hasdam kembali menjabat sebagai wali kota untuk periode 2006 hingga 2011 bersanding dengan Sjahid Daroini melalui sistem pemilihan umum (pemilu). Adi Darma dan Isro Umarghani melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di Bontang pada 23 Maret 2011 hingga berakhir masa jabatan di 2016. Istri dari Sofyan Hasdam, Neni Moerniaeni yang sebelumnya menjadi anggota DPR-RI terpilih dan menjabat sebagai Wali Kota Bontang bersama wakilnya, Basri Rase, dilantik pada 23 Maret 2016 hingga kini. 


BACA JUGA

Senin, 18 Desember 2017 18:37

Jelang NATARU Penumpang Kapal Wisata Diprediksi Melonjak

BONTANG – Wisatawan yang akan menuju Pulau Beras Basah diprediksi meningkat pekan depan. Hal ini…

Senin, 18 Desember 2017 18:36

Pukul Kakek 76 Tahun, Lansia Dibui

BONTANG – Seorang Lansia harus berurusan dengan aparat kepolisian di masa tuanya. Pasalnya, dirinya…

Senin, 18 Desember 2017 18:35

NU Dorong Pemerintah Revisi KUHP

BONTANG – Terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak mengadili gugatan soal Lesbian,…

Senin, 18 Desember 2017 18:34

Verifikasi Faktual, 2 Parpol Cabut Nomor

BONTANG – Dua partai politik baru yang lolos tahapan penelitian administrasi akan segera mengikuti…

Minggu, 17 Desember 2017 00:33

Tim Gabungan Polres Bontang Grebek Pesta Narkoba di Loktuan

BONTANG – Tim gabungan dari Sat Reskrim Polres Bontang dan Polsek Bontang Utara belum lama ini…

Minggu, 17 Desember 2017 00:32

Furnitur Rusunawa Diakomodir

“Usulan pengadaan properti di rusunawa sudah mendapat respon dari pemerintah pusat,” Maksi…

Minggu, 17 Desember 2017 00:31

HORE!!! 100 Rumah Dapat Bantuan Stimulan

BONTANG – Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tidak hanya mandek di tahun ini saja.…

Minggu, 17 Desember 2017 00:30

Fasilitasi Warga Operasi Katarak dan Bibir Sumbing

Di puncak hari Juang Kartika yang jatuh pada 15 Desember lalu, Kodim 0908/BTG turut membantu meringankan…

Sabtu, 16 Desember 2017 08:55

Jelang Pilkada 2018, IKP Jadi Peringatan Dini  Potensi Pelanggaran

Oleh: Galeh Akbar Tanjung, Anggota Bawaslu Provinsi Kaltim, Koordinator Divisi Pencegahan, Hubungan…

Sabtu, 16 Desember 2017 00:43

Jadi Plt Ketua DPD Golkar Kaltim, Sofyan Hasdam Gerak Cepat

BONTANG – Andi Sofyan Hasdam, Mantan Wali Kota Bontang dua periode,  didapuk menjadi Plt…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .