MANAGED BY:
MINGGU
21 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Sabtu, 28 Oktober 2017 00:25
Cadar (Niqob) dan Dunia Pendidikan
Oleh: Siti Munawarah, SE

PROKAL.CO, Oleh:

Siti Munawarah, SE 

Sungguh miris dan arogan, mungkin itu kalimat yang pantas menggambarkan dunia pendidikan saat ini. Bagaimana tidak beberapa universitas di Indonesia melakukan pelanggaran HAM dengan melarang mahasiswinya menggunakan cadar.

Sebelumnya tepat pada bulan Agustus 2017 Universitas Pamulang (UNPAM) berlakukan aturan berbusana yang didalamnya terdapat larangan menggunakan cadar, hal yang sama juga terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga Yogyakarta dengan alasan pakaian ala arab itu sangat ngawur dan mereka juga beranggapan bahwa cadar berkaitan erat dengan terorisme.

Sungguh miris dan ini terjadi dilingkungan civitas akademik yang identik dengan tempat para kaum terpelajar. Dan hal ini tentu bukan pertama kalinya sebuah universitas memberlakukan larangan menggunakan cadar. Ada satu kasus yang menimpa dua mahasiswi kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU) dan kasus ini terjadi saat berakhirnya era Orde Baru tepatnya pada tanggal 30 November 1999, Dekan Fakultas Kedokteran mengeluarkan Surat Keputusan yang isinya melarang pemakaian cadar. Alasannya, cadar dianggap menghalangi aktivitas belajar dan komunikasi dengan dosen, selain menyulitkan kontak dengan pasien ketika bertugas sebagai dokter.

Akibatnya, seorang mahasiswi kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) harus angkat kaki dari universitas tersebut karena tak kuat menahan diskriminasi dari para dosen. Sementara satu mahasiswa bercadar lain harus berjuang ditengah sikap kolot kampus agar dapat lulus dari fakultas tersebut. Kedua mahasiswi ini kerap mendapat pengusiran dari ruang kelas saat para dosen mengajar, dan menerima ancaman takkan diberi nilai selama masih mengenakan cadar.

Kekerasan verbal terus dilakukan oleh pihak kampus sebagai sikap anti cadar terhadap mahasiswinya. Pengamat Radikalisme Pradana Boy mengungkapkan pelarangan cadar merupakan sebuah tindakan diskriminasi terhadap suatu agama. Apalagi jika hanya didasarkan pada asumsi terorisme dan radikalisme. Dan juga asumsi bahwa cadar menghalangi aktivitas belajar, komunikasi dengan dosen bahkan menghalangi kontak dengan pasien, dan hal ini justru bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Tentu masih terlihat jelas diingatan kita seorang dokter bercadar yang pernah di undang diacara talkshow disalah satu stasiun tv swasta, dr. Ferihana, pemilik klinik gratis dengan nama Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa. Meski berlabel muslim nyatanya tidak ada perbedaan pelayanan yang diberikan kepada non- Muslim dan bahkan semua pasien miskin dari segala usia, latar belakang dan ras digratiskan.

Menurut pengakuan dr. Ferihana, rumah sehat ini dibuka karena merasa tergerak dengan keadaan masyarakat setempat yang sakit-sakitan namun tidak mau berobat lantaran tidak cukup biaya untuk kedokter apalagi orang tua lansia. Melihat kasus dr. Ferihana harusnya menjadi pembelajaran bagi setiap universitas bahwa anggapan cadar menghalangi segala aktivitas tentunya sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada dr. Ferihana. Buktinya beliau tetap aktif bertugas sebagai dokter sekaligus pemilik rumah sehat, dan itu sekali lagi menandakan bahwa cadar tidak menghalangi profesi sebagai dokter dan aktivitas seseorang sebagai mahasiswi.

Anggapan bahwa cadar berkaitan erat dengan terorisme itu sungguh anggapan yang salah, mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan jaringan teroris kerap diperlakukan tak manusiawi hanya karena memakai cadar. Yang lebih memprihatinkan pelarangan penggunaan cadar dilakukan oleh kaum muslim sendiri. Padahal islam mengajarkan, penggunaan cadar adalah sebuah pilihan. Sebagian ulama membolehkan, sebagian lain mewajibkan. Namun perbedaan pendapat tidak menafikan bahwa cadar bukan bagian dari ajaran islam.

Dan apa saja yang diajarkan dalam islam tentu itu sesuatu yang baik, hanya saja pengaruh media yang selalu saja mencitra burukkan cadar yang dikait-kaitkan dengan isu terorisme, jadilah masyarakat yang memandang cadar sebagai sesuatu yang harus dihindari dan dilarang dan itu semua akibat dari framing buruk media. Harusnya mereka bisa menyadari bahwa cadar adalah sebuah keyakinan syariat yang datang dari ilahi bukannya di diskriminasi seperti saat ini.

Waallau ‘alam bissawab. (*)


BACA JUGA

Kamis, 13 September 2018 18:38

Politik Dua Kaki DPRD

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H.,LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman) Dewan Perwakilan…

Kamis, 06 September 2018 23:50

Medali Emas untuk Indonesia, Tambang Emas untuk Asing

Oleh: Dian Eliasari, S.KM  Usai sudah perhelatan akbar Asian Games 2018, meskipun ada duka dibalik…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:05

Kemerdekaan Yang Tergadai

Oleh: Yusi Wulandari Ibu Rumah Tangga Agustus, bulan sakral bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut,…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:23

Jerat Narkoba di Kota Taman

Oleh: Dian Eliasari, S.KM Pendidik. Ibnu Taimiyah ra. berkata, "Narkoba sama halnya dengan zat yang…

Minggu, 22 Juli 2018 00:20

Aplikasi Tik Tok, Potret Generasi Alay yang Abai

Oleh Nurul Inayah, SEI (Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang)  Para pegiat dunia maya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .