MANAGED BY:
SABTU
18 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Selasa, 31 Oktober 2017 16:54
Peran Pendidikan Pemuda Sebagai Agen of Change
Oleh : Yakub Fadillah, S.IP

PROKAL.CO, Oleh : Yakub Fadillah, S.IP

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

DPD KNPI Kutai Timur.

 

”Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan tuhanmu lah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui” ( Al Alaq : 1-5).

5 Ayat di atas adalah wahyu pertama yang diturunkan Kepada Nabi Muhammad Saw. Sekira usia 40 tahun 6 bulan 8 hari tepatnya 17 Ramadhan 13 SH, atau tepatnya hari senin 6 Agustus 610 H, atau sekira usia 39 tahun 3 bulan 18 hari dalam hitungan masehi, dalam riwayat lain ada yang menyebut pada 21 Ramadhan karena terkait malam lailatul qadar yang dikabarkan juga sebagai malam turunnya Alqur,an. Namun bukan persoalan itu yang akan ditonjolkan dalam tulisan singkat ini. Dari 5 ayat pertama itu adalah perintah berfikir, belajar dan bergerak untuk melakukan perubahan. Indikator ini bisa dikaitkan dengan turunnya wahyu yg pertama kepada seorang pemuda Mekkah yang bernama Muhammad saw. Sebelum terjadinya turun 5 ayat tersebut bahwa Nabi Muhammad adalah seorang reformis, di usia 35 tahun menjadi hakim dalam perselisihan peletakan batu hitam ( hajar aswad), semasa remaja adalah penggembala kambing yang profesional, selama 4 tahun belajar membela tanah airnya dengan ikut mengumpulkan anak panah, belajar memanah hingga strategi bertahan dan menyerang dalam perang klasik, sebelum menikah adalah manajer dagang handal yang tidak pernah rugi, terpercaya, penjaga kualitas dan pemimpin kafilah yang penuh kehati-hatian, negosiator ulung dan santun serta lembut di tengah kerasnya budaya Makkah, dan pada masa kecilnya dirawat oleh kakeknya Abdul Muthalib dan terlahir sebagai yatim dan lengkap menjadi yatim piatu pada usia 6 tahun, 2 tahun kemudian kakeknya juga wafat dan menyebabkan Muhammad saw kecil harus belajar hidup sederhana dan belajar bekerja keras karena pamannya Abu Thalib bukanlah orang berada.

Dari wahyu pertama dan sekilas sirah nabawi tersebut dapat kita simpulkan beberapa catatan antara lain : Masa muda merupakan masa keemasan, masa produktif. Masa yang paling gemilang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju akhirat. Sehingga pendidikan sangat berpengaruh kepada kualitas pemuda.Tanggung jawab untuk terbentuknya pemuda-pemuda tangguh dan generasi yang taat, itu merupakan kewajiban dan tugas yang besar di pundak para orang tua, agar mendidik anak-anaknya semenjak dini dengan pendidikan yang benar, yaitu pendidikan yang diajarkan oleh agama dan juga sesuai kebutuhan zaman serta tuntutan negara. Hendaklah orang tua menjadi teladan yang baik bagi anaknya, karena apa yang dilihat lebih mendominasi caracter building anak dari pada apa yang didengar. Untuk menjadikan pemuda berkualitas diperlukan pendidikan keluarga yang kuat sebagai kawah candra dimuka kepekaan sosial, solidaritas dan basis miniatur peradaban. Untuk mencapai kemuliaan yang agung dalam mendidik anak, tentu membutuhkan kesabaran, perjuangan, dan perhatian yang besar dari para orang tua. Terlebih lagi pada zaman sekarang ini, berbagai fasilitas tersedia dan sangat mudah membahayakan akhlak dan kepribadian seorang anak. Pemuda pada zaman ini, ia bagaikan seekor kambing yang berada dalam kerumunan serigala yang siap menyantapnya. Pertama, Pemuda yang siap melanjutkan estafeta kepemimpinan (bukan pemimpin) adalah pemuda yang terlatih secara sistematis dan alami, berpola dan memiliki indikator dan sasaran yang jelas untuk menghasilkan output, sehingga secara alami akan membentuk karakter kepemimpinan yang mumpuni. Kedua, adapun para guru atau para pendidik, sesungguhnya mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak-anak bangsa. Menjadikan mereka generasi handal, taat kepada ajaran agamanya, memiliki nasionalisme yang fanatik, sanggup beradaptasi dengan berbagai kondisi dan dapat menerima perbedaan, dapat memilah perbedaan yang prinsip dan perbedaan yang bisa ditolerir baik dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kemudian, para pemuda adalah sebagai “Agen of Change”, maka kualitas pendidikan akan menentukan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara di masa mendatang, maka jangan pernah berhitung apa yang harus dikorbankan untuk pendidikan anaknya selagi mampu, tidak ada proses berkualitas yang “gratis” Panglima Soedirman menjadi tangguh di tengah sakitnya, selain memiliki semangat jihad mempertahankan NKRI, Panglima Soedirman membeli kualitasnya dengan mengajar gratis di SMP Muhammadiyah Jogjakarta, membeli jiwa kepemimpinannya dengan menjadi relawan dan pandu Hizbul Wathan sejak usia 14 tahun.

Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 89, Pemuda Kutai Timur dalam hal ini adalah DPD KNPI Kutai Timur, dengan segala keterbatasan berupaya mempersembahkan karya terbaik, di tengah “hegemoni” defisit yang turut memberikan efek domino pada kehidupan masyarakat Pemuda Kutai Timur melalui DPD KNPI, tetap berkarya, bergembira dan bersatu hati melangsungkan Pekan Pemuda dengan tema “ Membangun Kreatifitas Merajut Kebhinekaan”.

Banyak hal yang harus diperbuat sebagai indikator pemuda kreatif dan peduli dengan kebhinekaan sebagai salah satu pilar negara, dimana isu kebhinekaan menjadi isu sentral yang dianggap akan mengikis keutuhan negara, namun perlu disikapi dengan arif dan bijak, bahwa terkadang juga kita terjebak, ingin merajut kebhinekaan dengan menyingkirkan pihak yang kita anggap “intoleran” justru membarangusnya dengan cara intoleran.

Sebagai Agen of Change, pemuda harus bisa memberikan model dan juga teladan, bahwa pelangi akan terbentuk dengan 7 warna utama dan ratusan warna bias, keindahnnya akan terlihat jika hujan dan panas datang bersamaan di waktu pagi dan sore hari. Ketika perbedaan dianggap sebagai ancaman, maka saat itu nilai toleransi telah runtuh, dan ketika pikiran dan lisan tak lagi bijak maka tangan dan kaki akan menjadi alat untuk mendeklarasikan radikalisme diri yang tidak pernah dirasakan. SALAM PEMUDA. (*)


BACA JUGA

Minggu, 05 November 2017 00:21

Menjaga Bahasa Melalui Sumpah Pemuda

Oleh: N Yahya Yabo Pegiat Sastra dan Teater  Pada dasarnya setiap indivindu memiliki sifat yang…

Sabtu, 28 Oktober 2017 00:25

Cadar (Niqob) dan Dunia Pendidikan

Oleh: Siti Munawarah, SE  Sungguh miris dan arogan, mungkin itu kalimat yang pantas menggambarkan…

Senin, 16 Oktober 2017 17:30

Kaum LGBT Makin Berani

Belum hilang dari benak, ratusan pria yang ditangkap saat penggerebekan pesta seks gay  di Kompleks…

Minggu, 15 Oktober 2017 18:45

Kaum LGBT Makin Berani

Belum hilang dari benak, ratusan pria yang ditangkap saat penggerebekan pesta seks gay  di Kompleks…

Jumat, 13 Oktober 2017 00:11

LPG Untuk Rakyat

Penulis: Fatma Karyawan Swasta Indonesia adalah Negara kepulauan, sering disebut surga kecil dunia.…

Minggu, 08 Oktober 2017 00:14

Perilaku Seks Bebas di Kalangan Remaja

Oleh: Purwanti Rahayu Ibu Rumah Tangga Masa remaja adalah masa dimana seseorang harus menghadapi tekanan-tekanan…

Sabtu, 07 Oktober 2017 00:23

Jalan Dakwah

 Oleh: Ustadz Raden Ahmad Affandi (Dai Nasional, Pengisi acara “Obral Hidayah” dan…

Kamis, 05 Oktober 2017 00:18

Darurat Narkoba, Solusinya?

Oleh: Dian Eliasari, SKM Pendidik  Saat ini Indonesia sedang disuguhi potret buram dan kelam tentang…

Selasa, 03 Oktober 2017 00:13

Bulan Kekejaman Setelah Bulan Kemerdekaan

Oleh: N Yahya Yabo Pegiat Sastra dan Teater  Sejarah pasti akan selalu diingat bahkan akan selalu…

Senin, 02 Oktober 2017 18:06

Tak Musti Tajir, Ada TKI dan Guru SLTA

BERHAJI atau pun berumrah adalah memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk datang ke tanah suci…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .