MANAGED BY:
SABTU
18 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | PEMKOT | BENUA KUTIM | OLAHRAGA | ZETIZEN | SOCIETY & LENSA
Selasa, 14 November 2017 00:49
Bersama Membangun Koran
Rachman Wahid Redaktur Pelaksana Bontang post

PROKAL.CO, Catatan

Rachman Wahid

Redaktur Pelaksana Bontang post

Masih membekas di ingatan saya, enam tahun lalu, untuk pertama kali menginjakkan kaki di bangunan paling biru di Kota Taman, Kantor Bontang Post. Terasa seperti baru kemarin saya menunduk malu-malu saat tes wawancara di depan Direktur Bontang Post (dulu General Manager) Agus Susanto, Manajer Pemasaran Darman, dan Redaktur Pelaksana (redpel) Faisal Rahman. Mencoba bersikap sehalus mungkin layaknya berhadapan dengan calon mertua, agar lamaran diterima.  Saat itu saya melamar sebagai fotografer, tidak terpikir untuk menjadi wartawan. Singkat cerita saya diterima, alhamdulillah.

Saya resmi mulai berkerja setelah Bontang Post berusia satu tahun. Hari-hari pertama saya berkerja, masih berkutat dengan penugasan para redaktur. Saya ingat penugasan pertama saya: foto jalanan rusak di simpang RS Amalia. Saya diminta foto sambil tengkurap agar bisa dapat “low angel”. Tak peduli pengendara hilir mudik keheranan melihat saya tengkurap ala-ala fotografer alam bebas, selesai foto, saya kembali ke kantor untuk setor foto. Sesampainya di kantor dan setor foto, saya dipanggil redaktur. Saya dimarahi. Katanya saya kurang tengkurap. Hahaha. Saya hanya tertawa sambil mencoba memperlihatkan kemeja saya yang sudah kotor penuh pasir.

Waktu demi waktu berlalu, alhamdulillah jam terbang saya semakin mumpuni. Merasa tak nyaman di zona nyaman, saya mencoba menulis. Ya sekadar menulis narasi foto satu sampai dua paragraf. Rupanya, tulisan saya dilirik Redpel saat itu, dan dia menawarkan saya untuk pindah “pekerjaan” jadi wartawan. Kata beliau, saya punya bakat. Walaupun saat itu saya meragukan pujian tersebut, saya terima tawaran menjadi wartawan.

Menjadi wartawan memang tidak mudah. Setiap hari selalu berkutat pada deadline. Dimarahi sudah jadi hal yang biasa.  Wartawan itu keras, kalau dimarahi sedikit saja sudah down, tidak bisa menjadi wartawan. Bahkan, selama menjadi wartawan berbagai kebaikan dan ancaman narasumber pernah saya dapatkan. Mulai dari dikirimi pulsa Rp.5000, sampai diancam akan dibunuh juga pernah. Tapi, saya lalui semua itu sebagai risiko pekerjaan.

Melewati berbagai tempaan para redaktur terdahulu, saat ini saya menjabat sebagai Redaktur Pelaksana, meneruskan perjuangan Guntur Marchista Sunan yang saat ini ditugaskan sebagai General Manager Batam Pos.

Selama di Bontang Post, saya sudah melewati beberapa fase. Mulai dari satu persatu redaktur hengkang keluar perusahaan, sampai gonta ganti wartawan. Ada yang baru masuk dua hari, besoknya tak kembali. Bahkan, ada yang menjadi karyawan agar tulisannya masuk koran, supaya bisa jadi bahan kliping untuk melamar kerja di tempat lain. Bahkan di umur ke-2 Bontang Post, saya sudah diperingati kerabat saya. “Koran akan mati tergerus media online,” kata seorang kerabat.

Bukan takabur tapi bersyukur, saat ini Bontang Post sudah berusia 7 tahun, usia yang cukup besar bagi sebuah perusahaan. Kami belum benar-benar merasakan “tergerus” seperti kata kerabat tadi. Alhamdulillah.
Saat ini komposisi redaksi sangat pas, tidak kurang, juga tidak berlebihan. Jika dulu wartawan Bontang Post bisa sampai 9 orang, sekarang hanya 4 orang. Paket hemat dan setiap wartawan punya taste yang berbeda-beda. Saya perkenalkan satu persatu: Bambang, lihai menulis berita olahraga dan kriminal, Mega Asri jago menulis berita seputar pemerintahan, berita kota, dan juga kriminal, ada lagi Adiel Kundhara yang piawai menulis berita politik, terakhir Ahmad Nugraha yang kini sedang magang di Indopos, Jakarta. Dia terbiasa menulis berita seputar politik dan hukum.

Di desk redaktur, diisi Muhammad Zulfikar Akbar dan Yusva Alam. Dua pemuda yang juga punya keahlian masing-masing dalam mengkritisi berita para wartawan. Melalui komposisi yang ada, kami yang kini membangun koran ditengah merebaknya media online.

Kami di Bontang Post optimistis, koran tidak akan mati.

Perkembangan teknologi memang luar biasa, namun tidak semua penduduk mengikuti gaya hidup yang serba teknologi. Karena terbiasa memegang smartphone dan media sosial akan menguras lebih banyak waktu dan perhatian untuk tahu informasi dan kabar. Bayangkan saja, setiap ingin buka rubrik atau kanal berita, pengguna smartphone harus merelakan kuotanya terkuras. Sementara koran? Bolak balik saja kertasnya. Hehe.

Koran masih dipilih karena orang dengan mudah akan membolak balik halaman, membaca yang disukai, melipat, atau membuang-menyimpan. Media yang akan bertahan adalah media yang mampu mengikat rasa memiliki atau kebersamaan dari narasumber atau komunitas. Ketika narasumber diberitakan aktivitasnya atau ada hal-hal baru yang bermanfaat untuk komunitasnya, maka media tersebut akan dipilih.

Pada kesempatan ini, izinkan saya berterima kasih kepada senior-senior di Bontang Post terdahulu yang sudah memberikan saya pencerahan dan ilmu yang bergizi di dunia jurnalistik. Tak hanya itu, saya juga sampaikan respect saya untuk para redaktur dan wartawan yang kini mengisi boks redaksi. Mari bersama besarkan koran. Selamat ulang tahun yang ke-7 Bontang Post. (***)


BACA JUGA

Sabtu, 28 Oktober 2017 00:30

Jadilah ‘Pemuda Zaman Now’ yang Menginspirasi

Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar (Redaktur Bontang Post) MUNCUL kalimat baru di kalangan generasi milenial…

Selasa, 03 Oktober 2017 00:15

Maju Terus KPK

Catatan :  Ahmad Nugraha Pembatalan status tersangka Setya Novanto oleh hakim pra peradilan Pengadilan…

Selasa, 29 Agustus 2017 00:18

Hoaks atau Bukan?

Belakangan ini berita hoax atau hoaks (berita palsu) merajarela di berbagai media sosial. Dengan juga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .