MANAGED BY:
SENIN
15 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Rabu, 29 November 2017 01:08
Catatan dr H Sofyan Hasdam Sps, Tentang COP23 di Bonn, Jerman (1)

Arti COP to The United Nations Framework Convension on Climate Change

HADIRI PERTEMUAN: Sofyan Hasdam bersama sang istri, Neni Moerniaeni, saat berada di Bonn, Jerman.(Dok Pribadi/ Bontang Post)

PROKAL.CO, Berkesempatan mengikuti pertemuan Conference of The Parties(COP) to The United Nations Framework Convention On Climate Change ke-23 (COP23) di Bonn Jerman dari tanggal 8 -14 November, menurut Sofyan Hasdam, pertemuan ini banyak hal yang perlu dikaji bersama.

 

Pertemuan ini diikuti oleh sekitar 300 kepala negara dan pemerintahan serta politisi yang mewakili negaranya masing-masing, pertemuan dihadiri oleh sekitar 40.000 orang delegasi dari seluruh dunia.

COP23 ini bukanlah pertemuan biasa saja, di mana asal-muasal pertemuan ini berawal dari kegelisahan  para ahli lingkungan dan kepala-kepala negara utamanya negara maju, tentang terjadinya pemanasan suhu bumi, sehingga tahun 1988, badan PBB untuk lingkungan United Nation Environment Programme (UNEP) dan organisasi meteorology dunia World Meteorology Organization (WMO) mendirikan sebuah panel  antar pemerintah untuk perubahan iklim yang disebut Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) yang terdiri dari sekitar 300 lebih pakar perubahan iklim dari seluruh dunia.

Untuk itu, pada tahun 1990 dan 1992, IPCC memprediksikan bahwa penggandaan jumlah gas rumah kaca di atmosfer mengarah pada konsekuensi serius bagi masalah sosial, ekonomi dan sistem alam di dunia. Selain itu, IPCC memprediksikan bahwa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia juga memberikan kontribusi pada gas rumah kaca alami dan akan menyebabkan atmosfer bertambah panas.

Untuk lebih intensifnya pembicaraan mengenai perubahan iklim dan pemanasan global, maka oleh PBB dibentuk lembaga untuk negosiasi para pihak, di mana COP pertama dilaksanakan di Berlin pada tahun 1995. Pertemuan ini berlangsung berpindah-pindah negara setiap tahun dan pada tahun ini COP23 diselenggarakan di kota yang dikenal ramah lingkungan: Bonn, Jerman.

Setiap pertemuan COP, yang dirumuskan adalah bagaimana membuat kesepakatan atau langkah bersama agar tidak terjadi kenaikan suhu bumi. Artinya, bagaimana mengurangi terbentuknya gas rumah kaca di atmosfer. Disinilah letak alotnya perdebatan, karena hal ini menyangkut keinginan dari semua negara untuk mengorbankan kepentingan nasionalnya demi tercapainya kepentingan bersama.

Sebagai contoh, untuk menurunkan jumlah emisi diseluruh dunia, maka semua negara harus menurunkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh negaranya. Dengan kata lain, pengorbanan terbesar diharapkan datang dari negara-negara industri besar seperti Amerika Serikat, Jepang, negara di Uni Eropa, Rusia dan Australia.

Oleh karena itulah keterlibatan Amerika Serikat dalam setiap kesepakatan yang membicarakan masalah perubahan iklim dan pemanasan global sangat diharapkan, karena Amerika merupakan negara penghasil emisi terbesar di dunia. Sayangnya, Amerika tidak rela mengorbankan kepentingan nasionalnya demi kepentingan bersama, sehingga ketika berlangsung pertemuan di Kyoto Jepang pada tahun 2005 yang menghasilkan “Protokol Kyoto”, Amerika tidak mau meratifikasi perjanjian ini.

Mengapa Amerika tidak menyetujui “Protokol Kyoto”?. Karena dalam perjanjian ini, Amerika harus menurunkan tingkat emisi yang dihasilkannya sebesar 7 persen. Artinya, Amerika harus mengurangi aktifitas industrinya yang tentu berdampak pada penurunan hasil produksi yang mereka hasilkan. (andiyusrianto) Bersambung.


BACA JUGA

Senin, 08 Oktober 2018 19:32

Desain Ideal Peraturan Daerah

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H., LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Samarinda) Peraturan…

Minggu, 07 Oktober 2018 00:02

Jangan Kebiri KPK

Oleh: Nason Nadeak, SH.,MH (Pimpinan Law Office Nason Nadeak, SH, MH & Associates) Upaya Pemerintah…

Selasa, 25 September 2018 00:04

Sangsel Bangkit Bersama Media

Dhedy Ketua Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT)  SANGATTA Selatan merupakan salah satu  …

Senin, 24 September 2018 18:29

Problematika PAW Anggota DPRD Samarinda

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H., LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Samarinda) Pergantian…

Senin, 17 September 2018 19:38

HAMIL DULUAN, NIKAH KEMUDIAN? OOH NO!

Oleh : Muthi' Masfu'ah / Yattini *) Owner Rumah Kreatif Salsabila, Koordinator Literasi DPW Kaltim dan…

Senin, 17 September 2018 19:33

Nasib Caleg Eks Koruptor Pasca Putusan MA

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H., LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Unmul Samarinda) Sejak awal penyusunan,…

Sabtu, 15 September 2018 00:20

ETIKA MASYARAKAT MAJEMUK

Sektiono Ketua Forum Pembauran Kebangsaan ( FPK ) – KOTA BONTANG  Kita menyadari bahwa dunia…

Kamis, 13 September 2018 18:38

Politik Dua Kaki DPRD

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H.,LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman) Dewan Perwakilan…

Kamis, 06 September 2018 23:50

Medali Emas untuk Indonesia, Tambang Emas untuk Asing

Oleh: Dian Eliasari, S.KM  Usai sudah perhelatan akbar Asian Games 2018, meskipun ada duka dibalik…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:05

Kemerdekaan Yang Tergadai

Oleh: Yusi Wulandari Ibu Rumah Tangga Agustus, bulan sakral bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .