MANAGED BY:
SENIN
15 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Kamis, 30 November 2017 00:18
Mengapa COP21 Lebih Populer dan Pengaruh Kemenangan Donal Trump

Catatan dr H Sofyan Hasdam Sps, Tentang COP23, di Bonn, Jerman (2)

ABADIKAN MOMEN: Bagi Sofyan Hasdam, COP21 merupakan pertemuan yang paling populer yang pernah diikutinya. (Dok Pribadi for Bontang Post)

PROKAL.CO, Banyak konsep telah dirumuskan di setiap pertemuan COP. Tapi menurut Sofyan Hasdam yang dijabarkan dalam catatannya selama menghadiri COP23 di Bonn, dari sekian banyak pertemuan COP yang telah dilaksanakan, COP 21 di Paris lah yang sangat popular. Mengapa, karena di Paris inilah dicapai hasil lebih maju dan lebih konkrit. Dikenal dengan kesepakatan Paris atau “Paris Agreement”. Kesepakatan Paris juga ikut disetujui Presiden Amerika Obama. Di mana kesepakatan ini meliputi masalah mitigasi, emisi gas rumah kaca dan keuangan.

 

Dalam kesepakatan Paris telah terlihat keinginan Negara-negara maju untuk mengorbankan kepentingan nasionalnya dalam rangka komitmen bersama   menghadapi ancaman perubahan iklim, dan juga bersama mencapai tujuan untuk melindungi kelompok rentan di dunia. Tujuan tersebut adalah untuk menahan laju peningkatan temperatur global hingga dibawah 2 derajat Celcius dari angka sebelum revolusi industri  atau bahkan 1,5.

Untuk mencapai hal tersebut maka semua negara harus memenuhi komitmen antara lain; Semua negara harus menahan laju kerusakan hutan (deforestrasi), degradasi lahan dan memperbaiki tata kelola lahan. Juga transisi menuju ke penggunaan energi bersih dan terbarukan. Pembangunan harus dilakukan dengan prinsip rendah karbon. Dalam hal ini harus bekerjasama dengan aktor non pemerintah, termasuk bisnis, kota, dan masyarakat luas.

Kesepakan Paris ini berlaku dan harus dilaksanakan pada tahun 2020, yaitu lima tahun setelah diputuskan pada tahun 2015, dan ditanda tangani di New York pada tanggal 22 April 2016 dan telah diratifikasi oleh 55 negara, dimana 55 negara ini telah mewakili sebesar 55 % emisi gas rumah kaca didunia.

Sofyan Hasdam berpendapat, Jika kesepakatan Paris dapat dilaksanakan, selain dapat menahan laju kenaikan suhu global bumi, juga dapat meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, meningkatkan ketahanan iklim dan melaksanakan pembangunan rendah emisi gas rumah kaca tanpa mengancam produksi pangan.

Dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh negara maju, emisi yang dihasilkan oleh Indonesia tidak sebesar mereka. Namun Indonesia menjadi penting artinya karena jumlah penduduknya yang besar, laju kerusakan hutannya tinggi dan sumber energinya mayoritas masih menggunakan energi fosil yang sumbangannya untuk gas rumah kaca sangat besar.

Menariknya ketika COP21 sementara berlangsung di Paris, isu tentang rencana majunya Donald Trump sebagai kandidat presiden Amerika Serikat menjadi perbincangan yang hangat dan meresahkan pihak COP. Mereka telah mengetahui sifat dan kepribadian Trump yang sering nyeleneh dan aneh-aneh. Mereka khawatir kalau Trump terpilih, bisa membatalkan keikut sertaan Amerika dalam kesepakatan Paris yang telah ditandatangani oleh presiden Obama

Untuk mengantisipasi hal tersebut, dibuatlah aturan yang disepakati bersama bahwa jika ada negara yang akan mundur dari kesepakatan tersebut, baru bisa mereka laksanakan empat tahun terhitung sejak pengajuan pengunduran dirinya. Sehingga jika Trump terpilih dan menyatakan mencabut diri, maka itu baru bisa berlaku efektif empat tahun kemudian. Dengan kata lain itu baru bisa dia lakukan pada akhir masa jabatannya, sehingga jika Trump tidak terpilih lagi, Amerika bisa kembali masuk ke dalam kesepakatan Paris.

Prediksi itu ternyata benar. Donal Trump terpilih menjadi Presiden Amerika. Begitu terpilih, Trump menyatakan mundur dari “Paris Agreement” yang mewajibkan Amerika menurunkan emisinya sebesar 7 %. Tetapi untungnya bahwa sikap Trump itu tidak serta merta menggambarkan keinginan dari seluruh rakyat Amerika. Mayoritas rakyat Amerika tetap ingin berada bersama masyarakat internasional lainnya untuk memerangi terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Oleh karena itu, dalam arena COP23, Amerika membangun sebuah dome yang besar yang didalamnya sepanjang hari melakukan aktivitas yang menggambarkan bahwa Amerika tetap dalam frame kesepatan Paris. Diluar dome tersebut tertulis “ U.S. Climate Action Center. We Are Still In”. Dalam hal ini mereka mempertegas bahwa mereka masih disini. Ditempat ini sepanjang hari dilakukan dialog, seminar yang pada intinya bahwa rakyat Amerika tetap berada dalam koridor kesepakatan Paris.(andiyusrianto) (Bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 13 September 2018 18:38

Politik Dua Kaki DPRD

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H.,LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman) Dewan Perwakilan…

Kamis, 06 September 2018 23:50

Medali Emas untuk Indonesia, Tambang Emas untuk Asing

Oleh: Dian Eliasari, S.KM  Usai sudah perhelatan akbar Asian Games 2018, meskipun ada duka dibalik…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:05

Kemerdekaan Yang Tergadai

Oleh: Yusi Wulandari Ibu Rumah Tangga Agustus, bulan sakral bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut,…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:23

Jerat Narkoba di Kota Taman

Oleh: Dian Eliasari, S.KM Pendidik. Ibnu Taimiyah ra. berkata, "Narkoba sama halnya dengan zat yang…

Minggu, 22 Juli 2018 00:20

Aplikasi Tik Tok, Potret Generasi Alay yang Abai

Oleh Nurul Inayah, SEI (Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang)  Para pegiat dunia maya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .