MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Sabtu, 06 Januari 2018 00:47
dengan Cooperative Learning Tipe TPS (Thing, Pair, Share)

Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keterampilan Sosial Siswa

Titik Sudarmini, S.Pd SMA N 1 Bontang - Kalimantan Timur Jl. DI Panjaitan Gg Piano 11 No 59 Bontang- Kaltim

PROKAL.CO, Catatan: 

Titik Sudarmini, S.Pd

SMA N 1 Bontang - Kalimantan Timur

Jl. DI Panjaitan Gg Piano 11 No  59 Bontang- Kaltim 

Abad 21 ditandai oleh masyarakat global yang interdependen dan institusi sosial menuntut kerjasama yang tinggi diantara anggota-anggotanya. Konsekuensinya, kebanyakan orang menjunjung tinggi perilaku kooperatif dan percaya bahwa perilaku itu merupakan tujuan penting pendidikan. Banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, seperti tim olah raga, drama, dan musik diklaim memberdayakan ketrampilan ini. Akan tetapi bagaimanakah dengan kegiatan-kegiatan di dalam kelas itu sendiri? Apakah proses pembelajaran yang disebut Cooperative Learning memiliki dampak pada pembentukan sikap dan perilaku terhadap siswa? 

 

Pembelajaran kooperatif bukan merupakan konsep baru, selama lebih dari dua dekade teori pembelajaran kooperatif telah menghasilkan perubahan dalam praktek pembelajaran. Para pakar pembelajaran kooperatif dan para guru telah mengidentifikasi komponen-komponen dasar dari pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan belajar kelompok. Slavin (2008) mengemukakan 4 prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif, yaitu: 1) interaksi siswa yang berkelanjutan, 2) saling ketergantungan yang positif, 3) akuntabilitas individu,  dan  4) partisipasi yang setara. Interaksi siswa yang berkelanjutan mencerminkan tingkat aktivitas yang tinggi dalam kelompoknya, hal ini menunjukkan bahwa setiap siswa memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Saling ketergantungan ditunjukkan dengan pernyataan prestasi setiap anggota kelompok yang merupakan prestasi kelompok dan setiap tugas dapat dipenuhi bila semua anggota aktif berpartisipasi. Akuntabilitas individu dapat dijelaskan dari kepercayaan diri dan harga diri setiap anggota agar dapat berpartisipasi dalam kelompoknya. Partisipasi yang setara dapat dirangsang dengan cara menstrukturisasi aktivitas agar setiap anggota memiliki peran yang sama serta memberikan penilaian sesuai dengan kontribusi setiap anggota.

 

Slavin (2008) membedakan metode pembelajaran kooperatif dengan metode lainnya termasuk belajar kelompok dengan mengemukakan enam ciri utama, yaitu 1) kelompok mempunyai tujuan, 2) menekankan pada akuntabilitas individu, 3) setiap anggota memiliki kesempatan yang sama, 4) penekanan pada kompetisi kelompok, bukan kompetisi individu, 5) spesialisasi tugas setiap anggota kelompok, dan 6) menjembatani adaptasi kebutuhan individu. Beberapa ahli berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Arends (2008) menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga tujuan yang dapat dicapai dari pembelajaran kooperatif, yaitu: 1) Peningkatan prestasi akademik, 2) penerimaan terhadap keragaman (suku, sosial, budaya, kemampuan, dan sebagainya), dan 3) pengembangan ketrampilan sosial dalam memecahkan masalah.

 

Cooperative learning mempunyai banyak tujuan dalam meningkatkan ketrampilan sosial, tetapi juga berperan dalam meningkatkan tugas akademik siswa. Para pendukung Cooperative learning percaya bahwa struktur reward dalam pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan akademik siswa dan mengubah norma-norma yang terkait dengan prestasi. Pembelajaran kooperatif dapat menguntungkan siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi maupun rendah. Siswa dengan kemampuan akademik tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa dengan kemampuan akademik rendah. Dalam proses seperti ini siswa dengan kemampuan akademik tinggi akan memperoleh hasil secara akademik karena bertindak sebagai tutor menuntut untuk berpikir lebih mendalam, sedangkan siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih giat belajar.

 

Efek pembelajaran kooperatif yang kedua adalah penerimaan terhadap keragaman, artinya kontak fisik diantara siswa yang berbeda-beda budaya, ras, dan kelas sosial memberikan kesempatan untuk bekerja secara interdependen pada tugas yang sama dan belajar untuk saling menghargai. Tujuan ketiga dari dari pembelajaran kooperatif adalah pengembangan ketrampilan sosial. Di masyarakat, banyak orang muda maupun orang dewasa kurang mempunyai ketrampilan sosial yang efektif. Situasi ini terbukti dengan banyaknya perselisihan diantara individu-individu yang mencetuskan tindakan kekerasan dan betapa seringnya orang-orang menyatakan ketidakpuasannya dengan cara-cara yang kurang arif dan bijaksana. Dengan pembelajaran kooperatif tingkat intelegensi dan emosinya  akan terlatih dengan baik ketika bekerjasama secara terbimbing dalam  proses pembelajaran.

 

Beberapa model pembelajaran kooperatif diantaranya: Student Teams Achievement Division (STAD), Group Investigation (GI), Numbered Heads Together (NHT),  Jigsaw, dan Think-Pair-Share (TPS). Dalam kajian ini yang akan dipaparkan lebih lanjut adalah model pembelajaran kooperatif TPS.

 

TPS dikembangkan oleh Frank Lyman pada tahun 1985 dan teman-temannya di Universitas Maryland. Pendekatan ini berasumsi bahwa semua resitasi atau diskusi perlu dilakukan dalam setting seluruh kelompok, dan memiliki prosedur-prosedur built-in untuk memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk lebih banyak berpikir, merespons, dan saling membantu (Arends, 2008). TPS terdiri atas tiga langkah penting yaitu 1) Think, pada langkah ini guru mengajukan suatu permasalahan atau isu penting yang terkait dengan materi pembelajaran. Siswa diminta menggunakan waktu satu menit untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Siswa di beritahu bahwa berbicara tidak menjadi bagian dari waktu berpikir, 2) Pair, pada langkah ini siswa diminta untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan. Pada kesempatan ini siswa dapat saling berbagi jawaban bila bertanyaan yang diajukan atau berbagi ide jika harus menanggapi isu tertentu. Biasanya guru memberikan waktu antara empat sampai lima menit untuk berpasangan, 3) Share, langkah terakhir ini guru meminta pasangan siswa untuk berbagi hasil diskusi dengan pasangannya kepada seluruh kelas. Guru berjalan mengelilingi ruangan, dari satu pasangan ke pasangan lainnya sampai sekitar seperempat atau separuh pasangan berkesempatan melaporkan hasil diskusi mereka. (*)

 


BACA JUGA

Minggu, 22 Juli 2018 00:20

Aplikasi Tik Tok, Potret Generasi Alay yang Abai

Oleh Nurul Inayah, SEI (Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang)  Para pegiat dunia maya…

Senin, 25 Juni 2018 00:05

Dinamika Pemilihan Kepala Daerah di Kaltim

Oleh: Rajja “Kekacauan, kecurangan, kurang pengawasan, keterpurukan, karut-marut, dan lain-lain…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .