MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Sabtu, 10 Februari 2018 00:37
Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu
Oleh Dahlan Iskan

PROKAL.CO, Oleh Dahlan Iskan

Saya sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) ke skala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan dibanding skala 9.

Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan.

Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.

Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur. 

Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.

Selebihnya harus berangkat ke Makkah. Terutama Azrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istri Azrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.

Tatang, suami Isna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umroh mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.

Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bisa cepat.

Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umroh. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya ya ya.

Sakit saya masih datang pergi. Pergi datang. 

Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk RS di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya. Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara. 

Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit. 

“Tidak mungkin kalau malam ini,” jawab saya. “Tidak kuat.”

Isna kembali utak-atik handphone. 

“Besok malam ada?” tanya saya.

“Ada juga,” jawab Isna.

“Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya. “Anda nyusul ke Makkah.”

Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bisa pulang dengan kondisi seperti ini?
Berulang-ulang saya yakinkan bahwa saya akan bisa sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.

Isna mencoba ngotot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedang saya, seberapa sakit pun, adalah ‘’anak besar’’.

Malam itu Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.

Tapi Isna menemukan kontak lain: rombongan dokter dari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus Parama Bambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra Putera Lubis.

Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umroh itu: Prof Rowena G. Hoesin, 
dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebis dan dr Irfani Prajna Paramita. 

Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokter seadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman.

Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah. 

Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baik saya di Singapura. Robertlah yang paling tahu riwayat kesehatan saya. Robertlah yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.

Robertlah yang merawat saya hampir dua tahun saat saya sakit kanker hati dulu. Robertlah yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.

Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.

Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Toh ini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.

Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan.

Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (*)


BACA JUGA

Selasa, 22 Mei 2018 19:09

Pemkot Mulai Petakan Titik Kemacetan

SAMARINDA – Upaya antisipasi mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mencegah…

Minggu, 20 Mei 2018 00:12

Tak Ada Surga bagi Teroris

Oleh Lukman Maulana Redaktur Bontang Post ­­­ Teror bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya,…

Jumat, 18 Mei 2018 00:02

Gagal Jumatan di Hays

Oleh: Dahlan Iskan Saya gagal Jumatan. Tidak berhasil menemukan masjid. Padahal segera bulan puasa.…

Minggu, 13 Mei 2018 00:46
KOLOM MINGGU

Bela Diri atau Bunuh Diri?

CATATAN LUKMAN MAULANA Redaktur Bontang Post  BEBERAPA waktu lalu, publik Bumi Etam dikejutkan…

Kamis, 10 Mei 2018 00:15

Dua Korea, Seperti Apa?

Oleh: Dahlan Iskan Akan menjadi seperti apakah jazirah Korea kelak? Setalah Utara dan Selatan berhenti…

Minggu, 06 Mei 2018 00:00

Menanti “Hiburan” Kedua

Oleh: Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  RABU (9/5) mendatang masyarakat Kaltim akan kembali…

Jumat, 04 Mei 2018 23:59

Bicara Politik di Masjid…Why Not?

Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post  Siapa bilang tak boleh bicara politik di dalam masjid.…

Minggu, 29 April 2018 00:09

Antara TKA dan TKI

Oleh Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  ISU tenaga kerja asing (TKA) yang konon membeludak…

Jumat, 27 April 2018 00:33

Sarapan Saya: Menu Kuda

Oleh: Dahlan Iskan  Saat ini saya tinggal di desa. Desanya Amerika. Di pelosok sekali. Kalau Anda…

Kamis, 26 April 2018 00:51

Pilihan Anti Mainstream

Oleh: Yusva Alam Redaktur Bontang Post  Jokowi versus Prabowo. Yup keduanya saat ini bak artis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .