MANAGED BY:
RABU
23 JANUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Senin, 02 April 2018 18:22
Melakukan Koreksi
Oleh: Purwanti Rahayu Ibu Rumah Tangga

PROKAL.CO, Oleh: Purwanti Rahayu

Ibu Rumah Tangga

Banyak terjadi sekarang di dunia maya atau dunia nyata yang mengkritik penguasa terutama presiden Jokowi, mengkritik mulai dari kebijakannya yang tidak pro rakyat, mengkritik cara berpakaiannya yang tidak sesuai moment, banyak juga meme-meme ala netizen yang menjurus ke pribadi beliau & berita yang terbaru ada seorang mahasiswa UI yang memberi kartu kuning kepada jokowi.

Kata Fadli Zon menegaskan Fraksi Gerindra menolak masuknya pasal penghinaan pada Presiden dalam revisi UU KUHP. Fadli menilai pasal tersebut jelas bertentangan dengan demokrasi. Dengan demokrasi saja sudah bertentangan apalagi dengan Allah sudah sangat jelas bertentangannya karena Allah adalah sang Khalik yang maha segalanya bagaimana mungkin bisa seorang presiden di atas segala-galanya dari sang Pencipta ini sangat jelas bertentangan dalam islam.

Oleh karena itu maka wajib bagi kaum Muslim untuk melakukan koreksi (muhasabah ) kepada penguasa yang melakukan kemungkaran. Bahkan Rasulullah Saw menjelaskan kewajiban serta keutamaan melakukan koreksi kepada penguasa.
Al-Thariq menuturkan sebuah riwayat:

“Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw, seraya bertanya, “Jihad apa yang paling utama.” Rasulullah Saw menjawab,’ Kalimat haq (kebenaran) yang disampaikan kepada penguasa yang zalim.“ (HR. Imam Ahmad).

Dalam riwayat lain diriwayatkan: “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw tatkala ia melakukan jumrah ‘aqabah pertama, “Ya Rasulullah, apa jihad yang paling utama?” Rasulullah Saw diam. Ketika melakukan jumrah ‘aqabah kedua, laki-laki itu bertanya lagi, “Ya Rasulullah, apa jihad yang paling utama?” Namun, Rasulullah saw tetap diam. Lalu, tatkala melakukan jumrah ‘aqabah ketiga, ia bertanya lagi kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, apa jihad yang paling utama?” Rasulullah saw memasukkan kakinya ke pelana kuda, hendak menaikinya, seraya berkata,”Siapa yang bertanya tadi?” Laki-laki itu menjawab, “Saya ya Rasulullah.” Beliau saw menjawab, “Kata-kata haq yang ditujukan kepada penguasa zalim.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Di dalam riwayat lain, Rasulullah Saw telah mendorong kaum Muslim untuk menentang dan mengoreksi penguasa dzalim dan fasiq, walaupun harus menanggung resiko hingga taraf kematian.

Rasulullah Saw bersabda: “Pemimpin syuhada’ adalah Hamzah, serta laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia menasehati penguasa tersebut, lantas, penguasa itu membunuhnya.” (HR Hakim dari Jabir).

Itulah hukum muhasabah kepada penguasa sebagai bagian dari amar makruf nahi mungkar, karena pemimpin adalah pelayan umat yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Wallahu a'lam bishowab. (*)


BACA JUGA

Senin, 07 September 2015 20:31

Kanaan Bentuk Satgas P2KP

<p class="normal" style="text-align: justify;"><strong>BONTANG</strong>…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*