MANAGED BY:
SENIN
23 APRIL
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Minggu, 15 April 2018 00:00
Tafsir Baru Usep
SEPERTI BUKU: Alquran tafsir yang disusun oleh Usep Fathuddin.(DAHLAN ISKAN)

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan

Inilah satu jenis tafsir Alquran yang baru terbit. Dikhususkan untuk kalangan sarjana. Atau intelektual muslim.

Rasanya baru kali ini ada terjemahan Alquran yang seperti ini: bentuk, tebal dan ukurannya seperti buku biasa. Atau  seperti novel. Tidak terlihat seperti kitab suci: Quran atau pun Bibel.

Kalau saya tidak membaca judulnya saya tidak tahu: bahwa ini Alquran dan terjemahannya.

Bahkan lihatlah sampulnya. Kertas biasa. Bukan kertas tebal seperti biasanya. Dan tidak ada satu pun huruf Arab di sampulnya.

Mengapa dibuat seperti itu? Saya pun penasaran. Saya cari nomor telepon penyusunnya. Maka saya pun langsung bertanya ke penyususun tafsir tersebut: Usep Fathuddin. Yang dikenal dekat dengan tokoh pembaharu seperti Nurcholish Madjid. Dan memang segenerasi.

Kang Usep terlihat sangat prihatin. “Umumnya para cendekiawan, ICMI atau bukan ICMI, tidak suka membaca Quran, termasuk terjemahannya,” katanya.

“Terjemahan yang ada selama ini hampir selalu menggunakan huruf yang kecil dengan lebar terjemahan 1/3 halaman atau kurang,” tambahnya.

Karena itu Kang Usep membuat edisi yang berbeda. Terjemahannya tidak ditulis di  bawah atau di samping ayat asli.

Terjemahannya dikelompokkan jadi satu. Jadi, kalau membuka buku ini dari kiri, tidak ada huruf Arabnya.

Sejak halaman satu sampai seterusnya isinya penuh dalam bahasa Indonesia. Baru kalau kita buka buku ini dari kanan isinya Alquran dalam bahasa aslinya.

Dengan demikian pembaca bisa membaca tafsir dari awal sampai selesai. Tanpa perlu melihat huruf aslinya. Bahkan Kang Usep memberi judul. Untuk setiap tiga atau empat ayat. Yang isinya berada dalam satu tema.

“Setahu saya cara ini belum ditemukan pada terjemahan lain,” kata Kang Usep.

Agar ketebalan kitab ini bisa mirip buku biasa Kang Usep membaginya dalam dua jilid. Masing-masing 15 juz. Dengan demikian bentuk, ukuran maupun tebalnya mirip buku biasa. Kalau ada orang membawa buku ini tidak akan terlihat sedang membawa kitab suci.

Saya sudah membacanya beberapa juz. Termasuk terjemahan surah Al Maidah ayat 51.

Saya tidak melihat adanya penerjemahan beda. Standar terjemahan yang sudah kita kenal. Lalu mana yang dimaksudkan khusus untuk cendekiawan itu?

Terjemahan Alquran versi Kang Usep ini sangat standar. Tidak ada pemikiran baru. Tidak ada tafsir yang berbeda. Termasuk untuk Al Maidah 51.

Ini berbeda kalau saya melihat tafsir lain. Misalnya tafsir Quran berbahasa Jawa: Al Ibriz. Terbitan 1938. Oleh KH Bisri Mustofa. Ayah KH Mustofa Bisri dari Rembang itu.

Lihat kata “persasat” di tafsir Al Maidah ayat 51 di Al Ibriz itu. Kata “persasat” memang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa Arab sangat kaya akan makna. Seperti juga bahasa Mandarin.  Tafsir bahasa Jawa pasti bisa lebih pas dalam mengimbangi kekayaan bahasa Arab.

Lihat juga kata dalam bahasa Jawa “asih asihan” di tafsir ayat itu. Sama sekali tidak berbau pilih-memilih pemimpin. Mungkin di tahun 1938 ketika tafsir Al Ibriz diterbitkan memang belum ada istilah ini: pilkada.

Saya juga pernah membaca tafsir Alquran versi Iran. Yang saya beli saat saya ke Iran dulu. Artinya: versi Syiah.

Saya bisa menangkap nuansa yang berbeda dalam pemaknaan istilah. Sayang tafsir itu dipinjam orang. Dan saya lupa siapa yang meminjam. Sudah begitu lama.

Namun tafsir Kang Usep yang khusus diperuntukkan cendekiawan ini benar-benar sangat standar. Lantas di mana letak kecendekiawanan tafsir ini?

Kang Usep ternyata punya maksud khusus dengan buku tafsirnya ini. Yaitu agar lebih banyak cendekiawan muslim yang memahami Quran.

Sebab, tulisnya di kata pengantar, Alquran adalah salah satu kitab suci yang paling tidak dipahami oleh umatnya. Meski begitu banyak yang membacanya. Bahkan menghafalnya.

Tujuan Kang Usep adalah: memudahkan orang membawanya. Dan membaca terjemahannya. Ya sudah. Alhamdulillah.(dis)


BACA JUGA

Kamis, 19 April 2018 00:03

Menengok Si Jilbab di Nanjing

Oleh: Dahlan Iskan Mereka berjilbab. Tapi ngomong Mandarinnya… Haiiyyaaa... saya kalah. Mumpung…

Minggu, 01 April 2018 00:01

Pramugari Cathay dan Sopir Truk

Oleh Dahlan Iskan Inilah perjuangan panjang seorang pramugari: agar diperbolehlan pakai celana. Berhasil.…

Jumat, 30 Maret 2018 00:06

Suluk Pencuci Hati

Tulisan hari ini tidak usah Anda baca. Tidak ada gunanya. Ini bukan soal kondom. Juga bukan soal bulog…

Selasa, 20 Maret 2018 00:12

Ananda Belahan Hati Bunda

OLEH: DAHLAN ISKAN Saya menyesal tidak memotret kondisi rumah sakit ini 12 tahun lalu. Sungguh beda…

Rabu, 21 Februari 2018 00:19

Mensyukuri 11 Tahun Hati Baru

Oleh Dahlan Iskan  Mumpung hari itu ke laboratorium, saya “titip” untuk sekalian ditest…

Selasa, 20 Februari 2018 00:28

Pengukur Suhu, Alat Wajib Baru

Oleh Dahlan Iskan Hasil lab yang mengindikasikan muncul tidaknya kanker di tubuh saya selesai tepat…

Minggu, 18 Februari 2018 00:34

Bahagia Walau Gagal Gemuk

Oleh Dahlan Iskan  Berat badan saya turun terus. Tinggal 66 kg. Dari 70 kg sebelum operasi. Saya…

Sabtu, 17 Februari 2018 00:15

Selang Rp 500 Juta di Pembuluh Saya

Oleh Dahlan Iskan Kembali opname, saya langsung diinfus delapan botol. Dokter Mohammed Tauqeer Ahmad,…

Jumat, 16 Februari 2018 00:18

Tergoda Lanzhou Lamian Satu-satunya

Oleh Dahlan Iskan  Robert Lai mengabarkan kesuksesan operasi itu ke keluarga saya di Surabaya.…

Kamis, 15 Februari 2018 01:19

Pisau di Tangan Benjamin Chua dan Manish

Oleh Dahlan Iskan Tibalah saat operasi itu. Tempat tidur saya didorong dari kamar 803. Menuju…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .