MANAGED BY:
SELASA
25 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Jumat, 27 April 2018 00:33
Sarapan Saya: Menu Kuda
PELOSOK: Dahlan Iskan di ladang gandum di pedesaan Amerika menjelang panen. Foto dibuat hari Kamis (26/4) lalu.(DAHLAN ISKAN)

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan 

Saat ini saya tinggal di desa. Desanya Amerika. Di pelosok sekali. Kalau Anda buka peta Amerika tunjuklah titik tengahnya. Di situlah saya. Di Hays. Masuk negara bagian Kansas.

Saya pernah tinggal di pedesaan pelosok Tiongkok. Waktu bangun pagi bingung: cari tempat buang air. Itu 20 tahun lalu. Kamar tidurnya enak. Berkasur bagus. Tapi tidak punya toilet. Gak disangka sekarang modernnya bukan main.

Saya juga pernah tinggal di pedesaan Jepang. Di desa luar kota Nemuro. Di pulau Hokkaido. Di ujung paling utara pulau. Menghadap ke pulau-pulau Kuril. Yang disengketakan dengan Rusia.

Desanya modern. Dari rumah ke ke rumah (waktu itu) dihubungkan dengan interkom. Hanya ada beberapa puluh rumah di situ. Kedatangan saya bikin heboh kecil.

Diberitahukan ke semua rumah lewat interkom. Tidur saya di tatami. Yang dihampari kasur. Serba bersih. Serba rapi.

Rasanya badan sayalah yang akan membuatnya kotor.

Saya tidak diberi mimpi apa-apa. Suara ombak mendayu-dayu dari laut. Sepanjang malam yang sepi. Damai di bumi.

Kini saya di pedesaan Amerika. Rumah-rumahnya tanpa pagar. Semua punya mobil. Bahkan banyak yang dua. Salah satunya pick-up. Yang di desa ini disebut truck.

Di Tiongkok, di Jepang dan di Amerika sama. Pelosoknya sulit berkembang. Banyak desa (di sini disebut kota kecil) yang penduduknya berkurang. Terutama anak mudanya. Pindah ke kota besar.

Tentu tidak ada pembantu di rumah ini. Cuci piring sendiri. Cuci pakaian sendiri. Merapikan tempat tidur sendiri. Saya tidak mau bikin sampah: karena harus membersihkannya sendiri.

Saat menyiapkan makan sesedikit mungkin pakai peralatan dapur: agar tidak banyak mencucinya.

Saya menemukan cara ini: makan siang tanpa perlu mencuci apa pun. Makan burrito. Masakan  Mexico. Bikin sendiri. Sudah biasa. Untuk urusan burrito saya sudah pada tingkat, ehm, ahli:

Saya ambil piring. Agar piring tidak kotor saya lapisi tisu jenis tebal. Saya ambil beberapa bahan dari kulkas: sayur spinach, cuilan brocoli, salari, tiga macam chees, irisan daging atau ayam, mustard dan yang utama tortilla.

Lembaran bundar tortilla (baca: tortiya) saya hampar di atas tisu tadi. Sayur-mayur saya taburkan di atas tortilla.

Chees-nya saya potong-potong kecil dan saya taburkan di atas sayur. Kalau tidak mau cuci pisau nyuwilnya pakai tangan.

Lalu mustardnya saya cecerkan di atasnya. Selesai. Masukkan piring itu ke microwave. Satu menit. Keluarkan dan taruh lagi di meja dapur. Pekerjaan terakhir: menggulung tortilla itu. Jadilah gulungan burrito. Tisunya jangan dibuang. Pakai untuk bungkus gulungan.

Tidak perlu cuci apa pun setelah itu. Simple. Itulah makan siang saya sehari-hari. Enak sekali. Kalau lama tidak ke Amerika saya kangen  makan burrito made in disway ini.

Memang saya bisa membuatnya di Jakarta atau Surabaya. Cucu-cucu saya sering minta dibuatkan burrito. Seadanya. Rasanya tidak bisa sama.

Yang sulit: saya tidak bisa menemukan tortilla yang lembarannya lebar. Di Jakarta ada dijual tortilla. Lebarnya hanya separonya. Sulit menggulungnya. Tidak cukup pula untuk makan siang.

Yang juga sulit: mencari chees yang ada rasa pedasnya. Sudah saya kelilingi supermarket di Jakarta. Termasuk yang pelanggannya banyak orang asing: tidak ketemu.

Kalau sayur kale dan salari bisa di dapat di Jakarta maupun Surabaya. Namun mustard yang saya sukai itu tidak ada. Ada info?

Kelak, kalau pensiun dari disway, rasanya saya bisa buka kursus bikin burrito.

Makan pagi saya pun lebih simpel dari itu: oatmeal. Tiga sendok oatmeal. Masukkan ke mangkok. Beri air dari kran. Air kran di sini bisa diminum.

Masukkan microwave. Dua kali: masing-masing 1,5 menit. Pernah saya malas: langsung tiga menit. Toh sama-sama tiga menit.

Ternyata tidak. Gelembung-gelembung oatmealnya muncrat. Terlalu panas. Berhamburan mengotori dalamnya microwave. Berantakan.  Menimbulkan pekerjaan bersih-bersih yang merepotkan.

Di pedesaan Amerika ini saya baru tahu apa beda oat dan wheat. Oat dan gandum. Kalau dilihat di sawah bentuk tanamannya sangat mirip. Waktu panen apalagi. Bentuk bijinya sulit dibedakan. Saya masukkan kata 'wheat' di Google translate.

Terjemahannya: gandum. Saya masukkan kata 'oat'. Terjemahannya: gandum.

Pemilik rumah ini, John Mohn, juga sulit menjelaskan. Agak lama dia berpikir mencari jawaban. Agar bisa dengan mudah dimengerti.

Akhirnya dia, yang waktu muda ikut menggarap sawah dan menanam gandum, menemukan jawaban. Tepat dan sederhana. Lucu pula.

''Kalau wheat (gandum),'' katanya, ''itu makanan orang''.

Lanjutnya: ''Kalau oat itu makanan kuda.''

Jadi, saya ini sarapan makanan kuda?

''Jangan khawatir,'' katanya. ''Seluruh presiden Amerika sarapannya oatmeal.''

Ya, sudah. Lega. (dis)


BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 00:16

Herwan Legawa Tinggalkan Karang Paci

SAMARINDA – Silang sengkarut penggantian antar waktu (PAW) antara dua kubu yang sempat berseteru…

Rabu, 19 September 2018 00:38

Houston

Oleh: Dahlan Iskan Namanya masjid Istiqlal. Lokasinya di kota Houston, Texas, Amerika. Saya salat maghrib…

Rabu, 29 Agustus 2018 00:04

Airplane Mode ke Kecamatan Sembilan Warna

Oleh: Dahlan Iskan Gara-gara HP.  Saya lebih pilih kereta cepat daripada pesawat kalau lagi di…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:07

Menguji Kemauan Tidak Berkarat

Oleh: Dahlan Iskan   Tapi kambing-kambingnya ada. Tidak mengapa juragannya tidak ada: Ricky Elson…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:06

Polemik Kinibalu yang “Menampar”

Oleh: Ufqil Mubin, Wartawan Metro Samrinda  PENOLAKAN pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu sudah…

Sabtu, 04 Agustus 2018 17:03

Berita Besar Baterai Lithium

Oleh: Dahlan Iskan   Hati saya bergetar. Berita itu sangat mengejutkan: pabrik baterai lithium…

Minggu, 29 Juli 2018 00:05
Kolom Minggu

Politisi Sejati Bernama Rusmadi

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  GELARAN Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018 telah usai.…

Minggu, 29 Juli 2018 00:05

Ma Changqing dengan Ratusan Ribu Pelayat

Oleh: Dahlan Iskan Beberapa pembaca disway mengirim pertanyaan: benarkah ulama besar di Tiongkok meninggal?…

Rabu, 25 Juli 2018 00:37

Media Sosial dan Pariwisata

Oleh Muhammad Zulfikar Akbar Redaktur Pelaksana Bontang Post  SAYA baru saja mengikuti pelatihan…

Minggu, 22 Juli 2018 00:21
Kolom Minggu

Zohri dan PR Olahraga Kita

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  KEBERHASILAN Lalu Muhammad Zohri menjadi juara dunia lari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .