MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Jumat, 27 April 2018 00:33
Sarapan Saya: Menu Kuda
PELOSOK: Dahlan Iskan di ladang gandum di pedesaan Amerika menjelang panen. Foto dibuat hari Kamis (26/4) lalu.(DAHLAN ISKAN)

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan 

Saat ini saya tinggal di desa. Desanya Amerika. Di pelosok sekali. Kalau Anda buka peta Amerika tunjuklah titik tengahnya. Di situlah saya. Di Hays. Masuk negara bagian Kansas.

Saya pernah tinggal di pedesaan pelosok Tiongkok. Waktu bangun pagi bingung: cari tempat buang air. Itu 20 tahun lalu. Kamar tidurnya enak. Berkasur bagus. Tapi tidak punya toilet. Gak disangka sekarang modernnya bukan main.

Saya juga pernah tinggal di pedesaan Jepang. Di desa luar kota Nemuro. Di pulau Hokkaido. Di ujung paling utara pulau. Menghadap ke pulau-pulau Kuril. Yang disengketakan dengan Rusia.

Desanya modern. Dari rumah ke ke rumah (waktu itu) dihubungkan dengan interkom. Hanya ada beberapa puluh rumah di situ. Kedatangan saya bikin heboh kecil.

Diberitahukan ke semua rumah lewat interkom. Tidur saya di tatami. Yang dihampari kasur. Serba bersih. Serba rapi.

Rasanya badan sayalah yang akan membuatnya kotor.

Saya tidak diberi mimpi apa-apa. Suara ombak mendayu-dayu dari laut. Sepanjang malam yang sepi. Damai di bumi.

Kini saya di pedesaan Amerika. Rumah-rumahnya tanpa pagar. Semua punya mobil. Bahkan banyak yang dua. Salah satunya pick-up. Yang di desa ini disebut truck.

Di Tiongkok, di Jepang dan di Amerika sama. Pelosoknya sulit berkembang. Banyak desa (di sini disebut kota kecil) yang penduduknya berkurang. Terutama anak mudanya. Pindah ke kota besar.

Tentu tidak ada pembantu di rumah ini. Cuci piring sendiri. Cuci pakaian sendiri. Merapikan tempat tidur sendiri. Saya tidak mau bikin sampah: karena harus membersihkannya sendiri.

Saat menyiapkan makan sesedikit mungkin pakai peralatan dapur: agar tidak banyak mencucinya.

Saya menemukan cara ini: makan siang tanpa perlu mencuci apa pun. Makan burrito. Masakan  Mexico. Bikin sendiri. Sudah biasa. Untuk urusan burrito saya sudah pada tingkat, ehm, ahli:

Saya ambil piring. Agar piring tidak kotor saya lapisi tisu jenis tebal. Saya ambil beberapa bahan dari kulkas: sayur spinach, cuilan brocoli, salari, tiga macam chees, irisan daging atau ayam, mustard dan yang utama tortilla.

Lembaran bundar tortilla (baca: tortiya) saya hampar di atas tisu tadi. Sayur-mayur saya taburkan di atas tortilla.

Chees-nya saya potong-potong kecil dan saya taburkan di atas sayur. Kalau tidak mau cuci pisau nyuwilnya pakai tangan.

Lalu mustardnya saya cecerkan di atasnya. Selesai. Masukkan piring itu ke microwave. Satu menit. Keluarkan dan taruh lagi di meja dapur. Pekerjaan terakhir: menggulung tortilla itu. Jadilah gulungan burrito. Tisunya jangan dibuang. Pakai untuk bungkus gulungan.

Tidak perlu cuci apa pun setelah itu. Simple. Itulah makan siang saya sehari-hari. Enak sekali. Kalau lama tidak ke Amerika saya kangen  makan burrito made in disway ini.

Memang saya bisa membuatnya di Jakarta atau Surabaya. Cucu-cucu saya sering minta dibuatkan burrito. Seadanya. Rasanya tidak bisa sama.

Yang sulit: saya tidak bisa menemukan tortilla yang lembarannya lebar. Di Jakarta ada dijual tortilla. Lebarnya hanya separonya. Sulit menggulungnya. Tidak cukup pula untuk makan siang.

Yang juga sulit: mencari chees yang ada rasa pedasnya. Sudah saya kelilingi supermarket di Jakarta. Termasuk yang pelanggannya banyak orang asing: tidak ketemu.

Kalau sayur kale dan salari bisa di dapat di Jakarta maupun Surabaya. Namun mustard yang saya sukai itu tidak ada. Ada info?

Kelak, kalau pensiun dari disway, rasanya saya bisa buka kursus bikin burrito.

Makan pagi saya pun lebih simpel dari itu: oatmeal. Tiga sendok oatmeal. Masukkan ke mangkok. Beri air dari kran. Air kran di sini bisa diminum.

Masukkan microwave. Dua kali: masing-masing 1,5 menit. Pernah saya malas: langsung tiga menit. Toh sama-sama tiga menit.

Ternyata tidak. Gelembung-gelembung oatmealnya muncrat. Terlalu panas. Berhamburan mengotori dalamnya microwave. Berantakan.  Menimbulkan pekerjaan bersih-bersih yang merepotkan.

Di pedesaan Amerika ini saya baru tahu apa beda oat dan wheat. Oat dan gandum. Kalau dilihat di sawah bentuk tanamannya sangat mirip. Waktu panen apalagi. Bentuk bijinya sulit dibedakan. Saya masukkan kata 'wheat' di Google translate.

Terjemahannya: gandum. Saya masukkan kata 'oat'. Terjemahannya: gandum.

Pemilik rumah ini, John Mohn, juga sulit menjelaskan. Agak lama dia berpikir mencari jawaban. Agar bisa dengan mudah dimengerti.

Akhirnya dia, yang waktu muda ikut menggarap sawah dan menanam gandum, menemukan jawaban. Tepat dan sederhana. Lucu pula.

''Kalau wheat (gandum),'' katanya, ''itu makanan orang''.

Lanjutnya: ''Kalau oat itu makanan kuda.''

Jadi, saya ini sarapan makanan kuda?

''Jangan khawatir,'' katanya. ''Seluruh presiden Amerika sarapannya oatmeal.''

Ya, sudah. Lega. (dis)


BACA JUGA

Kamis, 07 Juni 2018 22:50
Pilgub Kaltim 2018

KPU Siapkan Tim Pakar Hukum

SAMARINDA – Upaya antisipasi dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim dalam mengawal berbagai…

Senin, 04 Juni 2018 17:44

Mosque of Laredo

Oleh: Dahlan Iskan  Saya datang terlalu awal: pukul 8 malam. Matahari masih bersinar perkasa. Pintu…

Kamis, 31 Mei 2018 00:01

Syukuran Arab Hays

Oleh: Dahlan Iskan Saya dapat kiriman buka puasa. Dari Rochman Budiyanto. Wartawan intelektual. Humoris.…

Selasa, 29 Mei 2018 00:02

Pesantren Pertama di Amerika

Oleh: Dahlan Iskan Disway tidak mampir ke New York. Itu bukan meniru judul novel Ayu Utami: "Laela Tidak…

Jumat, 25 Mei 2018 00:02

Rahasia Hape Imam Tarawih

Oleh: Dahlan Iskan Pokoknya beres. Setelah tahu rumah itu adalah masjid, saya merasa bebas: bisa datang…

Selasa, 22 Mei 2018 19:09

Pemkot Mulai Petakan Titik Kemacetan

SAMARINDA – Upaya antisipasi mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mencegah…

Minggu, 06 Mei 2018 00:00

Menanti “Hiburan” Kedua

Oleh: Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  RABU (9/5) mendatang masyarakat Kaltim akan kembali…

Jumat, 04 Mei 2018 23:59

Bicara Politik di Masjid…Why Not?

Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post  Siapa bilang tak boleh bicara politik di dalam masjid.…

Kamis, 03 Mei 2018 00:25

Obat #Stress2019 Ala Shanghai

Oleh: Dahlan Iskan  Waktu di Shanghai saya terkesima dengan berita ini: orang antre beli rumah…

Selasa, 01 Mei 2018 00:13

Ideologi Republik dari Kansas

Oleh: Dahlan Iskan  Saya lagi di negara bagian yang hampir seumur hidupnya dikuasai Partai Republik:…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .