MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Selasa, 01 Mei 2018 00:13
Ideologi Republik dari Kansas
BINCANG-BINCANG: Dahlan Iskan (paling kiri) dalam sebuah perbincangan santai dengan orang-orang tua di Kansas, ditemani John Mohn (dua dari kanan), sahabatnya.(DAHLAN ISKAN)

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan 

Saya lagi di negara bagian yang hampir seumur hidupnya dikuasai Partai Republik: Kansas. Uniknya negara bagian ini anti perbudakan.

Dalam perang saudara dulu Kansas termasuk paling depan. Melawan negara-negara bagian di Selatan yang ingin berdiri sendiri. Membentuk negara konfederasi. Memisahkan diri dari Amerika Serikat.

Ideologi perjuangan Partai Republik kita tahu: kapitalisme.  Dengan keturunannya: pajak rendah, birokrasi kecil, hak perorangan memiliki senjata, anti aborsi/LGBT, dan orang miskin itu  karena salahnya sendiri: tidak mau kerja keras. Tidak mau berhemat. Partai Demokrat berideologi sebaliknya.

Tapi di era modern ini banyak anggota Partai Republik yang tidak setuju sepenuhnya dengan ideologi itu. Pun sebaliknya. Kita umumnya anti kapitalisme. Mengapa? Pokoknya anti.

Tapi di negara bagian Kansas ini saya bisa menelusuri pelan-pelan: mengapa ideologi kapitalisme itu mendarah-mendaging. Sampai menjadi sikap perorangan. Kuat. Teguh. Kokoh.

Saya pun ingin  menyelami dalam-dalam. Sampai ke asbabun nuzulnya.

Hampir tiap hari saya bertemu orang tua. Yang ayahnya generasi pertama di Kansas. Yang datang ke wilayah ini pertengahan tahun 1800-an. Saat wilayah ini hanya berupa padang prairi. Hanya ada angin. Dan rumput. Yang tidak berhenti bergoyang.

Bahkan angin  terlalu banyak. Tornado sering datang. Berputar-putar.  Menghancurkan apa saja. Termasuk mencabut pohon. Itulah sebabnya tidak banyak pohon di sini. Gersang.

Siapa saja boleh datang ke sini. Boleh langsung menguasai tanah 160 acres. Sekitar 65 ha. Mengolahnya sendiri. Menjaganya sendiri. Dan setelah tinggal di situ tiga tahun boleh memilikinya.

Tidak ada listrik. Tidak ada air. Yang ada hanya kayu. Dan rumput kering. Setinggi manusia. Untuk dibakar. Sebagai sumber energi. Ada parit-parit kecil. Untuk diambil airnya. Sebagai sumber kehidupan.

Zaman itu begitu tiba mereka mulai membangun 'rumah'. Tanpa ada yang membantu. Awalnya hanya dari rumput: dinding dan atapnya. Atau membuat lubang seperti gua.

Pada musim dingin mereka sangat  tersiksa. Rumah seperti itu tidak cukup untuk menahan gigitan salju. Lalu bercocok tanam: sayur dan buah holtikultura. Di sekitar rumah.

Juga harus berburu. Sambill menunggu sayur tumbuh. Tidak ada sumber makanan lain. Tidak ada toko. Tetangga pun jauh: setengah kilometer.

Tapi banyak kelinci di padang praire itu. Bahkan kelinci besar. Yang disebut Jack Rabbit. Dua kali ukuran kelinci biasa. Warnanya seperti tupai. Itulah sumber makanan yang ada.

Pelan-pelan rumah mereka menjadi rumah kayu. Tanah yang bisa digarap kian luas. Mulailah bisa menanam gandum. Atau sorgum. Kansas penghasil sorgum terbesar di Amerika.

Lalu mereka beternak. Sapi.  Dilepaskan begitu saja. Setelah membiak mulailah perlu kuda. Sebagai pengawas ternak. Dan alat transportasi. Perlu punya gerobak. Untuk angkutan. Belum ada listrik. Belum ada mobil.

Tidak ada pemerintah. Pemerintah pusat tidak punya tangan. Pemerintah negara bagian pun belum ada.

Penduduk berdiri sendiri. Mencari hidup sendiri. Mengamankan diri sendiri. Karena itu mereka harus punya senjata. Untuk melindungi diri. Dari binatang buas dan penjahat.

Kalau sakit harus bisa diatasi sendiri. Karena itu mereka tidak mau sakit. Disiplin pada kebersihan. Tidak mau dekat dengan orang lain: takut siapa tahu menularkan penyakit.

Tidak semua orang mau disiplin dan bekerja keras seperti itu. Ada  yang menyerah: pilih jadi penjahat. Merampok. Korban perampokan luar biasa sakit hatinya. Yang dirampok itu harta yang dikumpulkan dengan susah-payah. Yang jumlahnya belum banyak.

Itulah sebabnya mereka sangat membenci orang jahat. Orang malas. Orang miskin.

Mereka bekerja keras karena harus bisa hidup. Mereka harus kerja keras dua kali lipat.

Untuk menghadapi musim salju. Yang tidak akan ada sumber makanan apa pun.

Mereka juga membenci pemerintah: pada dasarnya. Yang hanya bisa memungut pajak. Dari hasil kerja keras sendiri. Mereka ingin tanpa pajak. Kalau pun ada serendah mungkin.

Mereka juga membenci orang selatan. Yang untuk menggarap tanahnya membeli budak. Dari Afrika. Tidak mau kerja keras sendiri.

Asyik kalau mendengarkan orang-orang tua di sini bercerita. Cerita yang mereka dengar dari orang tua mereka. Ketika mereka masih kecil. Masih ikut membajak sawah. Dengan kuda sebagai penarik bajaknya. Mereka masih tidak masuk sekolah selama musim garap tanah. Membantu ayah. Tapi diberi upah oleh sang ayah. Tidak seperti kecil saya dulu.

Mereka masih sangat mencintai kuda. Mainannya rodeo. Bacaannya novel seperti Black Stallion. Berseri-seri. Atau Black Beauty. Kisah tentang kehebatan kuda. Asyik.

Waktu buku-buku tua itu saya temukan tiga tahun lalu saya baca semua sampai ludes. Atau yang satire seperti Animal Farm.

Mereka masih belajar menembak. Dan masih terus menyimpan senjata-senjata warisan itu.

Semua itu mendarah-mendaging. Menjadi akar yang dalam ideologi kapitalisme.

Seperti mendalamnya pelajaran tarih di pesantren buat saya. (dis)


BACA JUGA

Minggu, 10 Juni 2018 00:02
Pilgub Kaltim 2018

Kampanye yang Sia-Sia

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  KAMPANYE. Menurut KBBI, punya dua arti. Yang pertama yaitu…

Kamis, 07 Juni 2018 22:50
Pilgub Kaltim 2018

KPU Siapkan Tim Pakar Hukum

SAMARINDA – Upaya antisipasi dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim dalam mengawal berbagai…

Minggu, 03 Juni 2018 02:32
Kolom Minggu

Pancasila yang Terus Dihina

Oleh: Lukman M  Redaktur Bontang Post  Jumat (1/6) kemarin, bangsa ini memperingati hari kelahiran…

Kamis, 31 Mei 2018 00:01

Syukuran Arab Hays

Oleh: Dahlan Iskan Saya dapat kiriman buka puasa. Dari Rochman Budiyanto. Wartawan intelektual. Humoris.…

Selasa, 29 Mei 2018 00:02

Pesantren Pertama di Amerika

Oleh: Dahlan Iskan Disway tidak mampir ke New York. Itu bukan meniru judul novel Ayu Utami: "Laela Tidak…

Jumat, 25 Mei 2018 00:02

Rahasia Hape Imam Tarawih

Oleh: Dahlan Iskan Pokoknya beres. Setelah tahu rumah itu adalah masjid, saya merasa bebas: bisa datang…

Selasa, 22 Mei 2018 19:09

Pemkot Mulai Petakan Titik Kemacetan

SAMARINDA – Upaya antisipasi mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mencegah…

Minggu, 20 Mei 2018 00:12

Tak Ada Surga bagi Teroris

Oleh Lukman Maulana Redaktur Bontang Post ­­­ Teror bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya,…

Jumat, 18 Mei 2018 00:02

Gagal Jumatan di Hays

Oleh: Dahlan Iskan Saya gagal Jumatan. Tidak berhasil menemukan masjid. Padahal segera bulan puasa.…

Minggu, 13 Mei 2018 00:46
KOLOM MINGGU

Bela Diri atau Bunuh Diri?

CATATAN LUKMAN MAULANA Redaktur Bontang Post  BEBERAPA waktu lalu, publik Bumi Etam dikejutkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .