MANAGED BY:
SELASA
22 MEI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Kamis, 03 Mei 2018 00:23
Hari Pendidikan Wadah Refleksi
Catatan Yakub Fadillah, S. IP

PROKAL.CO, Catatan Yakub Fadillah, S. IP

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, DPD KNPI Kutai Timur

 

SETIAP 2 Mei bangsa Indonesia selalu diingatkan dengan penning pendidikan, ya karena 2 Mei adalah hari pendidikan nasional yang secara rutin diperingati. Mengapa hari pendidikan nasional harus jatuh pada 2 Mei? Apa yang menjadi dasar? Jawaban secara yuridis adalah karena adanya kepres no 316 tertanggal 16 Desember 1959 sekira 7 bulan 20 hari pasca wafatnya Ki Hajar Dewantara yang merupakan Menteri Pengajaran Indonesia pertama yang sekarang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Nama lahirnya adalah Soewardi Soerjaningrat yang pada 1922 merubah nama dirinya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah apakah tidak ada tokoh lain lebih fenomenal dari Ki Hajar Dewantara ? menjabat menteri selama 2  bulan 12 hari yaitu dilantik pada 2 September 1945 dan digantikan pada 14 Nopember 1945 Todung Sutan Gunung Mulia. Meski masih terjadi kontroversi tentu dasar peringatan Hardiknas ini masih mengacu pada Kepres no 316 tertanggal 16 Desember 1959 dasar peringatan.

Bagi mereka yang pernah menggugat tentu punya alasan kuat untuk argumentasi atas gagasan mereka, bahkan gugatan juga pernah dilakukan oleh PGRI pada 1967. Mengingat memang banyak tokoh lain yang patas disebut bapak Pendidikan, sebut saja KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah pada 1912 di Yogyakarta yang menggagas pendidikan modern dengan gerakan pembaharuannya, bahkan pondasi yang ditanamkan pada gerakan Muhammadiyah hingga saat ini telah menjadikan Organisasi swasta terbesar di Indonesia bahka dunia dalam hal jumlah dan jaringan.

Tokoh lain ada Otto Iskandar Dinata (Otista) yang mendirikan paguyuban pasundan pada 1914 dengan puluhan sekolah dan ribuan muridnya, untuk zaman itu tentu gagasan luar biasa yang sangat langka orang yang bisa melakukannya. Di Jawa Timur ada KH Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Nahdhatul Ulama (NU) pada 1926 di Surabaya dengan basis pendidikan pesantren yang menjadi pilar pendidikan kaum pribumi.

Terlepas dari kontroversi tentu yang bisa kita ambil adalah alasan kuat yang bisa menjadi hikmah. Ki Hajar Dewantara selain Menteri Pengajaran Indonesia pertama belia juga adalah pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 yang diperuntukan bagi pribumi, gagasan ini merupakan terobosan mencerdaskan anak bangsa, mengingat sebelumnya ada pergerakan nasional pendidikan formal hanya diperuntukan bagi keturunan Belanda dan Priyayi saja, meski sebelumnya ada Muhammadiyah yang telah menggagas namun kesadaran akan pendidikan di kalangan pribumi non priyayi masih sangat rendah.

Pada 1913 Soerwardi Surya Ningrat (Ki Hajar Dewantara) harus diasingkan oleh gubernur Idenburg ke pulau Bangka karena tulisan yang mengkritik atas pesta kemerdekaan Belanda dari Perancis yang ke 100, namun biaya perayaan dipungut dari rakyat yang terjajah oleh belanda. Reaksi keras dari Douwes Deker dan Cipto Mangunkusumo membuat keduanya turut diasingkan.

Tentu perjalan dan perjuangan yang berat itu serta perintis dunia pendidikan pertama melalui kabinet pasca proklamasi cukup menjadi alasan Presiden Soekarno mangangkatnya menjadi bapak pendidikan dan hari lahirnya 2 Mei 1959 menjadi hari pendidikan nasional (Hardiknas).

Pada peringatan Hardiknas tahun 2018 dengan tema “ Menguatkan Pendidikan Memajukan Kebudayaan” sangatlah tepat di menjelang Ramadhan 1439 H mengutip ayat yang diwahyukan pertama kali, yaitu “iqra”, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.

[16:48, 5/2/2018] Dedi Radar Asli: Banyak pesan moral yang disampaikan melalui ayat ini, mengapa pesan membaca disampaikan kepada seseorang yang tidak mempu membaca dan menulis kemudian diangkat menjadi Rasul bahkan dengan proses yang panjang menjadi pemimpin dunia yang memiliki teladan di segala sisi. Disinilah peran pendidikan yang mengharuskan adanya proses, memajukan yang tertinggal dan menguatkan yang lemah, menegakkan yang condong meluruskan yang bengkok, memoles yang kasar dan meningkatkan kualitas, merekatkan yang terpisah dan merapatkan yang renggang, membangkitkan yang terpuruk dan mempercepat yang lambat, merendahkan hati yang sombong menggugah yang kurang percaya diri. Sejatinya demikianlah proses pendidikan harus berjalan.

Siapa pun yang menjalaninya baik sebagai pendidik maupun peserta didik tidaklah semudah membalikan telapak, sebagai mentor pendidik dituntut memiliki komptensi afektif, kognitif dan psikomotirik yang dituntut memahami karakter peserta didik, baik dari potensi yang menonjol hingga kelemahannya, bahkan psikologi peserta didik pun tak boleh diabaikan mengingat heterogennya latar belakang dan ragam kondisi kebathinan lingkungan keluarga dan lingkungan bermainnya. Bagi peserta didik yang ragam latar belakang tentu juga dituntut untuk bisa beradabtasi dengan lingkungan pendidikannya. Prinsip ini akan berlaku di semua model pendidikan baik formal maupun informal, apakah pendidikan modern atau klasik.

Berbicara pendidikan tidak terbatas pada ruang dan waktu pendidikan, dalam kehidupan sehari-hari seiring dengan segregasi sosial dan polarisasi budaya, di era globalisasi sangat memungkinkan terjadi segregasi dan polarisasi, urbanisasi baik tempat tinggal maupun pemikiran bahkan pergeseran pemikiran sosial yang bisa berdampak pada kelompok baru adalah hal yang mungkin lumrah terjadi, maka polarisasi budaya yang akan membentuk strukutur baru sangat meungkinkan baik formal maupun informal.

Bangsa yang yang maju dalam pendidikan tentu akan kuat dalam budaya, terlepas dari perilaku dan pemikiran yang menyimpang yang menjadi dinamika sosial berpikir dan perilaku, bangsa yang berpendidikan maju akan punya budaya yang kuat untuk menangani persoalan perbedaan pemikiran dan perilaku yang menyimpang. Ketika dihadapkan dengan keragaman yang diakui oleh sistem bangsa ini baik keberadaannya maupun status, tentu semua pihak harus bisa memberikan ruang dan waktu sebagai kesempatan. Persekusi bukanlah budaya maju apalagi berpendidikan yang kuat sepanjang komunitas itu diakui keberadaanya baik oleh negara maupun struktur sosial yang diakui oleh negara, oleh sebab itu tema menguatkan pendidika dan memajukan kebudayaan adalah tema yang tepat untuk refleksi dunia pendidikan.

Dalam proses pendidikan formal yang menjadi tanggung jawab negara yang juga dibantu oleh peran swasta yang memiliki kepedulian, tentu perlu perhatian yang serius, biaya penyelenggaraan pendidikan seiring dengan perjalanan waktu selalu meningkat, maka kebijakan BOS, BOSPROV maupun BOSDA dan kesejahteraan guru seperti peningkatan insentif perlu ditingkatkan untuk peningkatan kualitas, bukan sebaliknya, sehingga pengingkatan kualitas pendidikan dapat berjalan sesuai dengan harapan. Urusan pendidikan adalah urusan semua pihak, paling tidak setiap orang dituntut membangun pendidikan keluarga yang berkualitas untuk pendidikan kuat dan budaya yang berkemajuan. (*)


BACA JUGA

Minggu, 20 Mei 2018 00:10

Teroris dan Ketidakadilan

Oleh: Dhedy Ketua Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT)  TAK ada asap kalau tidak ada api. …

Jumat, 04 Mei 2018 00:02

Puasa dan Kehamilan

Oleh: dr. Fakhruzzabadi, SpOG, MKes Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Beberapa hari lagi kita…

Kamis, 03 Mei 2018 00:25

Pers Indonesia “Belum Merdeka”

EDITORIAL Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post  TAK banyak yang mengetahui,…

Sabtu, 28 April 2018 00:04

Paslon Tak Banyak Keluar Biaya, Semangatnya Tak Ada Korupsi

Catatan: Agus Susanto S, Hut Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Bontang  Tahapan Kampanye…

Sabtu, 28 April 2018 00:04

Hutan Indonesia, Milik Siapa?

Oleh: Nurul Inayah, SEI  Bukan Amien Rais atau Prabowo Subianto, namun kali ini Siti Nurbaya Bakar…

Sabtu, 28 April 2018 00:04

Jalan Pikiran

Oleh: Dian eliasari, S.KM Pendidik “Menjalankan demokrasi tidak dapat dilakukankan dengan…

Sabtu, 28 April 2018 00:03

Saat Keperawanan Tak Lagi Punya Arti

Oleh Lifa Umami, SHI Ibu Rumah Tangga Situs Cinderella Escorts (CE) tentu sudah tidak asing lagi bagi…

Kamis, 26 April 2018 00:15

Masalah–masalah Pembelajaran yang Terpantau melalui Kegiatan Supervisi

Oleh:  Suyanik, M.Pd (Guru SMAN 1 Bontang) Pengalaman mengajar guru selama puluhan tahun tidak…

Sabtu, 21 April 2018 00:01

Perempuan dan Diskriminasi

Oleh Nirmaya Deasari             Saat ini telah memasuki tahun…

Sabtu, 14 April 2018 00:14

Mahasiswa Taat Syariat atau Radikal

Catatan Oleh nur’aini  Mahasiswa Jurusan Tarbiya Prodi PAI. Sangatta Assalamu’alaikum…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .