MANAGED BY:
SENIN
23 JULI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Kamis, 03 Mei 2018 00:25
Pers Indonesia “Belum Merdeka”
Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post

PROKAL.CO, EDITORIAL

Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post 

TAK banyak yang mengetahui, hari ini (3/5) merupakan World Press Freedom Day, atau Hari Kebebasan Pers Dunia yang diinisasi oleh lembaga dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Unesco. Pertama kali dideklarasikan oleh PBB pada Desember 1993, World Press Freedom Day mengambil tanggal hari jadi Deklarasi Windhoek, berisi promosi tentang independensi dan pluralisme dalam pers Afrika yang ditandatangani di Windhoek, Namibia, 29 April-3 Mei 1991.

Indonesia juga punya Hari Pers Nasional (HPN) yang selalu dirayakan setiap 9 Februari. HPN mengambil tanggal hari jadi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang juga bertepatan pada 9 Februari. Esensi dari HPN dan World Press Freedom Day dan HPN selalu sama: menyuarakan kebebasan pers serta kesejahteraan wartawan.

Persoalan kebebasan pers memang selalu tak ada habisnya. Tiap tahun, terjadi lebih dari 30 kasus baik itu kekerasan terhadap pers, intimidasi, dan lain-lain. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat, di sepanjang 2017 terjadi 66 laporan kekerasan terhadap wartawan. Bentuknya berupa perusakan alat atau data hasil peliputan, ancaman kekerasan atau teror, intimidasi oleh pejabat publik, kekerasan fisik, hingga mobilisasi massa  atau penyerangan ke kantor redaksi.

Itu baru sepanjang 2017. Lebih mencengangkan lagi sepanjang Januari-April 2018. AJI Indonesia mencatat, sudah ada 31 laporan yang masuk terkait kekerasan terhadap pers. Ini tentu menjadi preseden buruk bagi bangsa ini. Sebab, dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia, pers merupakan salah satu pilar demokrasi, selain ada eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Laporan-laporan di atas baru berasal dari satu sumber. Dari sumber lain, Reporters Without Borders (RSF) pada 24 April 2018 telah merilis Indeks Kebebasan Pers 2018. Dari data tersebut, peringkat Indonesia sama sekali tak berubah dari 2017 lalu, yakni berada di peringkat 124. Justru kalah dengan Timor Leste yang berada di peringkat 95 dan Afghanistan di peringkat 118. Skor tersebut akhirnya menempatkan kebebasan pers di Indonesia dalam kategori buruk.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pers di Indonesia “belum merdeka”.  Pertama yakni regulasi. Indonesia mempunyai Undang-undang (UU) nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Meski sudah mempunyai hukum sendiri, namun UU 40/99 ini kadang dibenturkan oleh KUHPidana dalam penyelesaian perkara tentang pemberitaan, misalnya pencemaran nama baik. Bahkan, kehadiran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dianggap membatasi gerak jurnalis dalam mengakses informasi.

Kedua, faktor lambatnya penanganan hukum. Pers di Indonesia dilindungi? Betul. Namun kasus-kasus yang mendera beberapa wartawan di Indonesia hingga saat ini banyak yang belum terungkap. Seolah diabaikan begitu saja. Bahkan kasusnya hingga dinyatakan kedaluwarsa. Seperti kasus tewasnya jurnalis Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Berkat tulisannya yang mengusik penguasa Bantul kala itu. Akibatnya, Udin hingga kini “menghilang” sejak 1996. Kepolisian berkali-kali didesak untuk mengusut kasus ini, tapi hingga kini tak ada keadilan yang didapat.

Ketiga, faktor belum pahamnya kebebasan pers di kalangan masyarakat dan pejabat publik. Ketidaktahuan atau ketidakpahaman itu bisa berdampak buruk kepada wartawan yang mencoba menggali informasi dari narasumbernya. Keempat, yakni faktor pers yang tidak profesional.

Wartawan yang tak profesional, seperti memaksa narasumber dengan ancaman dan meminta suap adalah contoh buruk yang jamak terjadi. Beberapa narasumber mungkin ada yang mengalah, namun jika narasumber itupun juga bersikeras, kekerasan terhadap wartawan pun bisa terjadi. Jika terjadi kekerasan karena faktor keempat, maka yang salah adalah wartawannya.

Kedua faktor yang saya sebut terakhir, telah ditindaklanjuti oleh Dewan Pers dengan beberapa langkah. Pertama, adanya perjanjian dengan pihak-pihak seperti kepolisian dan TNI untuk agar mencegah kekerasan terhadap wartawan dari kalangannya masing-masing. Pun Dewan Pers berkewajiban memahamkan pentingnya kebebasan pers baik kepada kepolisian maupun TNI. Kedua, yakni menggulirkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). UKW ini penting, untuk menjamin profesionalitas wartawan yang mengerjakan tugas-tugas jurnalistiknya. Dengan begitu, narasumber bisa memberikan informasi dengan tenang karena jaminan wartawan kompeten, pun wartawan bisa bertugas dengan tenang.

Tugas kita semua, baik dari insan pers, masyarakat, pejabat publik, dan seluruh elemen masyarakat lainnya untuk bersama-sama memberikan kebebasan terhadap pers. Pers bukanlah musuh. Pers punya fungsi menginformasikan, mendidik, menghibur, dan watch dog. Maka, sudah sejatinya pers kita jaga bersama, agar kebebasan pers di Indonesia semakin membaik, demi demokrasi Indonesia yang lebih sehat. (*)


BACA JUGA

Senin, 25 Juni 2018 00:05

Dinamika Pemilihan Kepala Daerah di Kaltim

Oleh: Rajja “Kekacauan, kecurangan, kurang pengawasan, keterpurukan, karut-marut, dan lain-lain…

Jumat, 08 Juni 2018 01:48

Revitalisasi Semangat Beragama

Oleh Dwiyoga Zakaria NugrahaKetua Bidang Dakwah Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kutai…

Kamis, 07 Juni 2018 01:06

“Urgensi Sifat serta Prilaku Jujur”

Oleh , Fachru Rizal Zami Bidang Keilmuan dan Reset Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kutai…

Senin, 04 Juni 2018 17:08

Ramadan Bulan Persaudaraan

Oleh Subhan  Al Banjari Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kutai Timur  Ramadan…

Sabtu, 02 Juni 2018 00:01

BERLOMBA MENDAPATKAN KEBERKAHAN DI BULAN RAMADAN

( Oleh : Mujahidul wathoni, M,Pd : Ketua 5 PD. Muhammadiyah Kab. Kutai Timur)  Pengertian berkah…

Minggu, 27 Mei 2018 00:01

Gelar Pengajian di Kolong Jembatan Taipo Hongkong

Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I Teman  saya, yang juga seorang Dai Ambassador pada tahun 2017…

Minggu, 27 Mei 2018 00:01

Ketika Allah Menyempurnakan Manusia

Oleh:Apriliannur, S.IP, P.MaSekretaris Pimpinan Daerah 223 Tapak Suci Putera Muhammadiyah-Kab Kutai…

Jumat, 25 Mei 2018 00:02

Breakpoint Diaspora Indonesia di Hongkong

Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I Sabtu dan Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para buruh…

Jumat, 25 Mei 2018 00:01

Ujian Keimanan Menuju Insan Bertaqwa

Penulis : Agusriansyah Ridwan , S.IP,M.Si Ketua Majelis Pemperdayaan Masyarakat PDM Kutai Timur …

Rabu, 23 Mei 2018 00:03

Gelar Pengajian di Kolong Jembatan Taipo - Hongkong

  Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I  Teman  saya, yang juga seorang Dai Ambassador…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .