MANAGED BY:
SENIN
23 JULI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Kamis, 03 Mei 2018 00:25
Obat #Stress2019 Ala Shanghai
LOKASI PROYEK BESAR: Dahlan Iskan berfoto di lokasi yang akan dibangun menjadi kota bawah tanah terbesar dan pertama di dunia di Tiongkok, pekan lalu.(DAHLAN ISKAN)

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan 

Waktu di Shanghai saya terkesima dengan berita ini: orang antre beli rumah mewah. Yang disebut 'rumah' di sana berarti apartemen.

Apartemen mewah jadi kacang goreng. Baru terjadi dua minggu lalu. Menjelang saya berangkat ke Amerika.

Misalnya di proyek Qiantan Ocean One. Yang dibangun Joy City Property. Dia hanya jual 437 unit. Yang antre membeli 3.100 orang.

Padahal harga permeter perseginya selangit: 93.800 Renminbi. Atau sekitar Rp 190 juta/m2. Berati satu rumah yang luasnya 290 m2 itu harganya Rp 55 miliar.

Mengapa begitu laris?

Ternyata harga itu dianggap murah. Itulah harga maksimum yang ditetapkan pemerintah. Untuk kawasan itu. Untuk kelas itu.  Harga pasarnya 20 persen lebih tinggi.

Apakah di Shanghai pemerintah menetapkan harga? Yang tidak boleh dilanggar?

Begitulah.

Itu peraturan baru. Untuk mengendalikan gilanya kenaikan harga rumah. Tak tertahankan. Sudah menjadi keluhan nasional: rakyat tidak akan lagi mampu beli rumah. Sebesar apa pun UMR-nya.

Anak-anak muda stress berat. Padahal untuk berani melamar (calon istri) harus sudah bisa beli rumah (mencicil). Malu.

Saya lihat di Tiongkok tidak ada budaya menjadi kontraktor: pengantin baru mengontrak rumah.

Peraturan baru itu diharap bisa ikut mengendalikan gilanya kenaikan harga apartemen. Tapi banyak pula yang skeptis: mana bisa. Peraturan itu dibuat hanya untuk disiasati.

Harga maksimum itu benar-benar jauh dari harga pasar. Bahkan, kata teman-teman saya, lebih murah dari harga rumah di pasar second hand.

Antrean serupa juga terjadi di proyek baru Daning Jianmao Palace. Juga di Shanghai.

Yang Sabtu dua minggu lalu melakukan penjualan 382 unit. Harga per unitnya sekitar Rp 40 miliar. Yang mendaftar 751 orang.

Padahal untuk mendaftar saja sudah harus menyetor uang Rp 2 miliar. Juga harus menunjukkan bukti punya deposito minimal Rp 6 miliar. Baru sisanya akan dibiayai dari pinjaman bank.

Tidak boleh ada lelang. Tidak boleh penawar tertinggi yang mendapatkannya. Maka jalan satu-satunya lotere. Undian. Siapa yang beruntung dialah yang berhak membeli. Yang kalah uang Rp 2 miliar dikembalikan.

Kondisi yang seperti itu tidak hanya di Shanghai. Juga di Beijing. Mungkin juga akan diikuti kota lain: Shenzhen. Terus ke kota Guangzhou. Dan seterusnya.

Itulah sebabnya Beijing memerlukan Meijing. Seperti Jakarta memerlukan Meikarta. Sebuah perumpamaan yang memang agak benar --ngawurnya.

Beijing sudah merencanakan membangun kota baru: dekat Baoding. Yang akan jadi kota modern abad mendatang. Inilah proyek prestisus Presiden Xijinping.

Tiongkok sudah terkenal pembangun proyek serba besar. Tapi inilah yang akan menjadi terbesar.

Mengalahkan proyek kereta cepat dan apa pun. Yang akan membuat nama Xi Jinping dikenang berabad-abad. Seperti Tembok Besar.

Saya sempatkan ke calon lokasi kota baru itu. Bulan lalu, masih berupa desa-desa dan tanah pertanian.

Kini masyarakat sudah tidak boleh menjual tanah di situ. Di radius 100 km2. Pun yang coba-coba investasi tanah gigit jari. Tidak mungkin lagi.

Itu juga untuk mengerem gilanya kenaikan harga rumah di Beijing. Agar yang muda mulai berani melamar.

Kalau ini terjadi di Jakarta mungkin sudah pada bikin hastag #Stress2019.(dis)


BACA JUGA

Sabtu, 07 Juli 2018 00:06

Serba Ada di Samarinda

Oleh: Dahlan Iskan Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura.…

Kamis, 07 Juni 2018 22:50
Pilgub Kaltim 2018

KPU Siapkan Tim Pakar Hukum

SAMARINDA – Upaya antisipasi dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim dalam mengawal berbagai…

Senin, 04 Juni 2018 17:44

Mosque of Laredo

Oleh: Dahlan Iskan  Saya datang terlalu awal: pukul 8 malam. Matahari masih bersinar perkasa. Pintu…

Minggu, 03 Juni 2018 02:32
Kolom Minggu

Pancasila yang Terus Dihina

Oleh: Lukman M  Redaktur Bontang Post  Jumat (1/6) kemarin, bangsa ini memperingati hari kelahiran…

Kamis, 31 Mei 2018 00:01

Syukuran Arab Hays

Oleh: Dahlan Iskan Saya dapat kiriman buka puasa. Dari Rochman Budiyanto. Wartawan intelektual. Humoris.…

Selasa, 29 Mei 2018 00:02

Pesantren Pertama di Amerika

Oleh: Dahlan Iskan Disway tidak mampir ke New York. Itu bukan meniru judul novel Ayu Utami: "Laela Tidak…

Jumat, 25 Mei 2018 00:02

Rahasia Hape Imam Tarawih

Oleh: Dahlan Iskan Pokoknya beres. Setelah tahu rumah itu adalah masjid, saya merasa bebas: bisa datang…

Selasa, 22 Mei 2018 19:09

Pemkot Mulai Petakan Titik Kemacetan

SAMARINDA – Upaya antisipasi mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mencegah…

Minggu, 20 Mei 2018 00:12

Tak Ada Surga bagi Teroris

Oleh Lukman Maulana Redaktur Bontang Post ­­­ Teror bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya,…

Jumat, 18 Mei 2018 00:02

Gagal Jumatan di Hays

Oleh: Dahlan Iskan Saya gagal Jumatan. Tidak berhasil menemukan masjid. Padahal segera bulan puasa.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .