MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Minggu, 13 Mei 2018 00:46
KOLOM MINGGU
Bela Diri atau Bunuh Diri?
CATATAN LUKMAN MAULANA Redaktur Bontang Post

PROKAL.CO, CATATAN LUKMAN MAULANA

Redaktur Bontang Post 

BEBERAPA waktu lalu, publik Bumi Etam dikejutkan dengan kabar seorang remaja yang tewas terlindas mobil pikap. Yang membuat miris, remaja tersebut mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah atraksi bela diri di suatu momen perpisahan sebuah sekolah menengah di Berau. Ya, dilindasnya sang remaja nahas merupakan bagian dari atraksi tersebut.

Tentu ini merupakan hal yang sangat disayangkan semua pihak. Seorang remaja yang masih memiliki masa depan cerah mesti berakhir di bawah roda. Memang hal ini bisa diketagorikan sebagai kecelakaan dengan unsur kelalaian, namun latar belakang terjadinya kasus inilah yang patut menjadi perhatian banyak pihak.

Atraksi unjuk kebolehan diri dengan menantang nyawa bukan hal baru dalam pertunjukan seni di Indonesia. Kebanyakan dilakukan para profesional bela diri atau pesulap yang telah berpengalaman puluhan tahun. Bahkan tak jarang bila atraksi seperti ini dibumbui hal-hal berbau mistis. Sehingga dalam setiap pertunjukan tersebut, selalu dipesankan bahwa adegan-adegan yang dilakukan merupakan adegan berbahaya sehingga diharap untuk tidak melakukannya di rumah.

Maka, cukup menjadi pertanyaan bila remaja 16 tahun yang dalam hukum negara dikategorikan masih di bawah umur lantas terlibat dalam aksi menantang maut. Tak main-main, bersama rekan-rekannya yang lain, tubuh kecil sang remaja mesti dilindas oleh pikap yang sudah tentu berat.

Wajar sebelum aksi dimulai, perasaan bergidik menghampiri mereka yang menyaksikan. Khawatir terjadi hal yang tak diinginkan pada si bocah. Walaupun dalam pendampingan orang dewasa, kecemasan itu sulit akan lepas. Benar saja, setelah mobil melintasi enam remaja, dua di antaranya yang berada paling depan terlihat lemas. Tragisnya, itulah akhir dari remaja 16 tahun yang pertama kali dilindas pikap.

Menyaksikan videonya yang viral saja sudah membuat bergidik, apalagi membayangkan diri ini menjadi para penonton langsung di acara. Lantas kemudian membayangkan diri ini menjadi orang tua dari korban. Betapa sedih dan hancurnya perasaan ini melihat masa depan putra yang merupakan kebanggaan mesti berakhir dengan cara yang amat tragis.

Ya kejadian itu memang musibah, kecelakaan. Tapi takkan menjadi musibah bila kita semua bisa peduli dan berhati-hati. Bukan kali ini saja kegiatan bela diri memakan korban anak-anak muda. Kerap muncul di media, kabar tewasnya remaja yang tengah mengikuti kegiatan perguruan bela diri. Di antaranya saat ujian kenaikan pangkat, ujian kekebalan tubuh, hingga yang terbaru tragedi di Berau.

Dengan tragedi-tragedi seperti itu, tentu menjadi pertanyaan bagaimana mungkin kegiatan bela diri yang sejatinya untuk melindungi diri, malah mengakibatkan diri terbunuh. Kasus di Berau seakan menunjukkan bahwa tragedi ini terus-menerus berulang. Bisa saja di tahun-tahun yang akan datang, remaja-remaja kita kembali berakhir tragis dalam latihan bela diri, sebelum sempat “membela diri”.

Maka para pengurus kegiatan bela diri sudah seharusnya menjadikan tragedi-tragedi tersebut sebagai pembelajaran ke depan. Bahwa, apa yang diajarkan kepada para muridnya adalah ilmu untuk membela diri, tanpa ada potensi untuk bunuh diri. Tak perlu lagi ada ujian-ujian atau aksi-aksi yang menantang maut, yang bisa membuat masa depan mereka terenggut.

Bela diri itu tak bisa dipukul rata untuk semua orang. Mental dan kemampuan tubuh manusia itu berbeda satu sama lain. Sesuatu yang bisa diatasi oleh seseorang, belum tentu dapat diatasi orang lainnya. Bahkan dengan pelatihan yang intensif sekalipun. Inilah yang mestinya disadari benar, bahwa potensi kecelakaan itu selalu ada.

Saat ini, kita hidup di zaman yang serba modern dengan kemajuan teknologi yang makin pesat. Kondisi masyarakat tak lagi seperti era kerajaan dan penjajahan. Maka sudah sepatutnya ada penyesuaian bentuk pendidikan bela diri. Walaupun sekadar untuk atraksi dan pertunjukan, harus dipastikan keamanan sehingga tidak berujung “bunuh diri”.

Dari segi pendidikan, harus diingat bahwa murid-murid hanyalah titipan orang tua untuk dididik. Maka harus disadari bahwa keselamatan mereka adalah kewajiban. Seberat apapun materi pendidikan yang diberikan, tidak boleh mengecewakan mereka yang telah menitipkan. Sehingga dengan demikian, sebelum hendak “macam-macam” dengan si murid, harus dipikirkan terlebih dulu tanggung jawab yang dipegang. Mau jadi guru yang amanah atau khianat?

Sebagai pihak yang mendidik dan menilai, para guru tentunya tahu kemampuan dan kapasitas murid-muridnya. Sehingga sekalipun muridnya merasa tidak keberatan atau menginginkan suatu aksi menantang maut, guru bisa menentukan hal itu diperbolehkan atau tidak. Jangan lantas karena persetujuan si murid, bisa semena-mena membuat keputusan yang bisa membahayakan nyawa.

Tentu para guru juga merupakan orang tua atau setidaknya orang yang dituakan. Bila membayangkan bahwa anak didik seperti anak sendiri, apakah bisa tega menempatkan mereka dalam kondisi yang membahayakan? Seharusnya jawabannya adalah tidak. Membayangkan diri menjadi orang tua yang kehilangan anak untuk selama-lamanya di usia yang muda saja pasti sudah sangat berat.

Ya memang tidak bisa disamaratakan, bisa saja guru-guru yang lalai tersebut adalah oknum. Akan tetapi, apa yang dilakukan oknum ini harus menjadi pelajaran. Agar para guru yang baik, tidak turut menjadi oknum di kemudian hari. Karena guru adalah pendidik, bukan pembunuh.

Di satu sisi, peran orang tua juga tidak bisa dilepaskan. Memang merupakan niat baik memasukkan anak ke perguruan bela diri. Agar sang anak bisa mendapatkan banyak manfaat yang kelak berguna. Bisa dalam bentuk ilmu bela diri yang memang fungsi utamanya untuk membela diri, mendapatkan tubuh yang sehat karena olahraga, atau kemampuan-kemampuan sosial lainnya.

Namun institusi ini berbeda dengan pendidikan formal di sekolah biasanya. Akan banyak adu fisik, mental, dan mungkin aksi kebal yang menyertai hari-hari anak. Sehingga maka dari itu, orang tua pun masih tetap harus melakukan pengawasan. Pengawasan penting demi memastikan kesayangan dan kebanggaan kita tidak mati sia-sia karena hal-hal yang sejatinya tidak perlu.

Dalam hal ini, orang tua perlu berdiskusi dengan anak mengenai kegiatan-kegiatannya di sekolah maupun di kegiatan ekstra sekolah. Dari diskusi ini, bisa diketahui apakah kegiatan anak sudah dalam jalur yang tepat atau belum. Bila lantas didapati adanya kegiatan-kegiatan yang dianggap membahayakan keselamatan sang anak, maka orang tua harus dengan tegas memberikan larangan, sekalipun ada pengawasan dari pihak guru.

Pengawasan orang tua seperti ini di era sekarang memang cukup berat dilakukan. Jangankan untuk mengawasi kegiatan bela diri, untuk menjaga anak di rumah saja kadang orang tua masih dikalahkan oleh “pesona” gadget yang mampu mengalihkan perhatian secara penuh. Maka ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diperhatikan demi keselamatan buah hati.

Sementara bagi para remaja yang ikut atau ingin ikut dalam perguruan bela diri, juga masih harus terus waspada dan berhati-hati. Agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam setiap kegiatan yang ada di perguruannya masing-masing. Guru atau kakak senior tetaplah orang lain, keputusan mutlak tetap ada pada diri sendiri. Bila apa yang dikatakan guru dan senior dianggap baik, maka harus dilakukan. Namun bila perkataan mereka berpotensi mencelakakan, maka harus ditinggalkan.

Karena untuk apa belajar bela diri bila pada akhirnya malah mati bunuh diri? Artinya, ilmu bela diri yang diajarkan ternyata tidak mampu untuk membela diri melainkan membahayakan diri. Kalau begitu sih lebih baik tidak usah belajar bela diri sekalian ketimbang mati konyol.

Saran saya, marilah bersama-sama mempraktikkan pembelajaran bela diri yang baik. Bela diri yang memang diperuntukkan membela diri. Ajari gerakan-gerakan fisik untuk membela diri berikut rangkaian jurusnya. Berlatih dengan duel yang aman dan kompetisi yang sehat. Tak perlulah aksi-aksi berbau kesombongan macam ilmu kebal, tak perlu pula ujian-ujian kenaikan pangkat yang membahayakan. Karena sekali ini, bela diri adalah untuk membela diri, bukan untuk membunuh diri. (*)


BACA JUGA

Rabu, 29 Agustus 2018 00:04

Airplane Mode ke Kecamatan Sembilan Warna

Oleh: Dahlan Iskan Gara-gara HP.  Saya lebih pilih kereta cepat daripada pesawat kalau lagi di…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:07

Menguji Kemauan Tidak Berkarat

Oleh: Dahlan Iskan   Tapi kambing-kambingnya ada. Tidak mengapa juragannya tidak ada: Ricky Elson…

Sabtu, 04 Agustus 2018 17:03

Berita Besar Baterai Lithium

Oleh: Dahlan Iskan   Hati saya bergetar. Berita itu sangat mengejutkan: pabrik baterai lithium…

Minggu, 29 Juli 2018 00:05

Ma Changqing dengan Ratusan Ribu Pelayat

Oleh: Dahlan Iskan Beberapa pembaca disway mengirim pertanyaan: benarkah ulama besar di Tiongkok meninggal?…

Rabu, 25 Juli 2018 00:37

Media Sosial dan Pariwisata

Oleh Muhammad Zulfikar Akbar Redaktur Pelaksana Bontang Post  SAYA baru saja mengikuti pelatihan…

Minggu, 22 Juli 2018 00:21
Kolom Minggu

Zohri dan PR Olahraga Kita

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  KEBERHASILAN Lalu Muhammad Zohri menjadi juara dunia lari…

Minggu, 15 Juli 2018 00:16

Gubernur Baru, Innalillahi…

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Itulah ucapan duka…

Sabtu, 07 Juli 2018 00:06

Serba Ada di Samarinda

Oleh: Dahlan Iskan Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura.…

Rabu, 04 Juli 2018 00:03

Laser Batu Ginjal Lamongan

Oleh: Dahlan Iskan   ''Pak Dahlan, Lamongan juga punya lho,'' ujar dokter Asro Abdah.   Ia…

Minggu, 24 Juni 2018 00:00

Kecanduan yang Mengerikan

Oleh Lukman M  DIKUTIP dari laman CumaGamer.com, pada 18 Juni lalu, organisasi kesehatan dunia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .