MANAGED BY:
SELASA
22 MEI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Senin, 14 Mei 2018 20:08
Sharing Economy
Oleh: Joko Intarto (admin www.disway.id dan wakil sekretaris BP Lazismu PP Muhammadiyah)

PROKAL.CO, Oleh: Joko Intarto (admin www.disway.id dan wakil sekretaris BP Lazismu PP Muhammadiyah)

Artikel zakat fitri yang saya tulis pekan lalu mendapat tanggapan luas. Semua setuju. Semua sepakat dengan gagasan membeli beras petani dalam negeri untuk menunaikan zakat fitri.

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana besarnya dampak ekonomi zakat fitri yang ditunaikan dalam bentuk bahan makanan pokok? Katakanlah berwujud beras.

Untuk memenuhi kebutuhan zakat fitri 200 juta umat Islam, petani harus menyediakan beras sebanyak 500.000 ton. Beras sebanyak itu bisa dihasilkan dari 100 ribu hektar sawah.

Kalau setiap petani memiliki 2 hektar, zakat fitri menggerakkan ekonomi 50 ribu kepala keluarga petani. Andaikata setiap 2 hektar sawah dikerjakan 5 orang, zakat fitri memberi pekerjaan kepada 250 ribu orang buruh tani.

Bila semua orang yang terlibat dalam penyediaan beras memiliki 5 orang tanggungan keluarga, zakat fitri menghidupi 1,5 juta orang. Luar biasa. Itu baru jumlah penyedianya. Belum jumlah penerimanya.

Menurut data, jumlah penduduk miskin sekitar 30 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5 juta di antaranya diperkirakan berstatus sangat-sangat miskin. Mereka tidak mungkin lagi ditingkatkan taraf ekonominya. Mereka adalah orang-orang yang sudah lanjut usia, tidak memiliki anak atau saudara dan hidup sebatang kara.

Bila dikumpulkan, zakat fitri dari 200 juta kaum muslimin Indonesia akan menghasilkan beras sebanyak 500.000 ton. Kalau beras itu disalurkan kepada 30 juta penduduk miskin, setiap orang akan memperoleh 16,6 Kilogram.

Begitulah mata rantai ekonomi. Dari zakat fitri, yang hanya setahun sekali, begitu banyak yang kebagian rezeki. Tapi manfaat besar itu tidak akan dirasakan para petani di dalam negeri kalau zakat fitri menggunakan beras impor dari luar negeri. Petani domestik hanya bisa gigit jari. Sementara petani asing yang ‘ketawa-ketiwi’.

Tanpa disadari, zakat fitri ternyata telah menciptakan mekanisme ekonomi yang unik. Kewajiban berzakat fitri dengan bahan makanan pokok – bukan uang – menghasilkan multiple effect yang besar sekali. Zakat fitri telah menciptakan mekanisme dalam sharing economy.

Pertanyaan selanjutnya, apakah menunaikan zakat fitri harus dengan beras? Apa tidak bisa dengan uang yang lebih praktis? Atau pakai e-money. Tanpa uang fisik. Bisa ditransfer pakai aplikasi m-banking atau e-bangking. Terutama bagi yang tinggal di kota dan di manca negara?

Dari berbagai referensi, mayoritas ulama berpendapat zakat fitri tidak ditunaikan dengan uang. Solusinya: amil zakat yang menerima zakat fitri dalam bentuk uang agar mengonversi uang tersebut menjadi beras atau bahan makanan pokok lainnya sebelum diserahkan kepada mustahik.

Dengan solusi itu, semua orang memiliki kemudahan dalam berzakat fitri. Silakan tunaikan zakat fitri melalui lembaga amil zakat yang Anda sukai melalui ATM, m-banking, e-banking, aplikasi market place dan online shop.

Insya Allah, amil yang Anda percayai akan membagikan zakat fitri Anda dalam bentuk beras atau makan pokok lainnya. Tentu saja dari hasil panen petani dalam negeri. Apalagi, semua lembaga amil zakat saat ini telah memiliki program pemberdayaan petani melalui desa-desa binaan.

Lazismu, lembaga zakat di bawah organisasi Muhammadiyah, misalnya, menargetkan punya desa binaan di setiap provinsi dan kabupaten. Selain menghasilkan produk pertanian, program pemberdayaan juga menghasilkan produk peternakan seperti telur, ikan dan daging.

Demikian pula lembaga amil zakat di bawah organisasi Nahdlatul Ulama, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Persatuan Islam dan Hidayatullah.

Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadan. Selamat menunaikan zakat fitri yang membahagiakan mustahik dan memberdayakan petani di negeri sendiri. (jto)


BACA JUGA

Minggu, 20 Mei 2018 00:10

Teroris dan Ketidakadilan

Oleh: Dhedy Ketua Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT)  TAK ada asap kalau tidak ada api. …

Kamis, 03 Mei 2018 00:25

Pers Indonesia “Belum Merdeka”

EDITORIAL Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post  TAK banyak yang mengetahui,…

Sabtu, 21 April 2018 00:01

Perempuan dan Diskriminasi

Oleh Nirmaya Deasari             Saat ini telah memasuki tahun…

Sabtu, 14 April 2018 00:14

Mahasiswa Taat Syariat atau Radikal

Catatan Oleh nur’aini  Mahasiswa Jurusan Tarbiya Prodi PAI. Sangatta Assalamu’alaikum…

Rabu, 11 April 2018 00:05

Jalan Pikiran

Dian eliasari, S.KM Pendidik “Menjalankan demokrasi tidak dapat dilakukan dengan membangun…

Sabtu, 07 April 2018 00:11

Hoaks, Bohong yang Diberitakan

Oleh N Yahya Yabo  Perkembangan dunia informasi saat ini menjadi hal yang paling utama. Arus informasi…

Senin, 02 April 2018 18:22

Melakukan Koreksi

Oleh: Purwanti Rahayu Ibu Rumah Tangga Banyak terjadi sekarang di dunia maya atau dunia nyata yang mengkritik…

Rabu, 28 Maret 2018 00:00

Buang Bayi….Kesan Umat Membuang Syariat Allah SWT

Fatmawati Thamrin Ibu Rumah Tangga  Gejala buang bayi yang semakin menjadi ‘trend’…

Rabu, 28 Maret 2018 00:00

Kacamata Islam tentang Zakat 2,5 %

Nur’Amal, S.Pd Guru Al Quran Cahaya Fikri Rencana penerbitan Perpres soal zakat ASN (Aparatur…

Jumat, 23 Maret 2018 00:19

Tahun Politik, Pertarungan Kandidat Kian Tajam

Oleh: Nur Uci RamadaniMahasiswa STIE Sangatta KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Jombang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .