MANAGED BY:
RABU
22 AGUSTUS
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

METRO SAMARINDA

Jumat, 25 Mei 2018 00:01
Ajarkan Tarian Tradisional Kaltim, Kerap Juara di Berbagai Festival

Kisah Sanggar Seni Telabang Bertahan di Era Kekinian

KEBERSAMAAN: Para penari yang tergabung dalam Sanggar Telabang ikut memeriahkan jalannya Festival Mahakam yang rutin digelar pemerintah setiap tahunnya.(DEVI/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, Komitmen sanggar seni Telabang dalam melestarikan kebudayaan lokal patut diberikan apresiasi. Dari masa ke masa, sanggar seni yang satu ini selalu selalu komitmen menelurkan kebudayaan kepada generasi muda. Di antaranya dengan melakukan pembinaan budaya dengan go to school.

DEVI NILA SARI, Samarinda

Sanggar Seni Telabang merupakan salah satu sanggar seni dan budaya yang berada di Samarinda. Komunitas yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an ini awalnya bernama Bina Tari Taman Budaya, kemudian pada 5 Januari 1990 berganti nama menjadi sanggar seni yang dikenal saat ini yaitu Telabang.

Kenapa diberi nama Telabang? Ketua umum sanggar seni tersebut, Bakti Hartatib menjelaskan, Telabang adalah alat senjata suku Dayak berupa perisai berfungsi untuk mempertahankan serangan musuh.

 “Karena itulah kami bisa bertahan sampai saat ini dengan asumsi bahwa Telabang adalah perisai yang mampu melindungi kami dari serangan pihak manapun,” kata dia saat disambangi seusai latihan di Taman Budaya, Kamis (24/5) kemarin.

Sanggar seni yang beralamat di Jalan Padat Karya Perumahan Puspita Bengkuring Blok AG ini beranggotakan sekira 20-25 orang, dari remaja hingga dewasa. Untuk kesenian yang diajarkan, fokus kepada budaya tradisional Kaltim seperti kesenian Dayak dan Jepen.

Selain memiliki anggota tetap, Sanggar Seni Telabang juga memiliki anak-anak binaan dari berbagai sekolah seperti SD Muhammadiyah, SD Negeri 27, SMP Negeri 22, dan SMK Negeri 1. Anak-anak dari berbagai sekolah tersebut kerap membawa nama sekolahnya dan menjuarai berbagai event. Hal ini memberikan semangat tersendiri bagi mereka untuk tetap berjuang melestarikan budaya daerah.

Awalnya sanggar seni ini didirikan untuk menampung kreasi anak-anak putus sekolah sehingga lebih terarah untuk mencintai kesenian. Namun, untuk sekarang lebih kepada membina anak-anak SD agar lebih mengenal budaya lokal.

“Karena anak-anak inilah yang nantinya akan mempertahankan dan melestarikan budaya lokal kita. Yang remaja nantinya akan beranjak dewasa, makanya fokus kami lebih kepada membina anak-anak agar mengenal kesenian tradisional Kaltim,” tuturnya.

Mengenai event yang pernah diikuti sebelumnya, Sanggar Seni Telabang tidak pernah absen mengikuti festival lokal maupun nasional. Sebut saja Festival Mahakam dan Festival Kemilau. Karena fokus utamanya untuk berkompetisi, sehingga mereka selalu mencari peluang agar dapat tampil di depan khalayak.

“Terakhir kami ke Kota Baru, Kalimantan Selatan. Kami ke sana hampir 20 orang. Kemudian festival Pekan Raya, kami juara 1 dan 2 dan masih banyak lagi. Saya tidak memandang mereka juara berapa, yang penting mereka tampil saya sudah bangga. Namun, jika bisa masuk 6 besar,” kata dia.

Bakti menuturkan, kesenian yang ada di Indonesia sangat beragam. Tiap provinsi memiliki kebudayaan masing-masing. Terutama Kaltim, memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dari kesenian lainnya terutama kebudayaan Dayak. Sehingga, dirinya tidak merasa ragu untuk membawa kesenian tersebut ke hadapan publik. Dia mengatakan pihaknya tidak takut dalam berkompetisi.

“Karena semakin banyak anak-anak berkompetisi, semakin kuat mentalnya. Itulah hal utama yang harus kita tanamkan kepada anak-anak sejak dini,” ujar Bakti.

Sanggar seni ini sendiri mengajarkan kesenian tradisional Kaltim seperti tari jepen, tari perang,  tari gong, tari enggang, dan kesenian hudoq. Ditanya mengenai momen mengesankan yang pernah dialaminya selama menjadi ketua Telabang, bapak empat anak itu menjawab yaitu ketika tampil di istana Negara.

Bagi Bakti, pengalaman tersebut merupakan  kebanggaan tersendiri. Selain itu, dia pun terkenang saat tampil di Banjarmasin pada 2002, membawakan tarian Paramaya.

“Pada saat itu seluruh penonton di Gedung Pangeran Surianyah standing applause ketika penampilan kami selesai. Sampai diberitakan di RCTI dua hari berturut-turut. Kebanggaan itu harganya sangat tak ternilai,” ungkapnya sambil terharu.

Selain itu, pria kelahiran Samarinda 1965 itu menuturkan, sepanjang perjalanan Sanggar Seni Telabang sejak 90-an, suka dukanya selama menjabat ketua adalah ketika harus membatasi anak-anak didiknya untuk tampil di berbagai festival lokal maupun nasional. Dia ingin agar semuanya bisa merasakan pengalaman yang sama.

“Karena saat kami diminta tampil, kadang anggaran hanya cukup untuk sekian orang. Kalau saya maunya agar semua anak bisa merasakan tampil dan berkompetisi di depan orang banyak,” sebut Bakti.

Sehingga, tak jarang bila dia menambahkan kuota menjadi 13 orang walaupun hanya diminta tampil sepuluh orang. Kelebihan kuota itu, disiasati Bakti dengan mengguunakan dana pribadinya. “Yang penting semua orang merasa senang, walau habis-habisan,” ujarnya.

Mengenai pembiayaan sanggar seni yang dia pimpin, Bakti membeerkan, itu semua merupakan dana pribadi. Kecuali ada pesanan khusus sehingga bisa menambah pemasukan kas sanggar. Selain itu, pemasukan lainnya juga berasal dari uang iuran anak-anak yang ikut les. “Namun yang paling banyak berasal dari pesanan-pesana,” pungkasnya. (***)


BACA JUGA

Senin, 20 Agustus 2018 19:55
Pileg 2019

Penelusuran Data Bacaleg Disebut Belum Maksimal

SAMARINDA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim telah mengumumkan daftar calon sementara (DCT)…

Senin, 20 Agustus 2018 19:54

Soal CV SSP yang Tak Patuh Aturan, Warga Minta Dewan Bertindak

SAMARINDA – Warga RT 24, Kelurahan Sangasanga Dalam, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:03
Semarak Hut RI Ke-73

Dari Kostum Kreasi hingga Kostum Ala Papua

SAMARINDA - Pawai Pembangunan digelar di Kota Tepian, Sabtu (18/8) kemarin. Ada-ada saja lakon para…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:03
Semarak Hut RI Ke-73

SUDAH KEBIASAAN..!! Usai Pawai, Sampah Berserakan

SAMARINDA – Setiap setahun sekali, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menggelar pawai pembangunan…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:03

Dewan Sebut Korupsi Bukan Salah Sistem

SAMARINDA – Merebaknya kasus korupsi ditengarai tak terlepas dari minimnya kesadaran cinta tanah…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:03

Reklamasi Tambang Bakal Dibedah Lagi

SAMARINDA – Pekerjaan rumah (PR) dalam bidang pertambangan tampaknya tidak pernah habis. Salah…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:03

PESIMISTIS..!! Samarinda Sulit Bebas Anjal, Ini Alasannya

SAMARINDA – Deklarasi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bebas anak jalanan (anjal), gelandangan…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:03

Panen Raya, Harga Beras Terjun Bebas

SAMARINDA – Sejumlah pedagang di Samarinda mengaku terjadi penurunan harga beras pada Agustus…

Sabtu, 18 Agustus 2018 00:01
Semarak Hut RI Ke-73

Peringatan Kemerdekaan di Tengah Himpitan Tambang

SAMARINDA - Bagi masyarakat yang hidup berdekatan dengan tambang batu bara, makna peringatan hari kemerdekaan…

Sabtu, 18 Agustus 2018 00:01

Utamakan Profesionalitas, Isran-Hadi Enggan Bagi-bagi “Kue” Jabatan

SAMARINDA – Pasca dilantik pada Desember 2018 mendatang, Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim terpilih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .