MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Kamis, 31 Mei 2018 00:01
Syukuran Arab Hays
Oleh: Dahlan Iskan

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan

Saya dapat kiriman buka puasa. Dari Rochman Budiyanto. Wartawan intelektual. Humoris. Satiris.

Kirimannya berupa hadits. Via WA. Sohih Bukhori Muslim. Intinya: harusnya saya memang begitu. Sejajar dengan imam. Kalau hanya berdua. Tentu saya tahu hadits itu.

Tapi sejak kecil sudah diajari tawadhuk. Rasanya tidak sopan sejajar dengan imam. Apalagi imamnya bapak saya.

Wahai para santri: kalau Anda berjamaah berdua dengan kyai Anda beranikah berdiri sejajar? Tapi ya sudah.

Kiriman hadits itu membuat saya ingat Hays lagi. Ingat masjid itu lagi. Ingat anak muda vacuum cleaner itu lagi.

Saya ingat ia undang saya makan malam. Dua hari sebelum puasa. Tempatnya ya di masjid itu. Kota kecil sekali di Kansas itu. Pedalaman Amerika itu.

Meski undangannya makan malam saya putuskan makan malam dulu di rumah. Ini terkait dengan jadwal minum obat. Sesuai jadwal makan malam saya: pukul 18.00. Ayam panggang, kobis mentah, nasi quinoa dan sambal ABC botol.

Kota ini kecil sekali. Penduduknya 20.000 saja. Tidak ada Asian Market. Yang biasa jual bahan makanan dari Asia.

Asian Market terdekat di Garden City. Sekitar 200 km dari Hays. Maka saya putuskan beli sambal ABC lewat Amazon.com. Bebas ongkos kirim. Harga sebotol 6 dolar: sekitar Rp 80.000. Dua hari sampai ke rumah.

Habis makan malam matahari masih tinggi. Tapi sebelum pukul 9 malam saya sudah tiba di masjid. Sekalian ingin salat maghrib di situ.

Ternyata sudah hadir seorang mahasiswa asal Arab Saudi. Saya pun minta ijin untuk azan. Dipersilakan.

Habis azan saya minta ia jadi imam. Ia bilang tunggu saja. Imamnya sudah dalam perjalanan. Jam sudah pukul 21.15. Yang ditunggu ternyata orang tua itu. Ayah mahasiswi itu. Yang khotbah Jumat itu. Yang kausnya, jelana jeannya dan topi petnya masih sama.

Sambil menunggu imam tadi anak muda itu sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam.

Selesai maghrib saya langsung salat isya. Sendirian. Sudah jam 21.40. Yang lain sibuk menggelar hambal. Dan duduk melingkar di sekitar hambal bergambar Kabah itu.

Makanan pun disajikan: kurma, cake dan kahwah --kopi Arab. Semua yang hadir memang mahasiswa asal Arab Saudi.

Mereka asyik makan kurma dan cake. Sambil ngobrol. Dalam bahasa Arab. Saya hanya mengerti beberapa persennya.

Dalam hati saya kecewa: cuma itukah makan malamnya? Untung saya sudah makan di rumah. Saya tidak makan kurma itu. Sudah pernah kekenyangan makan korma mentah. Saya pamit pulang. Tidak makan cake itu: pasti manis sekali. Tidak minum kahwah: sudah tahu pahitnya.

Sudah pukul 10 malam. Jadwal saya tidur.

Saat melewati dapur, anak muda vacuum cleaner itu mencegah. Saya tidak boleh pulang. ''Anda harus ikut makan malam,'' katanya.

Lho. Tadi itu apa? Dalam hati. Anak muda itu ternyata lagi nunggui drum steinless. Di dapur. Ada sedikit uap mengepul dari dalamnya. Dia buka tutupnya: ampuuuun. Kambing!

Daging kambing yang sedang direbus. Berbongkah-bongkah. Ternyata ada semacam sarang yang bisa diangkat dari dalam drum itu. Daging kambingnya di sarang itu.

Setelah diicipi ternyata belum masak. Dibalikkan ke dalam drum lagi. Airnya mendidih. Sudah pukul 11 malam. Mahasiswa asal Arab lainnya berdatangan. Total ada 20 orang. Makannya, kambingnya satu drum.

Saya terus mendengarkan mereka ngobrol. Sambil mengingat-ingat pelajaran bahasa Arab di pesantren dulu. Tiba-tiba orang tua itu berdiri: azan. Yang hadir pun sigap: bikin barisan. Mereka akan salat isya. Pukul 11.15.

Saya bingung: tadi sudah salat isya sendiri. Haruskah ikut berjamaah? Saya putuskan berwudu. Ikut mereka.

Setelah itu barulah persiapan makan malam. Kambing bergumpal-gumpal diangkat dari drum. Tidak ada lagi kuahnya. Setengah kering.

Saat ketemu anak muda itu hari-hari berikutnya saya bertanya: dapat daging kambing dari mana. Di super market tidak dijual. Di Walmart tidak ada. ''Saya beli kambing hidup,'' ujar Faris, anak muda vacuum cleaner itu, imam yang heboh itu. ''Saya sembelih sendiri,'' tambahnya.

Usai angkat gumpalan daging dari drumnya dibuka pula oven besar di sebelahnya: isinya panci. Penuh nasi briani. Yang ada taburan bumbu di atasnya. Termasuk taburan cengkeh.

Panas. Mengebul uap panasnya. Menyebar aromanya. Dituanglah nasi itu. Ke tampah alumunium bundar. Gumpalan kambingnya ditumpuk di atas nasi briani.

Kami pun, 20 orang, melingkari nasi kambing itu. Dua lingkaran. Semua tangan menyerbu si kambing.

Tidak asing bagi saya. Sudah sering pesan nasi model begituan. Kalau lagi ada tamu khusus. Praktis hampir pukul 12 malam baru mulai makan. Benar-benar kebiasaan orang di Arab. Makan malamnya jam segitu.

Saya mencicipi beberapa cuil kambing. Dan beberapa puluk nasi briani. Puluk adalah satuan untuk nasi yang mampu digenggam oleh lima ujung jari sebelum dimasukkan ke mulut. Maafkan atas definisi asal jadi itu.

Saya menikmati pulukan itu. Tapi lebih menikmati suasana asli serba Arabnya: cara duduknya, ngobrolnya, saling ejeknya, cara meraup nasinya, cara mencongkel dagingnya, cara mengeremus kambingnya.

Saya pamit: sudah pukul 00.00. Tidak emosi untuk ikut meludeskan kambing.

Ternyata semua itu syukuran: ada enam mahasiswa yang wisuda keesokan harinya. Lantas pulang kampung. Tidak akan ke masjid itu.lagi.

Masjid ini akan kian sepi. Tapi hati saya ramai. Melihat sudah ada tulisan 'masjid' tertempel di dinding luarnya. (dis)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 00:20

Jangan Sampai Meleng

Oleh: Lukman M, Redaktur Bontang Post  JAGAD media sosial dibuat gempar. Isu penculikan anak merajalela.…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:53
KOLOM MINGGU

Jaga Bontang Terus Berkembang

Lukman M, Redaktur Bontang Post  JUMAT (12/10) lalu merupakan hari yang berbahagia bagi kota kita…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:01
Gempa Palu

Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga

Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng)…

Minggu, 07 Oktober 2018 00:02

Keadilan untuk Penyebar Hoaks

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  HOAKS alias kabar bohong semakin merajalela. Dalam sebulan…

Kamis, 04 Oktober 2018 00:31

Palu Ketika Tanpa Koran

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kepikiran teman-teman saya di Radar Sulteng. Harian yang saya dirikan…

Minggu, 30 September 2018 00:05

Teguran dari Cincin Api

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  BENCANA kembali menerpa negeri ini. Kali ini di kawasan Sulawesi…

Jumat, 28 September 2018 00:42

Sepak Bola Layaknya Malaikat Pencabut Nyawa

EDITORIAL Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post  Meninggalnya seorang suporter Persija Jakarta,…

Selasa, 25 September 2018 00:26

Menanti Media Sosial yang Damai

Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post  PER 23 September 2018, kampanye…

Selasa, 25 September 2018 00:16

Herwan Legawa Tinggalkan Karang Paci

SAMARINDA – Silang sengkarut penggantian antar waktu (PAW) antara dua kubu yang sempat berseteru…

Jumat, 21 September 2018 00:25

Memetik Hikmah dari Cinderella Man

Yusva Alam Redaktur Bontang Post  Banyak pelajaran menarik bisa kita dapatkan dari lingkungan sekitar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .