MANAGED BY:
MINGGU
17 FEBRUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

METRO SAMARINDA

Jumat, 20 Juli 2018 00:09
Pensiun Dini Menanti Sopir Angkot

Akibat Sepi Penumpang, Setoran Harian Kerap Tak Terpenuhi

TERANCAM: Berkali-kali para sopir angkot tidak dapat memenuhi jatah penyetoran karena sepi penumpang. Bahkan ratusan sopir angkot kini terancam dirumahkan.(MUBIN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO,  

SAMARINDA– Ratusan sopir yang mengemudikan angkutan kota (angkot) di Samarinda mengeluhkan minimnya pendapatan yang peroleh setiap harinya. Ironinya, hasil yang didapatkan bahkan tidak cukup untuk setoran harian pada pemilik angkot. Atas dasar itu, para sopir kerap kali mendapat ancaman dihentikan oleh pemilik kendaraan.

Sedikitnya terdapat 425 taksi A yang masih bertahan di sejumlah terminal Samarinda. Artinya sebanyak itu pula jumlah sopir yang bakal terancam dirumahkan atau gulung tikar, seiring tidak terpenuhinya setoran harian pada pemilik angkot.

Kondisi itu dialami Muhammad Sahrir (42). Dia mengaku, pendapatan sopir angkot sudah menurun sejak 2005. Bahkan selama dua tahun terakhir pemasukan dirinya dan para sopir lainnya kian terjun bebas.

“Bertahan hidup saja susah sekarang. Untuk setor saja, kadang dapat. Kadang juga enggak dapat. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau harus dijalani,” ungkapnya, Kamis (19/7) kemarin.

Kata Sahrir, setiap hari dirinya mengantar penumpang sebanyak lima hingga enam kali dari Terminal Sungai Kunjang menuju Samarinda Kota dan sekitarnya. Jika beruntung, setiap hari Sahrir bisa mengumpulkan uang Rp 100 ribu.

Dia mengisahkan, pada 2000 lalu, jumlah penumpang tak mampu dilayani hanya dengan satu sopir. Bekerja sekira pukul 06.00 Wita hingga siang hari, sedikitnya Sahrir dapat mengumpulkan uang Rp 250 ribu.

“Dulu satu angkot sopirnya dua orang. Kami gantian karena saking banyaknya penumpang. Mau dapat uang Rp 100 ribu, kerjanya hanya main-main saja. Kalau sekarang, mau dapat segitu itu sulit,” kata Sahrir.

Dari pendapatan tersebut, Sahrir diwajibkan menyetor pada pemilik angkot Rp 50 ribu. Artinya setelah mengisi bahan bakar, dirinya dapat membawa pulang Rp 150 ribu.

“Itu dulu yah. Kalau sekarang, sering dapat Rp 70 ribu. Padahal kan kami wajib setor Rp 100 ribu sama bos. Kalau dapatnya di bawah itu, ya kami yang harus keluarkan uang sendiri,” bebernya.

Karena itu, dia sering merogoh kocek pribadi untuk memenuhi setoran harian. Jika tidak demikian, maka pemilik angkot akan menghentikan kerja sama dan mengambil angkotnya. Karenanya, jika kondisi seperti itu masih terus berlangsung, maka mau tidak mau ia dan kawan-kawannya harus pensiun dini sebagai sopir angkot.

“Harapan saya pemerintah ini benar-benar memperhatikan masyarakat seperti kami ini. Apalagi semenjak ada yang online itu loh, makin tidak karuan nasib kami ini. Harapan saya pada pemerintah, aturan itu dijalankan. Mohon transportasi online yang ilegal ditertibkan,” imbuhnya.

Kondisi Sahrir ternyata tidak jauh berbeda dengan Herman (24). Sopir taksi A itu mengaku kesulitan mendapat setor harian. Hal itu sudah berlangsung dua tahun terakhir.

Walau tarif angkot kini lebih tinggi ketimbang dulu, tidak berarti mampu menutupi kebutuhan operasional dan setoran harian. Kini, setiap penumpang yang naik di luar Terminal Sungai Kunjang, dikenakan tarif Rp 7 ribu. Sedangkan dari terminal, bergantung jauh atau dekat jarak yang ditempuh. Bagi penumpang dengan jarak paling jauh, tarifnya Rp 10 ribu.

“Dengan tarif itu, narik dari pagi sampai sore, setiap hari paling banyak dapat Rp 150 ribu. Uang itu digunakan untuk beli bensin Rp 50 ribu dan setor sama pemilik angkot Rp 100 ribu,” sebutnya.

Herman mengaku pernah mendapat Rp 30 ribu. Pendapatan tersebut tentu saja jauh dari target harian yang mengharuskan dirinya mendapat minimal Rp 200 ribu. Dengan pemasukan yang minim, setiap hari dirinya harus berutang.

“Kalau tahun pertama, waktu 2016, pertama kali jadi sopir, masih bisa dapat Rp 200 ribu. Kalau sekarang sepi sekali. Enggak kayak dulu,” ucapnya. (*/um)


BACA JUGA

Kamis, 27 Desember 2018 19:19

2019, Kantong Plastik Dilarang

SAMARINDA – Upaya Pemkot Samarinda menata lingkungan dengan melarang penggunaan…

Kamis, 27 Desember 2018 19:17

Dari Anugerah Kencana Nasional untuk Wali Kota Samarinda

Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menerima Anugerah Kencana Nasional 2018…

Minggu, 23 Desember 2018 17:27

Kontrak Penjualan LNG ke Jepang Bakal Habis, Begini Kata Gubernur...

SAMARINDA – Kontrak ekspor gas alam cair atau liquefied natural…

Sabtu, 22 Desember 2018 18:44

Bisnis Hotel Diprediksi Terus Tumbuh

 “Kenaikan itu sudah cukup bagus. Karena di tahun-tahun sebelumnya, tingkat…

Sabtu, 22 Desember 2018 18:43

Pekerja Berhak Atas Jaminan Sosial

SAMARINDA – Setiap pekerja berhak mendapat jaminan sosial. Hal ini…

Sabtu, 22 Desember 2018 18:42

Gubernur dan Dubes Rusia Satu Meja

SAMARINDA - Untuk memastikan kelanjutan kerja sama proyek strategis di…

Sabtu, 22 Desember 2018 18:41

Gelar Kegiatan Donor Darah, Libatkan Semua Kalangan Masyarakat

Banyak cara dapat dilakukan untuk memperingati Hari Ibu Nasional yang…

Jumat, 21 Desember 2018 18:44

Isran Pastikan Harga Sembako di Batas Wajar

SAMARINDA – Upaya antisipasi kelangkaan barang dan naiknya harga kebutuhan…

Jumat, 21 Desember 2018 18:43

2019, Ekonomi Tumbuh Lambat

SAMARINDA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim belum berani mematok angka…

Jumat, 21 Desember 2018 18:42

2018, Asuransi Mobil Tumbuh Positif

SAMARINDA – Pertumbuhan jasa asuransi mobil di Kaltim pada 2018…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*