MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Minggu, 22 Juli 2018 00:21
Kolom Minggu
Zohri dan PR Olahraga Kita
Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post

PROKAL.CO, Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post 

KEBERHASILAN Lalu Muhammad Zohri menjadi juara dunia lari 100 meter menjadi bahan pembicaraan nasional belakangan ini. Selain karena prestasi membanggakan, remaja asal Nusa Tenggara Barat (NTB) juga menjadi pembicaraan karena berbagai hal yang menyelimuti kesuksesannya di kejuaraan atletik dunia U-20 yang berlangsung di Finlandia tersebut.

Mulai dari polemik bendera Polandia yang dikenakan Zohri, hingga kehidupannya di NTB dengan rumah yang memprihatinkan. Termasuk jelang pelaksanaan Asian Games 2018 di Indonesia, Agustus mendatang. Yang pasti, medali emas yang diraih Zohri memunculkan kembali harapan bagai para pemuda dan pemudi Indonesia untuk meraih prestasi tingkat dunia.

Di satu sisi, keberhasilan Zohri menjadi semacam peringatan bagi pemerintah untuk bisa lebih serius dalam menggerakkan olahraga. Karena dengan jumlah penduduk yang begitu banyaknya bila dibandingkan negara-negara lain, Indonesia menyimpan begitu banyak pula bibit-bibit para atlet yang bisa membanggakan bangsa.

Sayangnya dari pandangan saya selaku jurnalis, apa yang dilakukan pemerintah dalam membangun kekuatan olahraga di pentas dunia masih belum maksimal. Banyak hal yang bisa dijadikan rujukan kenapa upaya pemerintah yang seakan masih setengah hati dalam kegiatan olah tubuh nan positif bagi generasi bangsa ini.

Mulai dari anggaran pembinaan, perhatian kepada para atlet, hingga minimnya fasilitas dan turnamen yang digelar. Sosialisasi terhadap jenis-jenis olahraga kepada generasi muda pun saya rasa masih perlu banyak digenjot. Karena yang terlihat di permukaan, masyarakat hanya mengenal olahraga-olahraga bersifat kelompok seperti sepak bola, basket, bola voli, atau badminton. Padahal masih banyak olahraga yang bisa ditekuni, bisa saja membawa nama baik bagi Indonesia.

Perhatian kepada generasi muda merupakan hal yang harus dilakukan untuk bisa mewujudkan generasi-generasi emas atlet olahraga. Karena bila saya mengamati pembinaan olahraga di luar negeri sana, tepatnya pada negara-negara yang kerap berprestasi di turnamen-turnamen olahraga kenamaan, semuanya diawali dari pembinaan para atlet dari tingkat usia paling muda. Contoh saja negara-negara besar di bidang olahraga seperti Amerika Serikat atau Tiongkok.

Maka bicara mengejar prestasi olahraga, pemerintah Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah, harus mau memberikan perhatiannya kepada generasi muda. Pembinaan atlet sejak usia remaja bahkan kanak-kanak, mesti diintensifkan. Hal ini mesti diikuti pula dengan penyelenggaraan berbagai turnamen untuk merangsang semangat kompetisi sekaligus menjadi pengalaman lapangan yang berharga.

Bukan sekadar tugas pemerintah, stakeholder lainnya juga mesti mendukung upaya pembinaan olahraga sejak dini ini. Perusahaan misalnya, baik perusahaan negeri ataupun swasta, bisa mendukung dengan menjadi sponsor turnamen atau membuka akademi olahraga, pemberian beasiswa olahraga sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR) mereka.

Sebagaimana yang sudah sejak lama dilakukan oleh Djarum misalnya yang memberikan beasiswa bulu tangkis, atau yang belakangan dilakukan Pupuk Kaltim dengan membuka Akademi Bulutangkis di Kota Taman. Tentu dengan sponsorship perusahaan atas kegiatan-kegiatan olahraga, selain berkontribusi pada generasi para atlet, secara tidak langsung juga mempromosikan perusahaan terkait. Sehingga terwujud simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan.

Stakeholder lain yang berperan penting adalah sekolah tempat belajar anak-anak bangsa. Olahraga yang sudah menjadi bagian pelajaran rutin bahkan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah, sudah seharusnya mengalami modernisasi pembelajaran. Karena dari sekolah inilah bakat-bakat dari setiap anak dapat terlihat, termasuk bakat olahraga. Ekskul yang ada di sekolah, tak bisa dimungkiri berperan penting dalam pengenalan dan pengembangan bakat olahraga anak-anak bangsa.

Dengan tanggung jawab memberikan pendidikan terbaik, pihak sekolah sudah harus mulai berpikir secara universal tentang pembelajaran olahraga yang diberikan. Pelajaran olahraga yang diberikan jangan lagi sebatas untuk mengisi kolom-kolom di rapor saja. Melainkan juga sudah mesti diberikan secara maksimal sehingga bisa memberikan gambaran olahraga apa yang bisa ditekuni anak di masa depan, kalau misalnya si anak hendak terjun menjadi atlet.

Termasuk dalam hal jenis olahraga yang diajarkan pun, tak boleh lagi monoton. Selama ini, atau setidaknya dalam sepengetahuan saya, masih banyak sekolah yang mengajar jenis-jenis olahraga standar dan yang popular saja. Contohnya di masa saya sekolah dulu, ada dua olahraga yang hampir selalu dimainkan setiap kali praktik, yaitu bola basket dan bola voli.

Olahraga-olahraga yang lainnya jarang atau bahkan tidak pernah mendapat porsi pelatihan. Kalaupun diajarkan, hanya dalam satu kali pertemuan dan terlupakan. Malahan dua olahraga ini menentukan dalam ujian akhir. Pelajar dituntut untuk bisa melakukannya atau kalau tidak, bakal tidak lulus mata pelajaran olahraga. Padahal masih banyak olahraga lainnya yang bisa mewarnai hari-hari olahraga anak di sekolah.

Kenyataannya, tidak semua anak menyukai dua olahraga itu. Ada anak yang mungkin menyukai bulutangkis atau tenis meja, namun karena guru olahraganya tak pernah mengajarkan, menjadi kesulitan untuk mempelajarinya. Apalagi tak melulu olahraga yang diminati tersebut tersedia dalam format ekskul. Bagi pelajar dari kalangan kurang mampu, tentu membutuhkan upaya yang ekstra agar bisa menekuni olahraga kegemaran yang tidak bisa ditemukannya di sekolah.

Namun begitu, penggunaan metode pembelajaran seperti ini tak bisa disalahkan begitu saja pada pihak sekolah. Bisa saja karena perintah kurikulum, atau bisa juga karena keterbatasan anggaran yang membuat sekolah tak mampu mengadakan fasilitas-fasilitas olahraga lainnya dan cenderung lebih memilih bola voli, basket, atau sepak bola yang jelas adalah olahraga berkelompok dan populer.

Hal ini tentu bukan hal yang bagus dalam pembinaan olahraga maupun dalam pendidikan itu sendiri. Seharusnya sekolah bisa memberikan pilihan olahraga, sehingga anak-anak bisa memilih dan menekuni olahraga yang disenanginya. Bukan tidak mungkin bakat-bakat terpendam yang dimiliki dapat terasah dan melahirkan “Zohri-Zohri” lainnya.

Pihak lain yang punya peran dalam pembinaan olahraga ini adalah orang tua. Khususnya dalam memperkenalkan olahraga kepada anak-anaknya sedari dini. Mengingat betapa positifnya manfaat yang dimiliki olahraga, tentu menjadi solusi tersendiri dalam pendidikan anak-anak di era teknologi informasi yang semakin berkembang belakangan ini. Kegiatan olahraga tentunya bisa menjauhkan dari pengaruh-pengaruh negatif seperti pornografi dan juga narkoba.

Karena bukan tidak mungkin ada orang tua di luar sana yang melarang anaknya untuk menekuni suatu jenis olahraga. Padahal anak tersebut punya bakat di suatu olahraga tertentu. Namun karena larangan orang tua, bakat itu pun hilang begitu saja. Orang tua lebih memaksa anaknya untuk belajar ilmu-ilmu pasti ketimbang olahraga.

Tak bisa dimungkiri, masih banyak orang tua yang tak senang anaknya memiliki cita-cita atlet. Masih banyak orang tua yang berpikir bahwa profesi seorang atlet tak menjanjikan masa depan yang cerah. Sayangnya anggapan ini di negeri kita Indonesia tercinta, sangat mudah untuk diamini. Hanya segelintir atlet di Indonesia ini yang benar-benar sukses secara materi dari dunia olahraga. Sebagian besar mesti bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri, sembari tetap berusaha merajut prestasi.

Kesejahteraan atlet memang masih menjadi pekerjaan rumah atau PR khusus bagi pemerintah. Sudah banyak kasus para atlet berprestasi yang membanggakan negeri ini di kancah dunia, namun menderita di hari tuanya. Bahkan saya pernah membaca sampai ada atlet yang harus rela menjual medali-medali juaranya demi bisa bertahan hidup. Sungguh miris.

Tentu menjadi PR bagi pemerintah, baik di tingkat pusat atau daerah untuk memberikan perhatian kepada para atlet ini. Misalnya dengan bonus prestasi yang besar, atau dengan pekerjaan di luar kegiatan atlet yang bisa menopang hidup. Karena menjadi atlet itu berat, tidak seperti Dilan. Dibutuhkan konsentrasi yang luar biasa untuk bisa berlatih, bertanding, dan meraih prestasi.

Konsentrasi itu jelas akan rusak berantakan apabila pikiran sang atlet terganggu biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Bagaimana bisa berkonsentrasi dengan baik apabila pendidikan anak belum terpenuhi? Bagaimana otot-otot ini bisa menghasilkan prestasi bila tidak ada asupan gizi seimbang yang sangat diperlukan untuk hasil optimal?

Para atlet sejatinya tidak membutuhkan banyak perhatian dari pemerintah. Bisa mendapat bonus dari pemerintah saja mereka sudah sangat bersyukur. Apalagi kalau bonusnya begitu besar, setelah mereka susah payah merengkuh prestasi membanggakan. Namun kenyataannya, para atlet pun mesti memperjuangkan lagi bonus yang ironisnya dijanjikan pemerintah sendiri. Lihat saja aksi unjuk rasa para atlet Kaltim beberapa waktu silam.

Mungkin karena sudah sering dikecewakan pemerintah, sampai-sampai para atlet paham benar dengan perhatian dari pemerintah yang angin-anginan. Seakan sudah paham dengan sikap pemerintah yang sering kali menjadikan mereka komoditas politik demi kepentingan-kepentingan tertentu. Maka ada atlet yang sudah tak lagi mengharapkan bonus atau janji-janji dari pemerintah. Tanpa perhatian yang layak, mereka tetap berlatih dan berusaha mencetak prestasi demi membanggakan negara.

Banyak atlet yang berkorban menggunakan dana pribadinya demi bisa membeli peralatan olahraga, demi bisa berlatih, demi bisa pergi ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri untuk mengikuti turnamen. Mereka tak peduli bonus dari pemerintah, yang mereka cari adalah prestasi terbaik demi harumnya nama bangsa. Mereka telah menunjukkan jiwa Pancasila yang sesungguhnya tanpa perlu mengobral kata-kata “Saya Pancasila”.

Memang di tengah krisis keuangan yang melanda saat ini, tak bisa menyalahkan sepenuhnya pemerintah atas minimnya perhatian kepada para atlet. Akan tetapi, sejatinya selalu ada cara yang bisa dilakukan pemerintah demi memberikan kesejahteraan kepada para atlet yang sayangnya seakan tak bisa dimanfaatkan dengan dalih “sudah aturan”.

Lihat saja gaji para petinggi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang mencapai ratusan juta. Bila saja para pemimpin di atas sana bisa lebih “Pancasila”, maka anggaran tersebut bisa disisihkan sebagian untuk membantu para atlet. Termasuk juga anggaran-anggaran lainnya yang sebenarnya masih bisa disiasati dengan bijak, untuk dialihkan kepada pembinaan olahraga Indonesia. Atau bisa juga dengan program “Bapak Angkat”.

Pembinaan olahraga ini memang tak bisa angin-anginan. Pemerintah harus bersikap serius melakukannya. Setidaknya bagaimana menghapus anggapan bahwa profesi atlet adalah profesi yang tak menjanjikan. Pemerintah harus bisa menghapus stigma itu, harus bisa menjadikan atlet sebagai salah satu profesi pilihan yang bisa ditekuni para generasi muda penerus bangsa.

Apalagi di era teknologi informasi saat ini yang menjanjikan banyak kemudahan, yang di sisi lain memunculkan beragam ancaman bagi generasi muda kita. Bila pemerintah tak bisa memberikan perhatian serius kepada olahraga, atau kepada para atlet kita, jangan harap anak-anak muda tertarik untuk menjadi atlet untuk melanjutkan estafet keolahragaan kita. Bila demikian, maka jangan pernah berharap bisa mendapatkan “Zohri-Zohri” lainnya di masa yang akan datang. (*) 


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 00:15

Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kira hanya saya. Ternyata orang-orang asing juga berpikiran sama: Kota…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:01
Gempa Palu

Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga

Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng)…

Kamis, 04 Oktober 2018 00:31

Palu Ketika Tanpa Koran

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kepikiran teman-teman saya di Radar Sulteng. Harian yang saya dirikan…

Selasa, 25 September 2018 00:16

Herwan Legawa Tinggalkan Karang Paci

SAMARINDA – Silang sengkarut penggantian antar waktu (PAW) antara dua kubu yang sempat berseteru…

Rabu, 19 September 2018 00:38

Houston

Oleh: Dahlan Iskan Namanya masjid Istiqlal. Lokasinya di kota Houston, Texas, Amerika. Saya salat maghrib…

Rabu, 29 Agustus 2018 00:04

Airplane Mode ke Kecamatan Sembilan Warna

Oleh: Dahlan Iskan Gara-gara HP.  Saya lebih pilih kereta cepat daripada pesawat kalau lagi di…

Rabu, 29 Agustus 2018 00:03

Fobia #2019GantiPresiden

Oleh Dhedy, Ketua Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT)  #2019GANTIPRESIDEN saat ini seakan menjadi…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:06
Kolom Minggu

Putih-Hitam Saudara Tua

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  BULAN ini menjadi penting dalam sejarah olahraga…

Jumat, 24 Agustus 2018 00:40

Kebaikan Bertemu Kebaikan untuk Semoga

Oleh: Dahlan Iskan Saya tidak mengerti isi khotbah tahun ini. Pakai bahasa Urdu. Separo yang di…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:23
Kolom Minggu

Penuh Drama Bakal RI-2

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  KOMPETISI Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dipastikan bakal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .