MANAGED BY:
KAMIS
27 JUNI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

METRO SAMARINDA

Minggu, 12 Agustus 2018 00:22
Modal Kepercayaan, Keuntungan Besar

Penjual Sapi Kurban Raup Puluhan Juta

SAPI: Salah seorang penjual sapi kurban sedang memperlihatkan sapi yang didatangkan dari luar daerah.(MUBIN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Menjelang Iduladha, para pedagang sapi kurban dari beragam pulau berbondong-bondong mengadu nasib di Kaltim. Dengan pengalaman bertahun-tahun, para pedagang bersaing mencari pembeli di Benua Etam. Pasalnya, lewat menjajakkan sapi menjelang Iduladha, pedagang dapat meraup keuntungan puluhan juta.

Elong (36), salah seorang pedagang hewan kurban di Samarinda Seberang, setiap tahun sengaja datang ke Kaltim untuk menjual sapi. Dia menantang kerasnya ombak dari Majene, Sulawasi Barat, demi menjual sapi di Kaltim.

“Saya sudah jualan sapi selama 20 tahun di sini. Sudah biasa, sebelum Iduladha, saya membawa puluhan sapi,” ungkapnya pada Metro Samarinda, Sabtu (11/8) kemarin.

Bermodal Rp 60 juta, Elong memboyong 33 ekor sapi dengan beragam ukuran. Sejak 15 hari lalu, sudah terjual 14 ekor sapi. Dia mematok harga yang beragam. Bergantung besar atau kecil ukuran sapi.

“Sapi yang paling kecil saya jual Rp 12 juta. Selain itu ada Rp 13 juta, Rp 16 juta, dan sapi yang paling besar saya jual Rp 20 juta,” bebernya.

Lima hari sebelum Idul Kurban, para pembeli kian membeludak. Kata Elong, kadang sapi yang dibawa dari Sulewesi Barat itu tak cukup memenuhi kebutuhan pembeli. Terlebih menjelang jemaah haji pulang dari Makkah.

“Dari sekarang saja sudah banyak yang pesan duluan. Takut habis. Apalagi lima hari sebelum lebaran, banyak yang datang ke sini,” ungkapnya.

Menjelang lebaran pula, harga sapi diperkirakan meningkat. Bergantung perubahan harga beli di tempat asal sapi. Juga biaya lain-lain seperti transportasi dan pemeliharaan yang mempengaruhi harga sapi.

“Sebab lain ya kan semakin banyak yang beli sapi. Sedangkan stok semakin berkurang. Biasanya memang gitu. Kalau sapi sedikit, sedangkan pembeli banyak yang cari, harga akan naik,” sebutnya.

Apabila sapi yang didatangkan sebelum lebaran habis lebih awal, dia akan kembali memesan dari Sulawesi Barat. Tahun ini, Elong memperkirakan akan menjual 50 ekor.

“Itu tergantung pesanan. Kalau dilihat dari sekarang, banyak yang sudah pesan. Jadi bisa lebih banyak yang saya jual,” sebut Elong.

Dia mengungkapkan, tahun lalu penjualan sapi kurban sempat merosot. Namun tahun ini, tingkat penjualan sapi kembali stabil. Bahkan diperkirakan meningkat. “Karena sekarang saja sudah banyak yang terjual,” tuturnya.

Sejatinya, kata Elong, menjadi penjual sapi membutuhkan modal besar. Terlebih puluhan sapi itu didatangkan dari luar daerah. Namun bermodal pengalaman selama puluhan tahun, dia mendapat kepercayaan dari para peternak.

“Kadang ada sapi yang saya bawa lebih dulu. Bermodal kepercayaan saja. Peternak itu sudah kenal dengan saya dan saya jaga kepercayaan dari mereka,” ucapnya.

Di Kaltim, Elong mengaku harus menyewa tanah Rp 7 juta. Selain itu dia juga harus mengeluarkan biaya untuk membeli obat-obatan sapi seperti obat cacing dan vitamin penguat tulang.

“Kalau enggak kasih obat, risikonya sapi bisa mati. Tetapi sampai sekarang belum ada satu pun sapi yang mati,” katanya.

Risiko kematian sapi memang menjadi masalah besar bagi para penjual hewan kurban tersebut. Atas bantuan Dinas Peternakan dari Sulawesi Barat, risiko tersebut bisa diminimalkan.

“Karena semua sapi ini sudah dikarantina dan diuji di sana. Kalau ada sapi yang terbukti sakit yang memungkinkan akan mati, biasanya enggak bisa dibawa ke sini,” jelasnya. (*/um)


BACA JUGA

Rabu, 09 September 2015 18:27

Menengok Pedagang Sapi Tahunan di Kutim

<p style="text-align: justify;"><strong>SANGATTA &ndash;</strong> Iduladha…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*