MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Rabu, 29 Agustus 2018 00:04
Airplane Mode ke Kecamatan Sembilan Warna
INDAH: Dahlan Iskan di pegunungan Qinghai pada ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut.(Dahlan Iskan)

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan

Gara-gara HP.  Saya lebih pilih kereta cepat daripada pesawat kalau lagi di Tiongkok. Di pesawat tidak boleh buka HP. Sepanjang penerbangan. Walau hanya untuk menulis sekali pun.

Berarti nganggur. Melamun. Jarang bisa tidur.

Pilihan lain membaca: Novel. Tapi tanggung. Untuk penerbangan satu atau dua jam.

Tapi kali ini beda. Saat saya lagi di Tiongkok ini. Sekarang ini.

Sekarang sudah berubah. Selalu naik pesawat. Ke tujuh kota.

Tidak ada lagi yang satu ini:  larangan buka HP. Tidak ada lagi perintah mematikan HP.

Pun saat mau take off. Maupun landing.

Yang ada hanyalah  pengumuman ini: HP harus disetting 'airplane mode'.

Fasilitas 'airplane mode' itu ada. Sudah lama. Di semua HP kita. Hanya saja dianggap tidak pernah ada. Seperti tidak ada guna.

Memang saat fasilitas itu 'on'

berarti tidak bisa menelepon. Tidak bisa bicara. Tapi tetap bisa menerima teks. Mengirim teks. SMS bisa. WeChart bisa. Email bisa. Ketika ketinggian belum menelan sinyal.

Saya senang sekali. Dengan perubahan peraturan ini.

''Sudah dua bulan boleh tetap buka HP di pesawat,'' ujar seorang pramugari dalam penerbangan dua jam dari Shenzhen ke Chengdu ini.

Berarti Tiongkok sudah mengikuti Amerika. Yang sejak lama membolehkan HP terbuka di penerbangan mereka.

Dengan HP saya suka membaca rubrik 'kapten menjawab'. Di salah satu surat kabar terkemuka di Amerika.

Banyak sekali pertanyaan di situ. Dari para penumpang pesawat. Yang dijawab oleh pengasuh rubrik itu: seorang pilot senior.

Salah satu pertanyaan adalah: mengapa pramugari mengumumkan HP harus dimatikan tapi tidak menegur penumpang yang tetap membuka HP.

Jawab sang kapten menarik:

Ada UU di Amerika. Bidang penerbangan. Tahun 1960-an. Yang melarang menghidupkan peralatan elektronik. Bisa mengganggu sistem komunikasi pesawat. Tapi itu dulu. Peralatan elektronik sekarang sudah beda. Sudah tidak mengganggu lagi.

Peralatan di pesawat sekarang juga sudah beda. Tidak bisa terganggu. Bahwa tetap diumumkan larangan itu sekedar untuk memenuhi UU. Tapi kementerian perhubungan sudah mengumumkan: mereka akan tutup mata. Demikian juga otoritas penerbangan. Sambil menunggu UU-nya diubah.

Begitulah. UU harus dilaksanakan. Tapi boleh juga tutup mata.

Maka tulisan ini pun bisa saya buat. Dalam penerbangan dari Chengdu. Ke kecamatan Jiuzhaigou. Di dalam provinsi Sichuan.

Kecamatan ini terkenal di dunia. Dengan ketinggiannya. Dengan telaga sembilan warnanya. Dengan suku-suku minoritasnya. Dengan kedahsyatan gempa buminya.

Jiuzhaigou di atas 4.000 meter. Yang sangat kurang oxygennya.

Telaganya 9 warna. Bergantung warna langitnya. Atau warna dedaunan di sekitarnya. Sesuai dengan musimnya.

Suku-suku minoritasnya unik-unik budayanya. Termasuk wanita boleh punya suami berapa saja. Asal... Ada asalnya.

Gempa buminya begitu dahsyatnya. Sepuluh tahun lalu. Yang diikuti gunung longsor. Di musim-musim hujan berikutnya. Pun sampai musim hujan tahun lalu. Yang membuat kawasan wisata ini ditutup sampai sekarang.

Jiuzhaigou. Keindahan dunia. Di ketinggian surga. Yang kini lagi menderita. Akibat gempa. Jiuzhaigou.

Saya datang ke sana. Dengan pesawat tengah malam. Yang terbang tidak lagi tiap hari. Turisme lagi sepi.

Saya datang ke bagian yang tidak ditutup. Di kecamatan itu. Yang jalan-jalannya tidak putus. Yang telaga-telaganya juga berbeda-beda warna. Yang air terjunnya tidak kalah indahnya.

Nama kampung ini: Huang Long. Naga Kuning. Tempat wisata yang masih tersisa.

Yang hotel-hotelnya begitu sepinya. Yang toko-toko ditinggalkan pembelinya.

Yang bangunan-bangunan baru  tampak mangkraknya. Yang jalan-jalannya penuh luka.

Saya tidak boleh olahraga di hotel sepi ini. Tidak ada fasilitas gym-nya. Tidak cukup oksigennya. 

Jalan kaki pun tidak boleh tergesa. Agar tidak tersengal di dada. Begitu tipis oksigen di tempat tinggi seperti ini.

Janganlah. Apalagi berolahraga. Sedih. Saya tidak bisa berolahraga.

Untung saya cocok dengan makanannya. Yang di restoran suku asli Zang zu.

Maupun yang di restoran Muslimnya. (Lihat edisi besok).

Bisa sambil ngobrol tentang budaya mereka. Termasuk sistem perkawinannya. Di Huang Long ini.

Huang Long adalah “dataran tinggi” kedua yang pernah saya datangi di Tiongkok.

Tahun lalu saya ke Qinghai. Juga ke kecamatan yang tingginya di atas 4.000 meter. Lebih tinggi dari puncak gunung Semeru.  Melihat teknologi tinggi untuk kawasan terpencil begini. Yang entah mengapa. Mungkin cocok untuk Sumba. (dahlan iskan)


BACA JUGA

Jumat, 21 September 2018 00:25

Memetik Hikmah dari Cinderella Man

Yusva Alam Redaktur Bontang Post  Banyak pelajaran menarik bisa kita dapatkan dari lingkungan sekitar…

Minggu, 16 September 2018 00:02
Kolom Minggu

Proyek Lama “Bernyanyi” Kembali

  Catatan Lukman M, Redaktur Bontang Post  SETELAH sempat “sunyi”, proyek pipanisasi…

Minggu, 09 September 2018 00:13
Kolom Minggu

Definisi Makar “Zaman Now”

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  BEBERAPA waktu yang lalu jagad perpolitikan Indonesia…

Minggu, 02 September 2018 00:28
Kolom Minggu

Pencak Silat yang Mempersatukan Kita

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  ASIAN Games 2018 yang kali ini bertempat di Indonesia…

Rabu, 29 Agustus 2018 00:03

Fobia #2019GantiPresiden

Oleh Dhedy, Ketua Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT)  #2019GANTIPRESIDEN saat ini seakan menjadi…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:06
Kolom Minggu

Putih-Hitam Saudara Tua

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  BULAN ini menjadi penting dalam sejarah olahraga…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:23
Kolom Minggu

Penuh Drama Bakal RI-2

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  KOMPETISI Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dipastikan bakal…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:07

Ke Mana Perginya Sang Profesor

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  AKSI persekusi dan tindakan intoleran serta radikal masih…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:06

Polemik Kinibalu yang “Menampar”

Oleh: Ufqil Mubin, Wartawan Metro Samrinda  PENOLAKAN pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu sudah…

Minggu, 29 Juli 2018 00:05
Kolom Minggu

Politisi Sejati Bernama Rusmadi

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  GELARAN Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018 telah usai.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .