MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Kamis, 13 September 2018 18:38
Politik Dua Kaki DPRD
Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H.,LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman)

PROKAL.CO, Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H.,LL.M.

(Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya menyatakan sikap penolakan terhadap pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu. Sikap penolakan ini diputuskan oleh DPRD Kaltim, setelah sebelumnya didahului dengan pertemuan pihak terkait. Terutama warga Kinibalu dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang selama ini getol menolak pembangunan masjid di lapangan bersejarah tersebut.

Banyak kalangan yang meragukan sikap DPRD Kaltim ini. Mengingat sikap awal DPRD yang juga turut merestui proyek pembangunan masjid ini. Bahkan tidak sedikit yang menyebut DPRD Kaltim sedang memainkan “politik dua kaki”. Satu kaki menerima dan merestui proyek ini. Sementara satu kaki lainnya justru menolaknya.

Apakah DPRD Kaltim sedang disandera oleh euforia Pemilu 2019 yang mengharuskannya bersikap “baik” di hadapan publik? Kenapa baru sekarang menunjukkan sikap penolakan setelah sebelumnya justru bulat menerima pembangunan masjid? Apa hal ihwal yang mendasari perubahan sikap DPRD Kaltim ini? Apakah perubahan sikap ini berdampak positif bagi publik, atau justru sebaliknya?

Argumentasi Teknis

Dari pemberitaan beberapa media, diketahui bahwa perubahan sikap DPRD Kaltim yang pada akhirnya menolak pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu didasari beragam alasan. Salah satu alasan kuat yang dijadikan dasar penolakan adalah proses pembangunan masjid yang dilakukan tanpa disertai Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Belakangan diketahui bahwa plang yang terpasang di depan proyek pembangunan masjid hanya berupa nomor registrasi IMB. Tentu ini lebih tepat disebut argumenasi teknis, daripada argumentasi yang bersifat substansial. Artinya, argumentasi teknis ini hanya menyentuh permukaan masalah, tanpa mampu menjangkau akarnya.

Lantas apa yang harus dilakukan DPRD Kaltim untuk menyentuh akar persoalan pembangunan masjid ini? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mencoba kembali memotret aturan teknis yang dijadikan dasar oleh DPRD Kaltim menolak pembangunan masjid ini.

Dalam Peraturan Bersama Antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat, menetapkan syarat tertentu terhadap pendirian rumah ibadat.

Secara garis besar, peraturan bersama ini menjelaskan bahwa, “Pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung” sebagaimana diatur dalam kententuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun selain persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung tersebut, peraturan bersama ini juga mengatur mengenai “syarat khusus” yang harus dipenuhi untuk pendirian rumah ibadat.

Dalam Pasal 14 ayat (2) peraturan bersama tersebut menyebutkan, “Selain memenuhi persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung, pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan khusus meliputi: Pertama, daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah. Kedua, dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh Lurah/Kepala Desa. Ketiga, rekomendasi tertulis Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota, dan Keempat, rekomendasi tertulis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten/Kota”.

Artinya, sebelum persyaratan khusus tersebut terpenuhi terlebih dahulu, maka proses pemberian izin terhadap pendirian masjid di Lapangan Kinibalu seharusnya tidak akan pernah diberikan. Dari keempat persyaratan khusus ini, diketahui bahwa hingga kini, rekomendasi tertulis dari FKUB Kota Samarinda tidak pernah diberikan untuk pendirian masjid tersebut.

Anehnya, proyek pembangunan masjid tetap berjalan tanpa izin mendirikan bangunan (IMB). Padahal secara hukum, dalam perspektif teori administrasi negara, adalah hal yang sama sekali tidak diperbolehkan membangun sesuatu, sebelum dikeluarkannya izin dari pihak yang berwenang terlebihi dahulu. Jikalaupun pemerintah tetap memaksakan untuk menerbitkan IMB, maka sudah dapat dipastikan bahwa IMB tersebut cacat secara formil.

FKUB sendiri jangan dipahami sekedar sebagai lembaga pemberi cap stempel. FKUB adalah forum bersama yang bersifat dinamis menampung aspirasi warga masyarakat. Dalam peraturan bersama tersebut, setidaknya terdapat 5 (lima) tugas pokok dari FKUB kabupaten/kota. Antara lain melakukan dialog, menampung aspirasi, menyalurkan aspirasi, sosialisasi peraturan, dan memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah ibadat.

Politik Dua Kaki

Berdasarkan argumentasi teknis yang diuraikan sebelumnya, maka sesungguhnya pilihan bagi DPRD Kaltim untuk menolak pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu, sesungguhnya memiliki dasar yang cukup kuat dan logis secara hukum.

Namun yang harus ditegaskan bahwa memandang polemik pembangunan masjid tersebut tidak bisa hanya dilihat dengan kacamata teknis semata. Pada satu sisi, sikap penolakan DPRD Kaltim tersebut pertanda berjalannya “fungsi pengawasan” DPRD sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemda jo. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Tatib DPRD. Pengawasan ini terutama erat kaitannya dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini, terkait dengan proyek pembangunan mesjid di Lapangan Kinibalu yang tidak disertai dengan IMB.

Tetapi di sisi lain, DPRD Kaltim juga perlu dikritik. Sebab penolakan ini hanya berada di level teknis berupa pembangunan mesjid tanpa IMB. Bukan pada level substansi kebijakan. Pertanyaannya kira-kira begini, kalau persyaratan IMB sudah dipenuhi, apakah pembangunan mesjid di Lapangan Kinibalu ini akan kembali direstui oleh DPRD Kaltim? Ini yang mesti dijawab oleh wakil rakyat, sekaligus untuk menepis isu politik dua kaki yang dituduhkan sejumlah pihak.

Sikap penolakan DPRD Kaltim sebaiknya tidak hanya berkutat pada alasan teknis. Tetapi lebih dari itu, penolakan ini juga harus karena alasan substansial, yakni menolak pembangunan mesjid di Kinibalu ini “tanpa syarat”. Alasan pokoknya tentu saja karena pertimbangan historis, sosiologis dan kultural.

Jadi bagi saya, tidak cukup hanya sekedar rekomendasi tertulis ke Pemkot Samarinda yang ditembuskan kepada gubernur. Namun sikap penolakan DPRD Kaltim semestinya juga dibawa ke forum resmi. Misalnya dengan menggunakan hak interpelasi DPRD kepada gubernur terkait kebijakan pembangunan mesjid tersebut. Hal ini sekaligus sebagai koreksi kepada DPRD Kaltim yang sebelumnya juga menyetujui proyek mesjid di Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda itu.

Sebab mengirim surat penolakan itu tidak akan berpengaruh signifikan selain dampaknya secara politis. Seribu surat sekalipun jika gubernur kekeh, tidak akan berpengaruh apa-apa. Jadi lebih baik gunakan fungsi pengawasan melalui hak interpelasi tesebut. Dengan cara seperti ini, maka DPRD bisa menekan dan memaksa gubernur agar seratus persen benar-benar menghentikan proyek ini.

Sedari awal, beberapa pihak menyayangkan sikap DPRD yang terkesan abai dengan banyaknya protes warga terhadap rencana pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu. Walhasil, sikap penolakan yang datang belakangan dicap terlambat dan sekedar cari momentum untuk Pemilu 2019. Ini konsekuensi logis yang harus diterima oleh DPRD Kaltim secara kelembagaan. Tudingan DPRD Kaltim sedang menjalankan politik dua kaki juga mesti diterima secara legawa.

Jauh lebih baik DPRD Kaltim menerima kritik itu secara terbuka dan dewasa dibanding memberikan reaksi balik yang tidak produktif. Kritik publik kepada DPRD Kaltim harus dimaknai sebagai self critic bagi bagi lembaganya sendiri. Memang sikap ini cenderung terlambat, dan itu yang sangat disayangkan. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sekarang tinggal bagaimana DPRD Kaltim membuktikan keseriusan sikap penolakan ini secara konsisten, demi menjaga ekspektasi publik. (*)


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 19:38

HAMIL DULUAN, NIKAH KEMUDIAN? OOH NO!

Oleh : Muthi' Masfu'ah / Yattini *) Owner Rumah Kreatif Salsabila, Koordinator Literasi DPW Kaltim dan…

Senin, 17 September 2018 19:33

Nasib Caleg Eks Koruptor Pasca Putusan MA

Oleh: Herdiansyah Hamzah, S.H., LL.M. (Dosen Fakultas Hukum Unmul Samarinda) Sejak awal penyusunan,…

Sabtu, 15 September 2018 00:20

ETIKA MASYARAKAT MAJEMUK

Sektiono Ketua Forum Pembauran Kebangsaan ( FPK ) – KOTA BONTANG  Kita menyadari bahwa dunia…

Kamis, 06 September 2018 23:50

Medali Emas untuk Indonesia, Tambang Emas untuk Asing

Oleh: Dian Eliasari, S.KM  Usai sudah perhelatan akbar Asian Games 2018, meskipun ada duka dibalik…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:05

Kemerdekaan Yang Tergadai

Oleh: Yusi Wulandari Ibu Rumah Tangga Agustus, bulan sakral bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut,…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:23

Jerat Narkoba di Kota Taman

Oleh: Dian Eliasari, S.KM Pendidik. Ibnu Taimiyah ra. berkata, "Narkoba sama halnya dengan zat yang…

Minggu, 22 Juli 2018 00:20

Aplikasi Tik Tok, Potret Generasi Alay yang Abai

Oleh Nurul Inayah, SEI (Tenaga Kontrak Kementerian Agama Kota Bontang)  Para pegiat dunia maya…

Senin, 25 Juni 2018 00:05

Dinamika Pemilihan Kepala Daerah di Kaltim

Oleh: Rajja “Kekacauan, kecurangan, kurang pengawasan, keterpurukan, karut-marut, dan lain-lain…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .