MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

METRO SAMARINDA

Kamis, 20 September 2018 00:38
Raperda Ketenagakerjaan Bakal Digodok

Solusi Penyelesaian Masalah PHK Tanpa Prosedur

Rusman Yaqub(MUBIN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Tahun 2019, DPRD Kaltim berencana akan memasukkan dan mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Ketenagakerjaan dalam program legislasi daerah (prolegda). Digodoknya aturan tersebut sebagai tindak lanjut atas maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) tanpa disertai mekanisme yang berlaku.

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Rusman Yaqub menyatakan, kekosongan hukum tentang ketenagakerjaan telah banyak menimbulkan efek negatif bagi buruh di Kaltim. Sejatinya, 2018 ini pihaknya ingin mengusulkan raperda tersebut. Namun masih banyak raperda yang diusulkan belum dibahas dan disahkan di DPRD Kaltim.

“Memang perlu ada payung hukum yang lebih kuat untuk melindungi buruh. Kami sedang membangun input-input baru untuk menghasilkan aturan ini. Mudah-mudahan masuk di 2019. Karena 2018 ini sudah agak sulit mengejarnya. Masih banyak raperda yang belum disahkan,” katanya, Rabu (19/9) kemarin.

Selain PHK tanpa prosedur, lanjut Rusman, hal yang tidak kalah penting yakni pemerintah daerah belum memiliki kewenangan yang kuat untuk memberikan sanksi pada perusahaan yang dinilai melanggar aturan ketenagakerjaan.

“Pemerintah tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan penyelesaian perselisihan itu. Padahal lembaganya sudah ada. Ada PHI (Pengadilan Hubungan Industri, Red.) untuk penyelesaian kasus PHK itu,” katanya.

Sudah berulang kali dirinya menerima pengaduan mengenai PHK. Pada dasarnya, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim memiliki kewenangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun acap kali tidak diindahkan oleh pengusaha.

“Itu menunjukkan bahwa wibawa pemerintah sangat lemah. Karena dengan santainya perusahaan mengabaikan rekomendasi pemerintah. Apalagi dengan karyawan sifatnya kontrak. Itu sangat tidak dilindungi perusahaan,” sebutnya.

Ketua Fraksi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kaltim itu menekankan, setelah raperda disahkan, diperlukan sumber daya aparatur yang berani menegakkan aturan untuk menindak perusahaan yang tidak taat hukum.

“Biar ada aturan, kalau yang mengoperasionalkan itu tidak cukup kuat mentalnya untuk menerapkan aturan itu, susah juga nanti,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Serikat Buruh Borneo Indonesia (SBBI) Kaltim, Nason Nadeak mengungkapkan, kasus PHK terjadi secara masif di Samarinda dan Kutai Kartanegara (Kukar). Pada kurun waktu 2015 dan 2016, pihaknya menemukan 806 kasus.

Data tersebut ditemukan setelah Nason melakukan penelitian untuk kepentingan penyusunan karya ilmiah. Diperkirakan, kasus yang sama masih terus berlanjut pada 2017 dan 2018.

“Selama belum ada pemberian sanksi kepada perusahaan, kasus PHK tanpa prosedur itu masih akan terus berlanjut. Justru itulah yang harus dievaluasi oleh Disnakertrans,” imbuhnya, Selasa (18/9) lalu.

Nason menilai, di masa yang akan datang, apabila Disnakertrans Kaltim tidak mengevaluasi PHK yang cacat aturan tersebut, kasus yang sama akan terus merugikan para pekerja yang bekerja di perusahaan yang beroperasi di Kaltim.

“Ini yang harus segera dievaluasi. Karena tidak ada sanksi yang diberikan pada perusahaan yang melakukan PHK tanpa penetapan dari PHI. Walaupun belum ada sanksi, harus ada tindakan preventif dari Disnakertrans,” saran Nason.

Kemudian, SBBI Kaltim juga meminta DPRD Kaltim untuk menyusun perda yang mengatur mekanisme PHK. Salah satu poin yang harus ditekankan dalam perda tersebut yakni pemberian sanksi pada perusahaan yang melakukan PHK tanpa prosedur penetapan PHI.

“Karena sekarang ini ada kekosongan hukum di Kaltim. Daripada terus memakan korban di perusahaan, DPRD harus membuat perda. Karena undang-undang mengenai PHK ini sudah ada. Tinggal aturan di bawahnya saja yang belum dibuat,” terangnya. (*/um)


BACA JUGA

Senin, 15 Oktober 2018 18:58
Vaksin MR

Banyak Warga Enggan Divaksin?

SAMARINDA – Program imunisasi measles rubella (MR) yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 18:57

Disetubuhi Kakar Ipar hingga Lahirkan Anak Kembar

SAMARINDA – Kisah kehamilan di luar nikah sudah berulang kali muncul di ruang publik. Ada yang…

Senin, 15 Oktober 2018 18:56
Gempa Palu

Trauma Balik Kampung, Berharap Diberikan Ruang Bekerja di Samarinda

Tak ingin menetap di kawasan gempa dan tsunami, puluhan warga Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi tengah…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:51

Belum Cair, Dewan Tanpa Anggaran

SAMARINDA – Sejumlah anggota DPRD Kaltim mengeluhkan belum cairnya anggaran untuk kegiatan kedewanan.…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:51
Pileg 2019

Terkait Kasus yang Menimpa Alphad Syarif, KPU Diminta Tak Gegabah

SAMARINDA – Kasus yang menimpa Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif bakal berbuntut panjang. Pasalnya,…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:50

Ini Alasan DKK Tak Sarankan Fogging

SAMARINDA – Selain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit yang kerap menghantui Kota…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:49

Harga Komoditas Terpantau Stabil

SAMARINDA – Pada 10 Oktober lalu, pemerintah pusat melalui PT Pertamina telah menaikkan harga…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:47

Serapan Belanja Langsung Belum Maksimal

SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda patut waswas. Meski secara keseluruhan serapan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:17

Pekan Depan, Jokowi ke Samarinda

  SAMARINDA – Rencana kedatangan Presiden Joko Widodo ke Samarinda sepertinya bukan sebatas…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:16

Ramaon Pilih “Irit” Bicara

SAMARINDA – Seolah tak ada habisnya, Ketua DPRD Samarinda Alphad Syarif terus mengejutkan publik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .