MANAGED BY:
SELASA
11 DESEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Jumat, 28 September 2018 00:42
Sepak Bola Layaknya Malaikat Pencabut Nyawa
EDITORIAL Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post

PROKAL.CO, EDITORIAL

Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post 

Meninggalnya seorang suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla akibat dikeroyok oknum pendukung Persib Bandung jelang pertandingan antara Persib Bandung versus Persija Jakarta beberapa waktu lalu, menyisakan perih yang mendalam. Ini bukan pertama kalinya, justru sudah berulang kali, bahkan puluhan kalinya kasus hilangnya nyawa kembali terulang. Semakin mengungkap betapa bobroknya sistem persepakbolaan di tanah air.

Rivalitas antara Persija versus Persib memang sudah berlangsung lama. Bisa dikatakan sudah mengurat mengakar di antara kedua kubu pendukung. Kerap kali menyisakan korban dari kedua belah pihak. Tak hanya harta benda ataupun fasilitas umum yang sering dirusak pendukung, nyawa melayang pun menjadi suatu yang lumrah.

Kondisi yang sama kerap terjadi pada klub-klub yang lain. Tak hanya pendukung, pemain di lapangan maupun perangkat pertandingan pun sering menjadi korban. Meninggalnya pemain, pengeroyokan wasit oleh pemain, sampai baku hantam antar kedua tim atau kedua official tim.

Berdasarkan data Save Our Soccer (SOS), Haringga Sirla menjadi korban tewas ke-76 akibat kekerasan di ranah sepak bola sejak 1994. (bola.kompas.com). Terbanyak korban pengeroyokan mencapai 22 kasus, dilanjutkan 17 kasus jatuh dari kendaraan, 14 tusukan benda tajam, 11 pukulan benda keras, 6 terinjak, 2 gas air mata, 2 jatuh dari tribun, 1 penembakan, 1 petasan.

Dari sekian banyak klub, Persebaya paling mendominasi dengan 17 korban jiwa. Ditambah lagi, sebanyak 22 kasus terjadi di era Edy Rahmayadi yang menjabat Ketum PSSI pada 10 November 2016.

Dalam program Kabar Petang di Kompas TV, Aiman, sang presenter  menanyakan apa solusi dari permasalahan yang terus berlarut ini kepada Ketum PSSI Edy Rahmayadi. Edy pun hanya sanggup memberikan solusi yang sama dan berulang dari dulu. Panggil pihak terkait, lantas dievaluasi. Tapi terbukti belum bisa memberikan solusi.

Kasus demi kasus meninggalnya pendukung sepak bola, seharusnya membuka mata pemerintah negeri ini. Mau sampai kapan hal ini terus terjadi. Solusi demi solusi yang dibuat pun tak pernah membuahkan hasil.

Secara pribadi saya berpendapat, sudah seharusnya dihentikan saja kompetisi persepakbolaan di negeri ini. Saya suka sepak bola, bahkan sudah hobi sedari kecil. Baik bermain ataupun menonton pertandingan. Tapi kalau melihat kasus-kasus yang terjadi, miris sekali hati ini. Hanya demi hiburan, korban nyawa harus menjadi tumbal. Bayangkan, 76 korban tewas itu bukan jumlah yang sedikit. Sepak bola layaknya malaikat pencabut nyawa.

Dalam pandangan Islam, menonton pertandingan bola ataupun bermain bola adalah suatu hal yang mubah saja. Asalkan tidak melanggar syariat Islam. Seperti arena penonton yang bercampur baur antar pria dan wanita. Lalu pemain bola yang seharusnya menutup aurat, dan lain sebagainya.

Namun mubah pun harus dilihat, jika tak bermanfaat lebih baik ditinggalkan.

Cukup jadikan sepakbola sebagai olahraga murni saja. Untuk menjaga kesehatan maupun kebugaran. Tidak perlu dibuat pertandingan ataupun kompetisi. Karena tidak membawa manfaat. Malah membawa mudarat. Menghabiskan dana besar, banyak korban melayang, kerusakan fasilitas umum, bahkan desas desus yang bukan lagi rahasia umum, sepak bola menjadi arena pertaruhan para pejudi. Pertandingan dapat diatur sesuai keinginan para petaruh itu.

Berita terbaru menyebutkan, PSSI akhirnya memutuskan untuk menghentikan Liga 1. Sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan dan belasungkawa terhadap almarhum Haringga Sirla. Juga dilakukan PSSI untuk berkoordinasi dengan semua pihak terkait guna mencari solusi. Sebelumnya Menpora Imam Nahrawi juga menyerukan hal yang sama untuk menghentikan Liga 1 terkait insiden ini. (bola.kompas.com)

Mengapa hanya penghentian sementara? lebih baiknya dihentikan saja selamanya. Mau sampai kapan korban nyawa ini terus berjatuhan? Lebih baik dana besar itu dialihkan kepada hal lain yang lebih bermanfaat. Yang justru bisa untuk mensejahterakan rakyat yang saat ini tengah terpuruk. Akibat carut marutnya politik dan ekonomi negeri ini. (*)


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 00:15

Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kira hanya saya. Ternyata orang-orang…

Minggu, 21 Oktober 2018 00:20

Jangan Sampai Meleng

Oleh: Lukman M, Redaktur Bontang Post  JAGAD media sosial dibuat…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:53
KOLOM MINGGU

Jaga Bontang Terus Berkembang

Lukman M, Redaktur Bontang Post  JUMAT (12/10) lalu merupakan hari…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:01
Gempa Palu

Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga

Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami…

Minggu, 07 Oktober 2018 00:02

Keadilan untuk Penyebar Hoaks

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  HOAKS alias kabar bohong…

Kamis, 04 Oktober 2018 00:31

Palu Ketika Tanpa Koran

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kepikiran teman-teman saya di Radar…

Minggu, 30 September 2018 00:05

Teguran dari Cincin Api

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  BENCANA kembali menerpa negeri…

Jumat, 28 September 2018 00:42

Sepak Bola Layaknya Malaikat Pencabut Nyawa

EDITORIAL Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post  Meninggalnya seorang suporter…

Selasa, 25 September 2018 00:26

Menanti Media Sosial yang Damai

Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post  PER 23…

Selasa, 25 September 2018 00:16

Herwan Legawa Tinggalkan Karang Paci

SAMARINDA – Silang sengkarut penggantian antar waktu (PAW) antara dua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .