MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Minggu, 07 Oktober 2018 00:02
Keadilan untuk Penyebar Hoaks
Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post

PROKAL.CO, Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post 

HOAKS alias kabar bohong semakin merajalela. Dalam sebulan ini saja, sudah ada beberapa hoaks “skala nasional” yang penyebarannya begitu meresahkan dan menjadi perhatian publik. Mulai dari hoaks demonstrasi mahasiswa, hoaks kalimat tauhid dalam pengeroyokan suporter bola, hingga sederetan hoaks yang mengelilingi tragedi bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Seakan belum cukup diresahkan dengan rentetan hoaks tersebut, belakangan “booming” hoaks yang “berskala besar”, tentang pengeroyokan yang menimpa aktivis Ratna Sarumpaet. Dianggap berskala besar lantaran hoaks ini melibatkan sejumlah tokoh politik di kubu oposisi, sampai dengan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno. Langsung saja, berita hoaks Ratna Sarumpaet menjadi “bahan segar” yang “digoreng” media dan pihak petahana secara luas.

Tentu semakin maraknya penyebaran hoaks ini sangat disesalkan semua pihak. Apalagi kalau sampai kabar hoaks tersebut meresahkan masyarakat bahkan menimbulkan korban jiwa. Di satu sisi, beragam upaya untuk membendung penyebaran hoaks seakan tak bertaji. Karena faktanya, setiap hari hoaks-hoaks baru bermunculan yang dengan cepat tersebar layaknya sebuah virus. “Vektor” penyebaran hoaks ini juga semakin meluas, bukan lagi masyarakat awam, tapi juga tokoh-tokoh yang memiliki intelektual tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, upaya represif seakan masih jadi satu-satunya upaya nyata dalam mengakhiri hoaks. Yaitu dengan tindakan penangkapan yang dilakukan aparat berwenang, dalam hal ini kepolisian terhadap pihak-pihak yang dianggap membuat dan menyebarkan hoaks. Dan sebagaimana kehebatan aparat kita, banyak kasus hoaks yang dengan cepat ditangani, dengan para pelaku penyebar atau pembuat hoaks ini ditangkap dan dijerat hukum.

Namun sayang seribu sayang, penegakkan terhadap penyebaran hoaks ini dalam pandangan publik masih dianggap jauh dari kesetaraan perlakuan. Maksudnya adalah, penanganan maksimal yang dilakukan masih terlihat tebang pilih atau pilih kasih. Ibarat tajam ke bawah, tumpul ke atas, kebanyakan para pelaku pembuat dan penyebar hoaks yang ditangkap berasal dari kalangan masyarakat awam yang tak populer, rakyat jelata, atau warga biasa yang sekadar emosional.

Niatnya sih mungkin baik, ingin memperingatkan banyak orang tentang suatu informasi yang dianggap penting dan urgen. Namun apa daya kurangnya pemahaman akan kondisi kekinian membuat orang-orang baik ini malah jadi korban oknum tidak bertanggung jawab pembuat hoaks. Tapi hukum tetaplah hukum. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menjadi salah satu hukum positif di Indonesia terkait hoaks, tentu tak pandang bulu. Seharusnya sih begitu.

Akan tetapi, dari pengamatan masyarakat awam, pengusutan akan perilaku pembuatan dan penyebaran hoaks ini seakan masih berat sebelah. Hal ini bisa dilihat dari penanganan yang dilakukan aparat berwenang dalam beberapa kasus terakhir. Dalam salah satu kasus, polisi bisa begitu reaktif dan sigap melakukan penangkapan. Namun dalah suatu kasus, penanganan yang dilakukan nyaris tanpa suara, sehingga progresnya terlihat samar.

Ambil contoh kasus penyebaran hoaks yang dilakukan oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) terkait demonstrasi di gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam kasus ini, polisi begitu cepat menangkap oknum bersangkutan dan langsung menjerat dengan hukum yang berlaku. Berita penangkapan itu pun segera tersiar luas, apalagi membawa-bawa nama salah satu ormas yang keberadaannya terbilang kontroversial tersebut.

Senada dengan kasus hoaks “terbaik” dari Ratna Sarumpaet. Dalam hitungan menit, ibu dari artis Atiqah Hasiholan itu ditangkap aparat kepolisian. Terbilang begitu cepat dan memang sudah seharusnya seperti itu gerak dari aparat kita. Tentu upaya ini patut diacungi jempol agar menjadi contoh bagi pihak-pihak lainnya untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di media sosial yang sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat milenial.

Sayangnya, kecepatan gerak aparat itu berbanding terbalik pada beberapa penyebar hoaks “tertentu”. Khususnya mereka yang selama ini dikenal sebagai pendukung kubu pejabat petahana. Contohnya kasus penyebaran hoaks yang dilakukan “pegiat media sosial” Denny Siregar. Hingga sekarang, pria yang juga dijuluki “Desi” ini tak kunjung dipanggil aparat. Setidaknya kesimpulan itulah yang didapatkan bila berselancar mencari beritanya di internet.

Padahal, kepolisian sudah menegaskan bahwa tidak ada kalimat tauhid dalam pengeroyokan yang menewaskan seorang suporter Persija. Menariknya, meski hoaks Desi sudah dibuktikan oleh polisi, si penyebar hoaks itu sama sekali tidak merasa bersalah. Malahan, menganggap remeh pelaporan yang ditujukan kepadanya dengan menyebut “paling mentah”, sebagaimana dilansir dari JawaPos.com.

Lucunya, si penyebar hoaks ini malah santai-santai saja dan dengan entengnya mengomentari hoaks dari Ratna Sarumpaet. Ini kalau diistilahkan, ibarat “maling ngomongin maling”. Padahal hoaks yang disebarkan si Desi ini cukup fatal dan sangat merasahkan masyarakat. Bahkan bisa juga disebut ujaran kebencian berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Lantaran dianggap melecehkan agama dengan kalimat narasi yang ditulisnya.

Alhasil, sikap kepolisian ini disayangkan banyak pihak, salah satunya politisi Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid. Pria yang pernah menjabat ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI itu menyayangkan sikap polisi yang sigap saat memeriksa tokoh PAN Amien Rais dalam kasus hoaks Ratna Sarumpaet, namun di satu sisi lambat memeriksa Denny Siregar.

“Indonesia sebagai negara hukum harusnya tegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Tidak tebang pilih. (Apalagi) terseret agenda politik & tidak KKN,” demikian cuitannya melalui akun jejaring sosial Twitter.

Bukan kali ini saja hoaks dari kubu pendukung petahana dibiarkan begitu saja. Sebelum-sebelumnya, hal serupa juga kerap terjadi. Ambil contoh hoaks yang disebarkan halaman KataKita di facebook. Ada begitu banyak hoaks yang disebar di grup ini, mulai dari hoaks “membangun” tentang pembangunan tol, hingga hoaks ucapan Habibie serta Jusuf Kalla.

Tapi toh halaman kontroversial yang memecah belah bangsa itu tetap aman-aman saja dan masih bisa diakses. Bahkan pengikut halaman ini semakin banyak saja dari waktu ke waktu. Yang artinya, bakal semakin banyak juga orang di Indonesia yang terpapar hoaks, lantas ikut menyebarkan fitnah-fitnah keji semakin luas. Bila demikian, maka mimpi untuk melenyapkan hoaks tentu bakal jauh panggang dari api.

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepolisian untuk menjadi adil dalam setiap upaya penegakan hukum di negeri ini. Karena ketidakadilan seperti ini, mencederai legalitas hukum sekaligus kinerja kepolisian yang sejatinya saat bergerak menuju lebih baik. Anggapan “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas” akan terus dibenarkan bila penegakan hukum seperti ini terus terjadi. Para penyebar hoaks yang telah ditangkap dan dihakimi pun akan merasa diperlakukan tidak adil, hanya karena mereka rakyat kecil.

Hal ini seharusnya tak boleh dibiarkan begitu saja. Aparat pemerintah harus bersikap adil dan profesional. Karena pengalaman yang sudah-sudah, bila masyarakat merasa tak puas dengan proses penegakan keadilan yang dilakukan, potensi-potensi gerakan kolektif yang mengganggu kondusifitas negara bisa saja terjadi. Bila gerakan masyarakat seperti ini benar terjadi, tentu negara ini akan sangat rugi.

Ambil contoh kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja alias Ahok yang dituding menistakan agama. Kasus Ahok ini sebenarnya sama dengan kasus-kasus penistaan agama yang ada sebelum-sebelumnya. Namun entah kenapa, aparat berwenang dianggap lambat dalam menanganinya. Baru setelah dilakukan demo berjilid-jilid, polisi bergerak cepat untuk menyelesaikannya.

Hal seperti ini tentu bisa menimbulkan pertanyaan, apakah mesti ada gerakan di masyarakat demi menuntaskan sebuah kasus yang sebenarnya sepele bagi aparat berwenang kita yang sudah sangat profesional? Semoga saja jawabannya tidak. Semoga saja itu hoaks. Karena keyakinan saya dan masyarakat Indonesia lainnya, aparat kita, pemerintah kita, akan terus dan selalu bekerja demi mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana sila kelima dasar negara kita. (*)


BACA JUGA

Selasa, 09 Oktober 2018 00:01
Gempa Palu

Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga

Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng)…

Kamis, 04 Oktober 2018 00:31

Palu Ketika Tanpa Koran

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kepikiran teman-teman saya di Radar Sulteng. Harian yang saya dirikan…

Selasa, 25 September 2018 00:16

Herwan Legawa Tinggalkan Karang Paci

SAMARINDA – Silang sengkarut penggantian antar waktu (PAW) antara dua kubu yang sempat berseteru…

Rabu, 19 September 2018 00:38

Houston

Oleh: Dahlan Iskan Namanya masjid Istiqlal. Lokasinya di kota Houston, Texas, Amerika. Saya salat maghrib…

Rabu, 29 Agustus 2018 00:04

Airplane Mode ke Kecamatan Sembilan Warna

Oleh: Dahlan Iskan Gara-gara HP.  Saya lebih pilih kereta cepat daripada pesawat kalau lagi di…

Minggu, 26 Agustus 2018 00:06
Kolom Minggu

Putih-Hitam Saudara Tua

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post  BULAN ini menjadi penting dalam sejarah olahraga…

Jumat, 24 Agustus 2018 00:40

Kebaikan Bertemu Kebaikan untuk Semoga

Oleh: Dahlan Iskan Saya tidak mengerti isi khotbah tahun ini. Pakai bahasa Urdu. Separo yang di…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:23
Kolom Minggu

Penuh Drama Bakal RI-2

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  KOMPETISI Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dipastikan bakal…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:07

Ke Mana Perginya Sang Profesor

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  AKSI persekusi dan tindakan intoleran serta radikal masih…

Minggu, 05 Agustus 2018 00:07

Menguji Kemauan Tidak Berkarat

Oleh: Dahlan Iskan   Tapi kambing-kambingnya ada. Tidak mengapa juragannya tidak ada: Ricky Elson…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .