MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Kamis, 11 Oktober 2018 00:07
Rusuh, Keluarga Lakukan Perlawanan

Eksekusi Lahan Pasar Rawa Indah Tertunda

BATAL DIEKSEKUSI: Sita eksekusi tiga rumah milih Hj Hatija dan Ipiah terpaksa tertunda karena pihak keluarga melakukan perlawanan.(MEGA ASRI/BONTANG POST)

PROKAL.CO, BONTANG – Pembacaan sita eksekusi yang dilakukan pihak Pengadilan Negeri (PN) Bontang terpaksa harus ditunda. Pasalnya, dari pihak penggugat yakni Hj Hatija binti Rombe dan Ipiah binti Rombe melakukan perlawanan hingga kericuhan terjadi. Para aparat keamanan pun berupaya untuk mengamankan situasi agar tetap kondusif.

Sebelum dilakukan pembacaan sita eksekusi, pihak keluarga dari Hatija telah melakukan perlawanan. Hatija merupakan istri dari H Siraju. Mereka menolak pembacaan eksekusi yang dilakukan Panitera PN Bontang Hadi Riyanto. Bahkan sempat terjadi kerusuhan, pihak keluarga melempari tim eksekusi untuk segera meninggalkan rumah yang mereka tinggali sejak tahun 1991.

Karena situasi tidak kondusif, rencana eksekusi batal dilakukan. Aparat lantas balik kanan untuk koordinasi lebih lanjut dengan tim di Samarinda.

Panitera PN Bontang Hadi Riyanto mengatakan pelaksanaan eksekusi dianggap tertunda karena masalah tersebut. Sehingga dan akan diagendakan ulang.

“Jadi eksekusi dianggap tertunda karena keadaan di lapangan jadi tidak memungkinan dilanjutkan pembacaan eksekusi. Jadi akan diagendakan ulang,” jelas Hadi saat ditemui di PN Bontang usai rapat bersama tim gabungan eksekusi, Rabu (10/10) kemarin.

Menurut dia, prosesnya perlu waktu karena akan dikoordinasikan ke Samarinda. “Kami tadi pembacaan sita eksekusi. Masih banyak tahapan berikutnya yakni pelelangan dari hasil apa yang disita. Untuk nilainya ada tim appraisal tersendiri yang menilainya,” jelas Hadi Riyanto.

Untuk diketahui, eksekusi rumah milik Hj Hatija dan Ipiah ini buntut permasalahan pembangunan gedung Pasar Rawa Indah. Di mana sebagian lahan pasar Rawa Indah diakui adalah milik mereka. Dan mereka menghalangi pembangunan  Pasar Rawa Indah hingga mangkrak bertahun-tahun.

Dari hasil gugatan di pengadilan MA, akhirnya keluar putusan yakni para penggugat rekonvensi (Hatija dan Ipiah) diwajibkan membayar ganti rugi sebesar Rp 4.798.272.350 kepada tergugat I rekonvensi (kontraktor PT Raka).

Dikarenakan tidak kunjung membayar, maka keluar putusan eksekusi 3 rumah milik Hatija dan Ipiah sebagai jaminan.

Saat tim gabungan eksekusi melakukan sita eksekusi, para penghuni rumah yang terdiri dari tiga Kepala Keluarga (KK) ini langsung melempari petugas dengan batu-batu kecil dan air. Yang akhirnya membuat orang-orang di sekitar berlarian mengamankan diri.

Tak hanya itu para penghuni rumah juga mendorong dan meneriaki tim gabungan sambil menyuarakan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kota Bontang yang dianggap telah membohongi mereka.

Terpisah, Pengacara Hukum keluarga H Hatija dan Ipiah, Abdul Rahman SH menyatakan, sebenarnya mempersilakan untuk pembacaan sita. Hanya saja yang dikhawatirkan pihak keluarga adalah setelah pembacaan maka mereka diharuskan mengosongkan rumah tersebut.

“Mereka takut jika dibacakan sita eksekusi, maka diminta langsung pengosongan rumah, karena awamnya. Nah kami dari sisi formalnya mengakui itu adalah tahapan. Baru penetapan sita eksekusi, belum pengosongan,” beber Rahman.

“Terjadi keributan tadi karena pemahamannya berbeda. Pahamnya masyarakat awam begitu ada sita eksekusi plus pengosongan, penggusuran, padahal tidak,” imbuhnya.

Sebagai kuasa hukum yang sekaligus keluarga klien, Rahman, menyatakan akan melakukan upaya hukum. “Kami akan melawan penetapan eksekusi dan kedua akan melakukan PK terhadap pokok perkara Pasar Rawa Indah,” tandas Rahman.

Kenapa selama ini tidak dilakukan upaya hukum? Menurut Rahman, karena selama ini kliennya melakukan dialog kekeluargaan. “Itu saya persilakan prinsipal untuk negosiasi, tapi kenyataan saya diberitahu akan diadakan sita eksekusi pada tanggal 10 ini, makanya saya hadir,” katanya.

Ditambahkan Rahman, dalam waktu dekat, pihaknya akan mempersiapkan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). (mga)


BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 20:42

Bukannya Sekolah, Malah Ngoteng, Ketangkap Polisi Diginikan Dah...

BONTANG – Kenakalan remaja seperti ngelem, ngoteng, serta ngaldo masih…

Minggu, 16 Desember 2018 20:40

Berbagi di Hari Juang Kartika

BONTANG - Hari Juang Kartika diperingati seluruh Korps TNI AD, termasuk…

Minggu, 16 Desember 2018 20:38

Parkiran Lang-Lang Bakal Ditarik Retribusi

BONTANG – Mulai Senin (17/12) pengunjung Stadion Bessai Berinta tak…

Minggu, 16 Desember 2018 20:35

Volume Sampah Meningkat

BONTANG – Volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir…

Minggu, 16 Desember 2018 20:32

Bonus Atlet Mengacu Aturan Pemprov

BONTANG – Atlet peraih medali perak dan perunggu mesti lebih…

Minggu, 16 Desember 2018 20:31

2.500 KTP- el Dibakar BONTANG

Sebanyak 2.500 KTP-el yang rusak dibakar di halaman Kantor Dinas…

Minggu, 16 Desember 2018 20:30

DPRD Usulkan Dibagikan Januari

BONUS peraih medali Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) masih dalam pembahasan.…

Sabtu, 15 Desember 2018 18:23

Impikan Beras Basah Serupa Maladewa

BONTANG – Pembenahan Pulau Beras Basah hampir rampung. Destinasi wisata…

Sabtu, 15 Desember 2018 18:22

Maskapai Kompak Naikkan Harga

BONTANG – Jelang libur Natal dan tahun baru, harga tiket…

Sabtu, 15 Desember 2018 18:22

KTP-el Rusak Bakal Dimusnahkan

BONTANG – InstruksiDirektorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .