MANAGED BY:
KAMIS
21 FEBRUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Kamis, 11 Oktober 2018 00:07
Rusuh, Keluarga Lakukan Perlawanan

Eksekusi Lahan Pasar Rawa Indah Tertunda

BATAL DIEKSEKUSI: Sita eksekusi tiga rumah milih Hj Hatija dan Ipiah terpaksa tertunda karena pihak keluarga melakukan perlawanan.(MEGA ASRI/BONTANG POST)

PROKAL.CO, BONTANG – Pembacaan sita eksekusi yang dilakukan pihak Pengadilan Negeri (PN) Bontang terpaksa harus ditunda. Pasalnya, dari pihak penggugat yakni Hj Hatija binti Rombe dan Ipiah binti Rombe melakukan perlawanan hingga kericuhan terjadi. Para aparat keamanan pun berupaya untuk mengamankan situasi agar tetap kondusif.

Sebelum dilakukan pembacaan sita eksekusi, pihak keluarga dari Hatija telah melakukan perlawanan. Hatija merupakan istri dari H Siraju. Mereka menolak pembacaan eksekusi yang dilakukan Panitera PN Bontang Hadi Riyanto. Bahkan sempat terjadi kerusuhan, pihak keluarga melempari tim eksekusi untuk segera meninggalkan rumah yang mereka tinggali sejak tahun 1991.

Karena situasi tidak kondusif, rencana eksekusi batal dilakukan. Aparat lantas balik kanan untuk koordinasi lebih lanjut dengan tim di Samarinda.

Panitera PN Bontang Hadi Riyanto mengatakan pelaksanaan eksekusi dianggap tertunda karena masalah tersebut. Sehingga dan akan diagendakan ulang.

“Jadi eksekusi dianggap tertunda karena keadaan di lapangan jadi tidak memungkinan dilanjutkan pembacaan eksekusi. Jadi akan diagendakan ulang,” jelas Hadi saat ditemui di PN Bontang usai rapat bersama tim gabungan eksekusi, Rabu (10/10) kemarin.

Menurut dia, prosesnya perlu waktu karena akan dikoordinasikan ke Samarinda. “Kami tadi pembacaan sita eksekusi. Masih banyak tahapan berikutnya yakni pelelangan dari hasil apa yang disita. Untuk nilainya ada tim appraisal tersendiri yang menilainya,” jelas Hadi Riyanto.

Untuk diketahui, eksekusi rumah milik Hj Hatija dan Ipiah ini buntut permasalahan pembangunan gedung Pasar Rawa Indah. Di mana sebagian lahan pasar Rawa Indah diakui adalah milik mereka. Dan mereka menghalangi pembangunan  Pasar Rawa Indah hingga mangkrak bertahun-tahun.

Dari hasil gugatan di pengadilan MA, akhirnya keluar putusan yakni para penggugat rekonvensi (Hatija dan Ipiah) diwajibkan membayar ganti rugi sebesar Rp 4.798.272.350 kepada tergugat I rekonvensi (kontraktor PT Raka).

Dikarenakan tidak kunjung membayar, maka keluar putusan eksekusi 3 rumah milik Hatija dan Ipiah sebagai jaminan.

Saat tim gabungan eksekusi melakukan sita eksekusi, para penghuni rumah yang terdiri dari tiga Kepala Keluarga (KK) ini langsung melempari petugas dengan batu-batu kecil dan air. Yang akhirnya membuat orang-orang di sekitar berlarian mengamankan diri.

Tak hanya itu para penghuni rumah juga mendorong dan meneriaki tim gabungan sambil menyuarakan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kota Bontang yang dianggap telah membohongi mereka.

Terpisah, Pengacara Hukum keluarga H Hatija dan Ipiah, Abdul Rahman SH menyatakan, sebenarnya mempersilakan untuk pembacaan sita. Hanya saja yang dikhawatirkan pihak keluarga adalah setelah pembacaan maka mereka diharuskan mengosongkan rumah tersebut.

“Mereka takut jika dibacakan sita eksekusi, maka diminta langsung pengosongan rumah, karena awamnya. Nah kami dari sisi formalnya mengakui itu adalah tahapan. Baru penetapan sita eksekusi, belum pengosongan,” beber Rahman.

“Terjadi keributan tadi karena pemahamannya berbeda. Pahamnya masyarakat awam begitu ada sita eksekusi plus pengosongan, penggusuran, padahal tidak,” imbuhnya.

Sebagai kuasa hukum yang sekaligus keluarga klien, Rahman, menyatakan akan melakukan upaya hukum. “Kami akan melawan penetapan eksekusi dan kedua akan melakukan PK terhadap pokok perkara Pasar Rawa Indah,” tandas Rahman.

Kenapa selama ini tidak dilakukan upaya hukum? Menurut Rahman, karena selama ini kliennya melakukan dialog kekeluargaan. “Itu saya persilakan prinsipal untuk negosiasi, tapi kenyataan saya diberitahu akan diadakan sita eksekusi pada tanggal 10 ini, makanya saya hadir,” katanya.

Ditambahkan Rahman, dalam waktu dekat, pihaknya akan mempersiapkan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). (mga)


BACA JUGA

Rabu, 20 Februari 2019 10:25

Terinspirasi AA Gym, Olahraga sembari Menjalankan Sunah

“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah,” (HR Bukhari, Muslim).…

Rabu, 20 Februari 2019 10:23

PARAH NI ORANG..!! Demi Narkoba, Nekat Bobol Rumah

BONTANG – Demi memenuhi candunya akan barang haram narkoba, FH…

Rabu, 20 Februari 2019 10:21

Aroma Amonia Bikin Warga Gelisah, Desak DLH Cek Ulang

Aroma amonia yang tersebar di beberapa titik di Bontang membuat…

Rabu, 20 Februari 2019 10:18

Bau Amonia Dikeluhkan Warga, Ini Kata DLH dan PKT

BONTANG – Aroma amonia yang dikeluhkan warga dinilai masih di…

Rabu, 20 Februari 2019 10:18

Ada Bandara APT Pranoto, Rute Penerbangan Perintis Batal

BONTANG – Upaya membuka akses udara dari Bontang menuju daerah…

Selasa, 19 Februari 2019 10:53

Gaji Telat, Karyawan Mogok

BONTANG–Akibat gaji pada Februari belum terbayar, 53 karyawan PT PAN…

Selasa, 19 Februari 2019 10:52

Diduga Menganiaya, Dua ASN Diperiksa

BONTANG–Dugaan kasus penganiayaan yang melibatkan dua ASN Pemkot Bontang masih…

Selasa, 19 Februari 2019 10:51

Mencuri Karena Terjerat Utang Arisan Online

BONTANG–RM terpaksa mengaku sebagai sales diler sepeda motor saat kepergok…

Selasa, 19 Februari 2019 10:50

Bonus Kategori Beregu Sudah Disetujui

BONTANG–Bonus menjadi hal yang dinanti atlet penyumbang medali Porprov VI…

Selasa, 19 Februari 2019 10:49

Harga Tiket Mencekik, Agen Tiket Merugi

Mahalnya harga tiket pesawat berimbas pada omzet agen tiket. Pendapatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*