MANAGED BY:
KAMIS
22 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Minggu, 21 Oktober 2018 00:20
Jangan Sampai Meleng
Oleh: Lukman M, Redaktur Bontang Post

PROKAL.CO, Oleh: Lukman M, Redaktur Bontang Post 

JAGAD media sosial dibuat gempar. Isu penculikan anak merajalela. Bukan hanya di Jakarta atau di Jawa yang menjadi denyut pemerintahan, melainkan kini telah sampai di bumi etam. Para orang tua pun dibuat khawatir karenanya.

Isu penculikan anak ini memang patut dikhawatirkan. Lantaran dalam melakukan aksinya, para penculik anak ini semakin “kreatif” saja melakukan modusnya. Bahkan kalau bisa dibilang semakin nekat. Dalam keramaian pun mereka tak segan memisahkan anak-anak polos tak berdosa dari orang tuanya.

Karenanya, pengawasan orang tua dituntut semakin ketat. Jangan sampai meleng atau lengah dalam mengawasi anak. Khususnya bagi anak-anak bawah lima tahun (balita). Sebagaimana salah satu video yang sempat viral di media sosial, oknum diduga pelaku penculikan dengan mudahnya “merenggut” balita ketika sang ibunda teralihkan sepersekian detik lantaran tengah membuka tokonya.

Para orang tua “zaman now” memang harus terus diingatkan akan bahaya penculikan. Hal ini dikarenakan, keberadaan teknologi informasi yang semakin masif, nyatanya membuat perhatian orang tua kerap teralihkan oleh gadget mereka. Baik saat membuat media sosial, bermain game, atau keperluan lainnya yang terselesaikan oleh gadget.

Kenyataannya, banyak orang tua yang saking asyiknya dengan gadget mereka, sampai-sampai lupa mengawasi anak. Apalagi bila keluputan orang tua ini terjadi di tempat-tempat umum seperti taman, arena bermain, atau pasar.

Dalam beberapa eksperimen sosial, didapati begitu banyak orang tua, baik ayah maupun ibu, yang mengabaikan anak mereka saat berada di taman bermain. Sehingga “penculik” yang tengah bereksperimen mampu membawa anak mereka pergi menjauh begitu saja. Eksperimen ini membuktikan bahwa sebagian dari kita orang tua, masih mementingkan gadget ketimbang si buah hati.

Ini jelas adalah alarm yang harus benar-benar dijadikan peringatan. Apalagi disadari bila gadget memiliki daya tarik fenomenal yang bisa mengalihkan penggunanya dari lingkungan sekitar. Termasuk mengabaikan anak sendiri. Bila demikian, musibah mengintip terjadi baik itu penculikan maupun hal-hal berbahaya lainnya yang mengancam keselamatan anak.

Bila sudah begitu, maka yang tersisa hanya penyesalan. Lantaran gadget yang sejatinya harganya tak seberapa, melayanglah buah hati yang begitu berharga dan tak tergantikan. Tentu ini sangat disayangkan.

Sebagai orang tua yang memiliki anak, tentu kita harus saling mengingatkan. Jangan sampai kecanduan kita pada gadget membuat kita melupakan anak sekalipun itu dalam hitungan detik saja. Di sini, perlu bagi orang tua untuk bisa mengatasi kecanduannya akan gadget, demi meminimalisasi bencana yang bisa terjadi.

Langkah yang bisa dilakukan misalnya, dengan tidak menggunakan gadget sama sekali ketika sedang bersama anak, khususnya ketika sedang menjaga atau mengawasi anak di tempat-tempat umum. Kalaupun terpaksa, misalnya harus menelepon atau menerima telepon, pastikan pandangan tak terlepas mengawasi anak.

Selain godaan gadget, hal lain yang bisa mengalihkan perhatian orang tua adalah ketika berjumpa dengan teman atau kerabat. Acapkali, perjumpaan itu berlanjut dengan obrolan akrab, yang saking akrabnya membuat terlupakan akan kehadiran anak. Hal ini juga harus menjadi perhatian, khususnya kaum ibu yang suka bergosip.

Obrolan memang penting demi menjaga relasi, akan tetapi, pengawasan terhadap anak jauh lebih penting. Maka yang perlu dilakukan tak beda dengan kala terpaksa menggunakan gadget. Namun lantaran daya tarik obrolan kerap membuat kita fokus pada orang yang sedang diajak bicara, sebaiknya anak dipegang, digendong, atau dipangku.

Faktanya bahaya penculikan yang mengincar anak-anak kita sudah sampai ke dalam rumah kita sendiri yang selama ini kita anggap aman. Dalam beberapa kesempatan, penculik telah melakukan pendekatan sampai ke rumah-rumah, misalnya dengan menunggu empunya rumah lengah misalnya tertidur, mandi, atau sibuk di dapur.

Hal ini tentu semakin meresahkan saja, seolah tidak ada lagi tempat aman untuk si buah hati. Langkah antisipasi yang bisa dilakukan misalnya dengan mengunci rumah ketika kita mengantuk, di kamar mandi, atau sibuk di dapur, sementara anak-anak khususnya balita sedang dalam kondisi terjaga.

Selain mengawasi pergerakan anak, pengawasan terhadap orang-orang di sekitar kita, terlebih di sekitar anak juga wajib dilakukan. Bukan berarti berprasangka buruk, melainkan waspada menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Karena Doraemon itu masih fiksi, kita tidak bisa mengulang kembali kejadian yang sudah terlalui dengan mesin waktu.

Waspada terhadap orang asing patut dilakukan. Bahkan untuk pendatang atau tetangga yang baru pindah, termasuk juga teman yang baru kita kenal. Karena pengalaman dari kasus penculikan anak, pernah terjadi penculikan lantaran orang tua membiarkan anaknya berjalan bersama orang yang dianggap baik, namun rupanya serigala berbulu domba.

Di satu sisi kesibukan orang tua kerap membuat sulit untuk menjaga atau mengurus anak. Sehingga mau tak mau anak dititipkan selama orang tua bekerja. Biasanya, anak dititipkan pada kakek-neneknya, anggota keluarga atau kerabat, atau di tempat penitipan anak. Bila mampu secara ekonomi, orang tua membayar pengasuh atau asisten rumah tangga yang secara khusus menjaga dan mengawasi anak.

Memang bukan hal yang salah, menitipkan anak. Akan tetapi dengan maraknya isu penculikan, membuat untuk menitipkan anak ini harus lebih ekstra hati-hati. Bila menitipkan kepada keluarga, pastikan anggota keluarga yang diberi amanah tersebut benar-benar mampu menjaga anak. Karena faktanya, ada anggota keluarga yang kurang memperhatikan anak yang dititipkan, bahkan ada yang malah bersikap tidak baik kepada anak.

Pun demikian dalam hal menyewa pengasuh atau asisten rumah tangga. Tidak hanya satu dua kali kita baca dan dengar kabar penculikan anak yang dilakukan oleh oknum pengasuhnya sendiri. Bukan berarti semua pengasuh seperti itu, melainkan oknum pengasuh yang telah memberi citra buruk itu.

Untuk itu, perlu bagi kita yang berencana menitipkan anak kepada pengasuh atau asisten rumah tangga, agar lebih mengetahui latar belakang mereka dengan sebaik-baiknya. Bila dari awal kita sudah curiga, atau melihat perangai yang tidak baik, lebih baik untuk tidak menggunakan atau meneruskan jasa pengasuh tersebut. Maka harus selektif, memilih pengasuh atau asisten rumah tangga yang benar-benar bisa diandalkan.

Selain pengawasan, keberanian juga perlu dilakukan oleh orang tua dalam mengantisipasi ancaman penculik. Pasalnya, penculik “zaman now” tak segan-segan beraksi di keramaian. Saya pernah membaca sebuah kabar yang belum dipastikan kebenarannya, mengenai seorang ibu yang anaknya direbut begitu saja di pasar.

Lantaran si penculik memaki-maki ibu tersebut dan mengklaim anak sang ibu sebagai anaknya. Aksi ini berjalan mulus lantaran sebelum melakukannya, si penculik telah mengorek beragam informasi tentang si anak, yang ironisnya didapatinya dari si ibu itu sendiri. Ibu yang ketakutan itu hanya bisa menangis ketika anaknya diambil di depan orang banyak, secara terang-terangan.

Sekalipun belum bisa dipastikan kebenaran kabar ini, namun menjadi pelajaran bagi kita untuk memiliki keberanian atas buah hati kita. Harus berani berteriak ketika kita dan buah hati kita berada dalam bahaya. Di satu sisi, kita harus membatasi diri untuk tidak menceritakan informasi mengenai anak-anak kita secara lengkap, yang rupanya bisa disalahgunakan oleh para penculik tak bertanggung jawab.

Meski harus meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai meleng dalam mengawasi anak, kita juga jangan sampai menjadi paranoid menyikapi isu penculikan. Jangan nanti kita asal menuduh orang sebagai penculik lantaran curiga orang itu adalah penculik.

Karena bila kita asal menuduh, bisa berdampak pada aksi main hakim sendiri yang telah terjadi di Indonesia dan di India. Sampai-sampai di India sana, seorang pencari kerja tewas dihajar massa lantaran dituduh menculik. Gara-gara terpengaruh video hoaks penculikan yang sudah terlanjur beredar dan dipercayai di masyarakat.

Padahal belum tentu yang kita tuduh itu benar-benar penculik. Bisa saja dia orang biasa, namun karena pikiran kita sudah dipenuhi paranoia penculikan anak, lalu menganggapnya sebagai penculik. Selain membahayakan bagi orang yang kita tuduh, juga secara hukum membahayakan bagi diri kita yang bisa dituduh memfitnah atau menyebar berita hoaks.

Waspada perlu, namun harus tetap cerdas dan berpikir jernih. Lebih baik laporkan ke pihak berwenang bila ada orang tak dikenal yang mencurigakan. Sembari meningkatkan pengawasan kepada anak. Jangan sampai upaya perlindungan yang kita lakukan malah berujung dosa hingga penjara.

Pengawasan dan kewaspadaan terhadap anak-anak memang sangat penting di “zaman now” sekarang ini. Tujuannya bukan sekadar menghindari penculikan, melainkan juga hal-hal lain yang tidak diinginkan. Mulai dari kecelakaan hingga paparan dampak negatif masifnya penyebaran informasi. Karena bila itu terjadi, akan menyebabkan penyesalan seumur hidup yang takkan pernah bisa terobati. Naudzubillahimindzalik. (*)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 00:20

Jangan Sampai Meleng

Oleh: Lukman M, Redaktur Bontang Post  JAGAD media sosial dibuat…

Sabtu, 13 Oktober 2018 23:53
KOLOM MINGGU

Jaga Bontang Terus Berkembang

Lukman M, Redaktur Bontang Post  JUMAT (12/10) lalu merupakan hari…

Selasa, 09 Oktober 2018 00:01
Gempa Palu

Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga

Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami…

Minggu, 07 Oktober 2018 00:02

Keadilan untuk Penyebar Hoaks

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  HOAKS alias kabar bohong…

Kamis, 04 Oktober 2018 00:31

Palu Ketika Tanpa Koran

Oleh: Dahlan Iskan   Saya kepikiran teman-teman saya di Radar…

Minggu, 30 September 2018 00:05

Teguran dari Cincin Api

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post  BENCANA kembali menerpa negeri…

Jumat, 28 September 2018 00:42

Sepak Bola Layaknya Malaikat Pencabut Nyawa

EDITORIAL Oleh: Yusva Alam, Redaktur Bontang Post  Meninggalnya seorang suporter…

Selasa, 25 September 2018 00:26

Menanti Media Sosial yang Damai

Oleh: Muhammad Zulfikar Akbar, Redaktur Pelaksana Bontang Post  PER 23…

Selasa, 25 September 2018 00:16

Herwan Legawa Tinggalkan Karang Paci

SAMARINDA – Silang sengkarut penggantian antar waktu (PAW) antara dua…

Jumat, 21 September 2018 00:25

Memetik Hikmah dari Cinderella Man

Yusva Alam Redaktur Bontang Post  Banyak pelajaran menarik bisa kita…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .