MANAGED BY:
MINGGU
21 JULI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Rabu, 30 Januari 2019 10:04
Terapkan Konsep Petik Sendiri

Kebun Buah di Jalan Arif Rahman Hakim

BEDA SENSASI: Memakan buah rambutan langsung dari pohonnya dengan dari penjual berbeda sensasinya karena pasti lebih segar.

PROKAL.CO, Awal tahun, beragam buah-buahan mengalami musim panen. Bukan hanya buah lokal Kalimantan, buah Nusantara banyak yang panen. Seperti durian, kelengkeng, hingga rambutan.

 

PEMANDANGAN buah-buahan yang bertebaran di pinggir jalan dinilai sudah biasa. Berbeda sensasinya ketika buah-buahan bertebaran di pohonnya. Dibiarkan benar-benar matang hingga warnanya merah menyala.

Sungguh sensasi kebun yang cantik dipenuhi beragam pohon buah-buahan. Lahan seluas 0,9 hektare itu juga terdapat kolam ikan, sarang walet, hingga kandang ayam dan beberapa sangkar burung bersuara merdu.

Di pintu masuk, pengunjung telah disambut oleh satu pohon rambutan yang berbuah ranum, berwarna merah. Pengelola kebun di Jalan Arif Rahman Hakim, belakang Perumahan Lembah Asri, Sumali mengatakan diminta pemilik lahan yakni Siswaji, pensiunan PT Pupuk Kaltim, untuk mengelola lahannya.

Awalnya, Sumali menanam sayuran di lahan milik Siswaji. Namun, dia berpikir tak bisa terus-terusan bercocok tanam hingga tua. Akhirnya diputuskan untuk menanam pohon keras, yakni buah-buahan.

“Tak mungkin saya mencangkul terus sampai tua, makanya saya tanami pohon buah, hasilnya bisa jadi pemasukan untuk makan sehari-hari,” ungkap pria yang akrab disapa Pakde Sumali itu, Selasa (29/1).

Sebenarnya, lahan yang dia kelola seluas 1,5 hektare. Tapi yang bisa disertifikasi 0,9 hektare. Sisanya 0,6 hektare masuk lahan milik Pertamina. Pertama, hanya dua bibit pohon rambutan yang dia beli di Kilometer 6. Selanjutnya, dia kembang biakkan sendiri dengan cara cangkok.

Sampai akhirnya tumbuh 60-an pohon rambutan. Ditambah 7 pohon durian, 3 pohon kelengkeng, dan beberapa pohon sukun. Selain itu, dibuat dua kolam indukan dan 7 kolam pembesaran.

Sejak 2000, konsep petik sendiri sudah diterapkan. Sumali membebaskan pengunjung yang memetik sendiri untuk makan rambutan sepuasnya atau semampu perutnya. Kalau membeli harga jualnya, yakni Rp 10 ribu pada 2019.

“Saya lihat harga jual pasaran dan kualitasnya, tahun ini di pasar dijual Rp 5 ribu, tapi saya rasakan rambutan kami lebih berkualitas makanya kami jual Rp 10 ribu sekilo,” timpal Sumali.

Kebunnya itu sudah dikunjungi banyak instansi. Paling banyak dari kalangan sekolah, baik Yayasan Hidayatullah, Baiturrahman, maupun YPK. Hasil penjualan dia catat untuk melihat berapa yang terjual. Rata-rata per hari laku 80 kilogram.

“Kadang saya capek sekali, pas saya hitung ternyata terjual 100 kg dalam sehari,” katanya lagi.

Kalau hasil kolam, yakni gurame, nila, dan ikan mas ada waktu masa panen. Biasanya, gurame terbesar mencapai 4 kilogram. Untuk harga jualnya yakni Rp 60 ribu per kilogram, nila Rp 40 ribu dan ikan mas Rp 45 ribu.

Sedangkan avokat dijual Rp 20 ribu per kilogram. Dua jenis rambutan yang menjadi primadona, yakni rapiah dan binjai, ada juga jenis lebak bulus namun rasanya masam. “Itu khusus orang ngidam,” imbuhnya.

Hasil panen buah tak pernah diminta oleh pemilik lahan. Sebab, Sumali dipercaya mengelola lahan tersebut menjadi bermanfaat. “Hasilnya saya putar untuk perbaikan-perbaikan, juga pemeliharaan kebun buah,” pungkasnya.

Sementara itu, Sukaesih mengaku tahu kebun rambutan petik sendiri dari temannya. Dia baru dua kali ke sana tapi merasa puas dengan hasil rambutannya. “Lebih manis, dan kami bisa milih mau rambutan dari pohon yang mana kalau beli,” kata Sukaesih yang memborong kiloan rambutan jenis rapiah. (mga/kri/k8)

 

 

 

loading...

BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 20:59

Air Laut Masuk Sungai Sangatta

<p style="text-align: justify;">SANGATTA &ndash;&nbsp;Kemarau panjang yang terjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*