MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Rabu, 07 September 2016 01:35
Presenter yang Ingin Pulang Kampung

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Latifah Nur Muslimah (7)

DOK.PRIBADI

PROKAL.CO, Berhijab bukan jadi halangan buat Latifah Nur Muslimah untuk jadi presenter. Meski bukan dari latar belakang pendidikan komunikasi ataupun broadcasting, lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mantap berkarier di dunia televisi.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

 

KEINGINAN untuk menjadi presenter memang belum tumbuh saat Latifah masih berada di awal bangku kuliah. Namun, dirinya sudah mulai sering ditawari menjadi Master of Ceremony (MC) saat kegiatan-kegiatan kampus. Menjadi protokoler saat acara ospek, jadi pembuka jalan Latifah mengenal dunia public speaking yang kini digelutinya. “Waktu pertama jadi MC belum dibayar dan kebanyakan dadakan, tapi saya senang ngejalaninnya,” ujar perempuan kelahiran Bontang 10 Desember 1988 ini.

Keputusan Latifah mantap menyelami dunia broadcasting sesungguhnya muncul saat menjelang kelulusan dirinya  di bangku kuliah. Keputusan ini diambilnya setelah selama kuliah mengikuti berbagai audisi penyiar maupun presenter. “Waktu akhir 2011 saat sedang mengerjakan tugas akhir, diadakan audisi penyiar radio di Yogyakarta. Dengan modal nekat, saya mengikuti proses audisi tersebut mulai tes suara hingga lolos ke tahap wawancara. Saat wawancara inilah ditanyakan mengenai prinsip saya berhijab,” kata Latifah.

Setelah pertanyaan seputar berhijab, dirinya tidak yakin bakal diterima dalam audisi tersebut. Apalagi, kata Latifah sangat jarang ada penyiar radio yang berhijab. Lama menunggu konfirmasi dari penyelenggara audisi, Latifah berkesimpulan dirinya tidak lolos. “Sepertinya belum familiar waktu itu dunia radio dengan yang namanya penyiar berhijab. Alhasil saya nggak terlalu berambisi untuk menduduki kursi kepenyiaran di radio. Mungkin memang belum jalannya di radio, pikir saya waktu itu,” ujar alumni SMA Vidatra ini.

Meski gagal di audisi penyiar radio, Latifah mencoba peruntungan yang lain yakni menjadi presenter televisi. “Seminggu setelah event audisi penyiar usai, ternyata diadakan audisi presenter dalam rangka SCTV Goes to Campus di 2011 juga. Hati saya berbisik, sayang sekali kalau kesempatan ini tidak disambangi. Akhirnya saya hajar saja audisinya. Tidak disangka, Alhamdulillah lolos sampai final 5 besar,” kenang Latifah.

Walau akhirnya lagi-lagi Latifah tidak jadi pemenang, namun dari dua kali kegagalannya inilah justru ia makin mantap berkarir di dunia penyiaran. Pengalaman berada di depan kamera muncul saat dirinya menjadi reporter di Trans 7. Meski sebentar, dirinya bangga membuktikan jika hijaber juga bisa jadi jurnalis. “Cukup mematahkan sudut pandang bahwa yang terbit di televisi hanya sebatas fisik dengan kemolekan diri yang cantik, mulus, dan seksi,” katanya.

Sempat vakum selama setahun karena mengurus orangtua yang sakit, Latifah kembali ke dunia penyiaran saat melihat lowongan kerja presenter di TV lokal Yogya. “April 2013 itu iseng masukin lamaran ke AdiTV, ternyata saya lolos. Tapi beberapa bulan setelahnya, ada orang dari RBTV Kompas TV Yogya melihat siaran saya dan menawari untuk jadi presenter disana. Setelah minta pendapat dari beberapa orang terdekat, saya mengiyakan kesempatan tidak terduga itu karena saya tidak terikat kontrak dengan stasiun TV manapun,” ujar anak ketiga dari pasangan M Wachid Hasjim dan Maryatun ini.

Perjalanan karir Latifah setelah itu mulai menanjak. Oktober 2014, dirinya kembali ditawari membantu siaran di TVRI Yogyakarta. Bahkan di bulan yang sama pada 2015, giliran NET TV Yogyakarta menawarinya mengisi siaran. “Allah maha baik. Alhamdulillah hingga saat ini tercatat aktif menjadi presenter di AdiTV Yogya, RBTV Kompas TV Yogya, TVRI Yogyakarta, dan NET TV Yogyakarta,” ungkap Latifah yang mengidolakan Sarah Sechan dan Feni Rose ini.

Menjadi presenter dibanyak stasiun tv sekaligus tidak membuat Latifah lupa akan rumah. Saat ibunya sakit, ia berusaha membagi waktu antara kebutuhan di rumah, ibu Latifah, pekerjaannya, dan lain sebagainya. Setelah kedua orangtuanya memutuskan pensiun dan menetap di Klaten, Jawa Tengah, dirinya juga harus rela pergi pulang Klaten-Yogya. Padahal, jarak antar kedua kota tersebut bisa mencapai 33 kilometer. Pun resiko bersiaran di empat stasiun tv sekaligus membuat dirinya harus pintar mengatur waktu.

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 19 Januari 2019 10:09

ISPA Capai 11 Ribu Kasus

BONTANG – Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di…

Sabtu, 19 Januari 2019 10:06

Tarif CT Scan Tunggu Perwali

BONTANG – Secara bertahap, RSUD Taman Husada Bontang melengkapi fasilitas…

Sabtu, 19 Januari 2019 10:05

Honorer NyalegHarus Keluar

BONTANG – Bukan hanya PNS yang harus mengundurkan diri jika…

Sabtu, 19 Januari 2019 10:04
Dari Rekonstruksi Kasus Istri Bakar Bengkel Suami

Sakit Hati karena Suami Pelit, Enam Bulan Cekcok Masalah Uang

Emosi Mawar memuncak pertengahan Desember tahun lalu. Perempuan 29 tahun…

Sabtu, 19 Januari 2019 10:04

Dipicu Wisata, Pengunjung Hotel Meningkat

BONTANG – Jumlah pengunjung hotel meningkat sejak sejumlah objek wisata…

Sabtu, 19 Januari 2019 10:03

Potensi Pajak Rumah Kos Masih Kecil

BONTANG – Pendapatan daerah dari sektor pajak daerah rumah kos…

Selasa, 15 Januari 2019 08:55

Dua Kampung Tanpa Listrik, Ngadu ke DPRD, Ini Hasilnya...

BONTANG – Era modern, listrik merupakan kebutuhan  vital warga. Karena…

Selasa, 15 Januari 2019 08:54

PLN Butuh Surat Rekomendasi

BERDASARKAN keputusan rapat dengar pendapat tersebut, Unit Layanan Pelanggan (ULP)…

Selasa, 15 Januari 2019 08:53

PARAH..!! Curi Motor demi Sabu

BONTANG - Kecanduan narkotika jenis sabu, membuat Ramli alias Combet…

Selasa, 15 Januari 2019 08:52

Bonus Atlet Bakal Tidak Bersamaan Cair

BONTANG – Bulan ini, bonus atlet peraih medali Pekan Olahraga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*