MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN
Sabtu, 05 September 2015 22:12
DPRD Belum Pernah Terima Laporan

Soal Nasib Karyawan, Usai Oci Melamine Dinyatakan Bangkrut

Dok/bontang post Abdul Kadir Tappa

PROKAL.CO, style="text-align: justify;">BONTANG - Walaupun sudah tidak sanggup membayar gaji karyawan sejak Agustus 2011 lalu, namun karyawan PT Driver Kaltim Melamine (DKM), atau yang sebelumnya bernama PT Oci Kaltim Melamine (OKM) tak pernah mengeluhkan hal itu ke DPRD Bontang.

Hal ini diungkapkan Abdul Kadir Tappa, anggota DPRD Bontang dari Fraksi Golkar yang menjabat sebagai ketua komisi I periode 2009-2014. Dia mengaku tidak pernah menerima laporan dari perusahaan yang sudah dinyatakan bangkrut itu.

“Selama saya menjadi ketua komisi I tidak pernah menerima laporan dari karyawan perusahaan itu (Oci Melamine, Red.),” kata Kadir Tappa saat ditanya soal bangkrutnya perusahaan pabrik melamin itu, Jumat (4/9) kemarin.

Dia mengatakan salah satu persoalan yang dilaporkan ke komisi I dan sudah diselesaikan adalah Kaltim Pasifik Amoniak, bukan soal  Oci Melamine.  “Saya tidak pernah terima laporan,” ujarnya menekankan.

Soal bangkrutnya perusahaan itu, dia bersama rekan-rekan di DPRD sangat terbuka untuk menjadi fasilitator jika ada permasalahan terkait ketenagakerjaan, termasuk jika ada laporan dari karyawan Oci Melamine.

“Sejak dulu kami selalu terbuka dalam menerima laporan dari pekerja. Tentu jika ada laporan, teman-teman di komisi I akan menindaklanjuti,” kata Kadir Tappa.

Diwartakan sebelumnya, Oci Melamine divonis bangkrut oleh Mahkamah Agung (MA) setelah peninjauan kembali (PK) yang diajukan ditolak berdasarkan putusan MA nomor 1 PK/Pdt.Sus-Pailit/2015 pada 18 Februari 2015 lalu.

Perusahaan itu divonis bangkrut dalam rapat permusyawaratan majelis hakim yang diketuai H Suwardi SH MH, dengan anggota Soltoni Mohdally SH MH dan H Hamdi SH MHum, serta panitera pengganti Florensani Kendenan SH MH.

Oci Melamine bangkrut karena memiliki banyak utang, tidak bisa berproduksi lagi, dan tidak mampu membayar karyawannya. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dissosnaker) Bontang mencatat, jumlah karyawan di perusahaan patungan itu sekitar 90-an orang. Itupun yang masuk dalam serikat pekerja. (hd)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*