MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Selasa, 08 September 2015 21:21
Jangan Takut Laporkan!

Dari Talk Show Perlindungan Wanita

SIAFUL FAKHRI/BONTANG POST NARASUMBER :Hj Najirah saat memberikan wawasan seputar hukum tentang kekerasan pada perempuan dan anak di acara talk show, Senin (7/9) kemarin.

PROKAL.CO, style="text-align: justify;">BONTANG – Masalah perlindungan hukum bagi perempuan dan anak, khususnya korban kekerasan kian meresahkan di Indonesia. Hal inilah menjadi alasan digelarnya talk show kerja sama Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bontang di Auditorium Eks Kantor Wali Kota Jalan Awang Long, nomor 1, kemarin.

Wali Kota Bontang Adi Darma saat membuka talk show yang melibatkan peserta dari berbagai Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) dan ratusan pelajar ini mengatakan sudah banyak kasus yang terjadi, baik yang terkuak dan terselesaikan di meja pengadilan maupun yang hanya menjadi kenangan pahit bagi korban. Padahal perlindungan hukum merupakan hak bagi seluruh rakyak Indonesia.

“Banyaknya kasus yang selama ini terjadi tanpa kita ketahui, karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang hukum kekerasan di lingkunga keluarga. Mudahan talk show ini bisa menambah dan membuka cakrawala pengetahuan peserta,” jelas Adi Darma.

Lanjut Adi, kekerasan terhadap perempuan dan anak diibaratkan gunung es, yang terungkap di permukaan hanyalah bagian puncaknya saja, sedangkan sebagian besar terpendam dan tidak mencuat ke permukaan. Ini artinya korban lebih memilih diam daripada melaporkan kepada pihak yang menangani permasalahan tersebut dengan anggapan kekerasan tersebut merupakan aib dan menganggap kekerasan tersebut merupakan takdir yang sudah ditentukan.

“Korban dari kekerasan lebih memilih diam daripada mengungkapnya ke publik dengan alasan aib keluarga,” imbuh wali kota.

Sementara itu, Ketua P2TP2A Bontang Najirah sekaligus narasumber menuturkan jika kaum perempuan harus berani melaporkan jika ada pelecehan atau tindak kekerasan dialami. Sehingga kekerasan seperti itu bisa diantisipasi lebih lanjut oleh pihak berwajib.

“Para perempuan atau korban kekersan harus berani melaporkan, jangan takut,” ujar Najirah.

Saat ini, dijelaskan Najirah, Komnas Perempuan telah melakukan pemantauan selama 15 tahun dan menemukan 15 jenis kekerasan seksual yang dialami perempuan di Indonesia, termasuk anak-anak. Namun hingga saat ini, baru dua jenis kekerasan seksual yang dikenal dan diatur secara tegas dalam perundang-undangan.

Jenis-jenis kekerasan seksual tersebut di antaranya adalah tindak perkosaan, intimidasi bernuansa seksual (termasuk ancaman atau percobaan perkosaan), pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, kontrasepsi/sterilisasi paksa, penyiksaan seksual, penghukuman bernuansa seksual, dan kontrol seksual termasuk aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Najirah menambahkan, undang-undang yang tersedia hanya mengatur sanksi terhadap pelaku. Padahal, dampak yang dialami korban, terlebih jika terjadi pada anak-anak, akan terbawa hingga dewasa sehingga ketentuan mengenai pemulihan bagi korban kekerasan seksual juga menjadi hal yang perlu diatur secara tegas. (hms/*/ri)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 20:57

Rusunawa Rampung Akhir Tahun 2015

<p style="text-align: justify;">BONTANG - Proyek rumah susun sederhana sewa (rusunawa)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*