MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

SANGATTA POST

Senin, 10 Desember 2018 18:35
Harga Komoditas Pasar Menigkat, Ayam dan Telur Jadi Sorotan
HARGA NAIK: Salah seorang pembeli saat berbelanja di Pasar Sangatta Selatan.(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)

PROKAL.CO, SANGATTA - Sejumlah harga komoditas dan kebutuhan sehari-hari mulai meroket. Salah satunya harga telur yang naik mencapai Rp. 50 ribu per rak. Dari harga awal Rp 45 ribu naik Rp 5 ribu. Serupa dengan daging ayam yang semula Rp 36 ribu per kilogram, meningkat sekira Rp 9 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram.

Dikatakan salah seorang pedagang di Pasar Sangatta Selatan, Suhenda Suriaman, kenaikan tersebut belum diketahui penyebabnya. Namun ia menduga hal ini kerap terjadi saat memasuki pengujung tahun. "Kalau sudah Desember pasti begini, mungkin mau ada perayaan Natal, makanya naik semua barang," katanya saat diwawancarai, Minggu (9/12).

Tidak hanya itu, kenaikan harga juga meliputi perubahan harga pada bawang merah. Katanya, harga bahan pokok yang satu ini pekan lalu hanya berkisar Rp 22 ribu. Namun saat ini dari agen sudah mencapai Rp 35 ribu.

"Saya dapat saja sudah mahal, sehingga saya jual lagi dengan harga Rp 40 ribu. Kalau tidak begitu, saya tidak dapat untung. Belum lagi kalau ditawar ibu-ibu," keluhnya.

Senada, Yuli, seorang pedagang nasi kuning juga mengeluhkan kenaikan harga ini. Tak hanya ayam, telur, maupun bawang. Wanita 44 tahun itu menyebutkan meroketnya harga juga terjadi pada cabai rawit.

"Saya jualan harus sedia sambal. Sekarang cabai sudah Rp 35-40 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp 28 per kilogram," bebernya.

Ditemui di tempat berbeda, Robiah (51), warga jalan Silvaduta RT 01, Sangatta Selatan ini menuturkan hal yang sama. Menurutnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya harus mengeluarkan dana lebih. "Kalau sudah mau pergantian tahun memang harus mengeluarkan uang lebih," katanya.

Tak tanggung-tanggung, ia juga menjelaskan, sayur hijau yang notabenenya ditanam oleh petani lokal, ikut mengalami kenaikan. "Saya heran, padahal bukan kiriman, tapi kenapa kangkung dan bayam juga ikut mahal," terangnya.

Sehingga Robiah berharap pemerintah dengan dinas terkait dapat melakukan sidak di seluruh pasar. Guna menekan permainan harga pasar yang kerap menjadi budaya. "Rasanya sudah biasa naik kalau musim seperti ini. Coba dinas-dinas itu cek harga, terjun ke pasar, biar tahu bagaimana keluhan masyarakat kalau terus naik," ungkapnya. (*/la)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 01:35

Tuntaskan Kemiskinan Lewat Pemberdayaan Potensi

<p style="text-align: justify;"><strong>&nbsp;</strong></p> <p…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*