MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

METRO SAMARINDA

Senin, 17 Desember 2018 19:12
Pajak Restoran Sumbang Rp 52 M

Dari 1.200 Pelaku Usaha yang Kantongi NPWP

Hermanus Barus(DIRHAN/METRO SAMARINDA)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Berbagai cara terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk menggenjot sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang dimiliki Kota Tepian. Salah satu yang dianggap memiliki potensi besar dan perlu digarap serius yakni pajak restoran.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Samarinda, Hermanus Barus menerangkan, sumbangsih pajak restoran di tahun 2018 mencapai Rp 52 miliar. Dana  itu didapatkan dari 1.200 restoran yang telah terdaftar dan mengantongi nomor pokok wajib pajak (NPWP) dari pemerintah Samarinda.

Menurut dia, angka yang didapatkan dari pajak restoran tersebut pada dasarnya masih bisa ditingkatkan lagi. Pasalnya, potensi yang dapat digarap di sektor itu dapat dikatakan masih cukup besar. Apalagi sekarang pertumbuhan rumah makan di Samarinda terbilang cukup baik dari tahun ke tahun.

Hanya saja, untuk meningkatkan pendapatan dari sektor ini terbilang juga tidak mudah. Sebab kesadaran para pelaku usaha yang menggeluti bisnis ini masih terbilang cukup rendah. Hal itu memberikan dampak pada peningkatan PAD di sektor itu.

“Sektor yang cukup besar dan potensial untuk digarap seperti pajak restoran dan PBB (pajak bumi bangunan, Red.). Cuma kesadaran para pelaku usaha masih menjadi kendala kami,” kata Hermanus ditemui di kantornya belum lama ini.

Ia menyebut, penerapan pajak restoran pada dasarnya bukan ditanggung oleh pemilik usaha. Tetapi ditanggung masyarakat yang membeli atau makan di tempat tersebut. Dari kegiatan itu, pemerintah hanya menetapkan pajak sekira 10 persen.

“Dari para pelaku usaha di sektor ini, banyak yang masih belum menerapkan. Padahal konsekuensi ketika tidak diterapkan, biaya tetap ditanggung. Ada yang menerapkan, tapi tidak disetor ke pemerintah. Dan ada yang memang belum terdaftar,” tuturnya.

Dari pertemuan yang digelar Bapenda Samarinda, para pelaku bisnis makanan ini kerap beralasan. Ketika mereka menaikkan harga, maka dikhawatirkan akan berdampak pada bisnis mereka. Seperti berkurangnya jumlah pelanggan atau pembeli makanan di tempat itu.

“Katanya sih, ketika mereka naikkan (harga), orang protes. Tapi saya kira itu alasan saja. Saya yakin masyarakat tidak akan protes. Walau naik 10 persen, orang juga tidak akan ribu-ribut. Paling yang harga Rp 33 ribu, kalau 10 persen naiknya, ya paling Rp 3 ribu,” ujarnya.

Penerapan pajak sendiri tidak dapat dilakukan kepada semua pengusaha makanan. Sebab terdapat beberapa kriteria yang ditetapkan pemerintah. Salah satunya, restoran yang dapat dikenakan pajak adalah restoran dengan omzet mencapai Rp 60 juta setahun.

Selain itu, yang disebut sebagai restoran antara lain rumah makan, kafe atau warung yang menyediakan tempat untuk makan ataupun yang dibawa pulang.

“Kalau omzet rumah makan Rp 60 juta setahun dibagi 12 bulan, berarti 5 juta dalam sebulan. Lalu 5 juta sebulan dibagi 30 hari, maka enggak sampai Rp 200 ribu per hari. Kalau ada warung atau restoran yang jualannya Rp 200 ribu per hari, berarti sudah lama tutup,” imbuhnya.

Menurut Hermanus, pajak lain yang juga terus ditingkatkan instansi yang dipimpinnya yakni pajak perhotelan dan tempat hiburan. Pada tahun 2018, pajak perhotelan ditargetkan sebesar Rp 26 miliar. Sedangkan pajak hiburan dipatok diangka Rp 19 miliar.

“Sekarang realisasinya rata-rata sudah 100 persen, kecuali PBB. Kalau tempat hiburan, semua sudah hampir terdata,” katanya.

Untuk peningkatan pajak di sektor hiburan sendiri, diakuinya, sangat bergantung dari kegiatan pertambangan. Karena kebanyakan dari mereka yang melancong di dunia hiburan malam rata-rata mereka yang bekerja di sektor pertambangan.

“Indikator bisnis tempat hiburan adalah tambang. Pajak di tempat hiburan itu 40 persen. Mereka yang banyak ke tempat itu adalah pendatang dari luar Samarinda. Dan rata-rata memiliki penghasilan di atas Rp 5 juta per bulan,” tandasnya. (drh)


BACA JUGA

Rabu, 09 September 2015 18:27

Menengok Pedagang Sapi Tahunan di Kutim

<p style="text-align: justify;"><strong>SANGATTA &ndash;</strong> Iduladha…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*