MANAGED BY:
SELASA
21 JANUARI
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Jumat, 14 Juni 2019 10:15
Mei, Penderita DBD Capai 91 Kasus

Fogging Tak Efektif, Minta Tebarkan Abate

Diana Nurhayati

PROKAL.CO, BONTANG – Musim hujan kembali melanda Kota Taman. Bahkan, hingga banjir menerjang Bontang. Beberapa penyakit bermunculan, namun karena masuk kota endemis, satu penyakit yakni demam berdarah dengue (DBD) kembali meningkat kasusnya di bulan Mei lalu.

Setelah sempat menurun kasusnya di bulan Maret-April. Trafic kasus DBD kembali memuncak pada bulan Mei. Jumlahnya, hampir sama dengan bulan Februari yang mencapai 92 kasus.

Kabid Pengendalian, Pencegahan Penyakit (P2P) Diskes Bontang, Diana Nurhayati menuturkan DBD pada bulan Mei memang terjadi peningkatan. Hal itu dilihat dari hasil evaluasi pemantauan kasus DBD pada pola maksimal dan minimal sejak 5 tahun lalu. Skalanya, di 2015 terjadi pola minimal kasus DBD, yang meningkat di 2016 dan menjadi pola maksimal kasus DBD. “Pada 2019 ini, terjadi peningkatan kasus sejak akhir Desember 2018 hingga Januari. Jumlahnya di Januari 2019, melebih jumlah penderiat DBD di Januari 2016,” jelas Diana, Kamis (13/6).

Pada minggu pertama di bulan Juni, tercatat sudah sebanyak 10 kasus DBD. Di minggu kedua, jumlahnya masih dipantau Diskes Bontang. Penerapan status kejadian luar biasa (KLB), dikatakan Diana, tak bisa hanya melihat jumlah kasus secara global dari 15 kelurahan. Pasalnya, ada metode penerapan KLB yang dilakukan tim surveilans Diskes Bontang yakni per-RT. “Jadi bisa dikatakan KLB di satu wilayah, satu RT. Misalnya di RT tersebut pada minggu pertama bulan Juni terdapat satu kasus DBD, kalau di pekan kedua meningkat menjadi 7 kasus, maka bisa dikatakan KLB di RT tersebut,” bebernya.

Tiga kelurahan yang sedang booming kasus DBD-nya, dijelaskan Diana yakni Kelurahan Tanjung Laut, Kelurahan Berebas Tengah, dan Kelurahan Loktuan. Tiga wilayah tersebut, lanjutnya, menjadi kewaspadaan bagi Diskes Bontang. Apalagi, DBD saat ini menyerang semua umur, mulai dari remaja hingga dewasa, untuk balita tidak ditemukan kasusnya. “Kami berharap tidak ada kasus kematian karena DBD,” imbuhnya.

Pelaksanaan fogging sebagai upaya pencegahan, membuat Diana pesimis. Pasalnya, dampak dari kondisi banjir beberapa hari lalu banyak diabaikan masyarakat. Para korban banjir sibuk membersihkan rumahnya dan segala perabotannya, sementara lingkungan sekitar diabaikan. “Pasca banjir itu pasti banyak sampah, dan ini sering terabaikan seperti sampah botol atau wadah-wadah yang bisa menampung air dan jadi sarang nyamuk. Jangankan wadah, di atas daun yang berair pun, nyamun itu bisa berkembang biak,” tuturnya.

Atas dasar itu, Diana lebih menekankan supaya masyarakat mau menebar abate di tempat penyimpanan air. Karena fogging dalam kondisi masih banyak genangan malah justru menjadi racun bagi manusia. “Hasil survei memang rata-rata kasus DBD berada di wilayah lembah, dekat lokasi pasang surut yang masyarakatnya tak pernah membuang sampah karena alasan harus ke atas. Senin (pekan depan) kami evaluasi lagi. Mudah-mudahan tidak ada kematian, meski kasusnya meningkat,” pungkasnya.(mga)


BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 20:59

Air Laut Masuk Sungai Sangatta

<p style="text-align: justify;">SANGATTA &ndash;&nbsp;Kemarau panjang yang terjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers