MANAGED BY:
SENIN
18 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

BONTANG

Sabtu, 12 September 2015 19:33
Pernikahan Dini Rentan KDRT
DOK/BONTANG POST Najirah

PROKAL.CO, style="text-align: justify;">BONTANG – Pernikahan di bawah umur dianggap rentan mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Lantaran dianggap belum siap secara mental dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan menjadi seorang istri.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bontang, Najirah Adi Darma mengungkapkan, pada hakikatnya tugas dari anak perempuan adalah belajar dan meraih cita-cita. Hal ini terkait adanya Undang-Undang (UU) Perkawinan yang mengatur jika usia pernikahan dilaksanakan paling cepat ketika seorang remaja berusia 18 tahun.

“Apalagi setelah adanya sidang judicial review yang merubah batas usia 16 tahun menjadi 18 tahun. Undang-undang itulah yang seharusnya menjadi

acuan. Namun kenyataannya masih banyak anak perempuan dipaksa menikah di bawah umur,” papar Najirah ditemui kemarin.

Lanjut dia, jika menilik Riset Plan Indonesia di tahun 2014, menyebutkan, 33,5 persen anak usia 13 sampai 18 tahun pernah menikah. Rata-rata mereka menikah di usia 15 atau 16 tahun. Dan hampir semua perempuan yang menikah di usia tersebut tidak lagi dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Selanjutnya, istri dari Wali Kota Bontang, Adi Darma ini menjelaskan jika ada risiko yang akan timbul dari terjadinya pernikahan dini. Risiko itu ada karena biasanya wanita dengan usia sangat muda saat menikah selain belum cukup siap dari sisi kesehatan reproduksi, juga belum siap dari sisi mental dan keterampilan untuk menjadi istri serta ibu kelak.

Risiko yang bisa timbul jika wanita menikah di usia yang sangat muda menurut Najirah antara lain, risiko kematian saat melahirkan lebih tinggi, gizi yang belum tercukupi saat kehamilan.

“Selain itu pernikahan dini rentan dengan kekerasan dalam rumah tangga karena pasangan menikah belum memiliki mental yang matang untuk menyelesaikan masalah,” ungkap Najirah.

Najirah menambahkan, pernikahan di bawah umur juga sering merugikan pihak perempuan. Perempuan cenderung tidak memiliki hak suara ketika ada masalah dalam rumah tangga sehingga rentan terjadi pertengkaran.

Oleh karena itu, dia pun mengimbau, kunci utama bagi anak perempuan

adalah pendidikan. Karena selain dapat meningkatkan taraf hidup, pendidikan juga merupakan modal awal bagi seorang perempuan ketika ia menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. (hms/in)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 20:57

Rusunawa Rampung Akhir Tahun 2015

<p style="text-align: justify;">BONTANG - Proyek rumah susun sederhana sewa (rusunawa)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*