MANAGED BY:
SENIN
18 NOVEMBER
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

ZETIZEN

Jumat, 04 November 2016 00:59
Membaca Bukan Hobi, Tapi Kebutuhan!
FOTOGRAPER: ANANDA PUTRI AISYAH PENULIS: ANANDA PUTRI AISYAH STUDENT OF JOURNALIS SMA NEGERI 1 BONTANG

PROKAL.CO, Tau kenapa saat ini kita masuk dalam abad Masehi? Bukan lagi dalam abad Sebelum Masehi (SM)?! Well karena kita sudah mengenal dengan yang namanya bahasa. Di dalamnya terdiri dari kata dan huruf. Baik secara lisan maupun tulisan. Membicarakan tentang tulisan, erat kaitannya dengan membaca. Yerp, membaca merupakan hal awam.

Siapa sih yang enggak suka membaca? Atau minimal bisa membaca deh. Wait, ini berlaku buat kalian semua yang sudah bisa baca tulis maksudnya. Tanpa pandang jenis kelamin maupun usia, semua orang perlu membaca. Baik itu buku, majalah, tabloid, koran, hingga tulisan-tulisan di media televisi. Termasuk tulisan di gadget kita.  

We gonna make a boundary here. Karena yang dibaca kali ini adalah buku bacaan. Sebagian menjadikannya hobi. Sampai mengoleksi buku dalam jumlah tak terhingga. Hingga almari di kamar penuh sesak dengan buku. Kamu menganggap baca sebagai hobi atau apa nih? Well, ada dua orang anak SMA Negeri 1 Bontang, yang punya pandangan kalau membaca itu adalah keharusan dan kebutuhan. Who are they?

Yerp, namanya Rahmat Maulana Malikulkuddus. Siswa kelas XI MIPA 4 Smansa ini suka membaca sejak belia. Tepatnya saat Rahmat -- Rahmat Maulana Malikulkuddus -- masih usia 5 tahun. Yerp, saat doi masih ingusan sudah akrab sama buku. Saat itu Rahmat masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK), dan bacaannya sebatas buku-buku bergambar saja. Pokoknya, menurut Rahmat membaca itu keharusan. Membaca itu wajib. Bukan lagi sebatas hobi

“Karena kalau membaca jadi hobi doank, nanti akan muncul rasa bosan dan malas. Terus akhirnya enggak terbiasa lagi deh,” papar cowok kelahiran Bontang, 20 Februari 2000 ini.

Keakraban Rahmat dengan buku terus berlanjut sampai doi masuk Sekolah Dasar (SD). Sudah nambah umur, koleksi bacaan Rahmat beda lagi. awalnya buku bergambar menjadi komik. Walaupun tetap juga, sama-sama ada gambarnya.

Umur Rahmat bertambah lagi, sampai akhirnya masuk SMA di Samansa, doi bacaannya menjurus ke novel. Khususnya genre misteri. Karena gemar membaca, otomatis koleksi buku Rahmat sudah bejibun jumlahnya. Sayang, kebiasaannya membeli buku harus dihentikan sejak SMP. Tapi, enggak membeli buku bukan berarti Rahmat berhenti membaca buku.

“Saya mengoleksi buku memang sejak SD. Tapi setelah SMP sudah enggak koleksi buku dan lebih memilih meminjam sana-sini. Ditambah lagi membaca literatur elektronik. Yakni wattpad,” terang dia.

Selain menggunakan teknologi, Rahmat juga memanfaatkan relasi. Tak jarang dia meminjam buku milik teman sejawat. Pasalnya, doi yakin bahwa semakin berbagi maka ilmu semakin bertambah. Psst, banyak kendala juga sih doi alami kalau mau terus mengoleksi buku. Antaranya; Bontang masih menjadi salah satu kota yang tergolong sulit untuk menemukan buku bacaan tertentu. Ditambah lagi, sejak SMP Rahmat sudah mengatur uang saku sendiri. Jadi harus berhemat supaya kebutuhan sekolah bisa terbeli, tanpa meminta tambahan ke orang tua.

Satu bocoran tentang kemampuan membaca Rahmat. Yerp, doi bisa melahap 15 sampai 20 lembar halaman dalam satu sesi baca. Ajib dah! Jadi temennya pasti enggak sebel, soalnya Rahmat mengembalikan bukunya cepat. Enggak pakai lama.

Next, Aliefha Septikamelia Putriningtyas Wibowo. Cewek kelahiran 7 September 16 tahun silam ini mengaku, membaca sudah jadi bagian dari kebutuhan hidupnya. Soalnya doi melakukannya tanpa ada paksaan. Semua dia lakukan jujur dari dalam jiwa kalau ingin membaca memperkaya wawasan. Makanya, doi senang sekali saat ada program Literasi dari Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang masuk kelas.

“Selain itu, di sekolah juga ada program wajib membaca. Jadi mau enggak mau harus membaca. Tapi yang terpenting adalah jangan ada perasaan terpaksa atau dipaksa,” tukasnya.

Alifa -- sapaan karibnya-- mengaku kalau ia bisa membaca saat masih usia 3 tahun. Isn’t that great?! Saat itu, doi sudah mulai membaca majalah anak. Seperti Majalah Tiko dan Majalah Bobo. Pssst, kategori buku yang ia baca beragam lo. Mulai dari genre misteri, slice of life, fiksi, bahkan novel religius juga dia lahap.

Novel berlatang belakang detektif ternama Inggris Sherock Holmes seri The Game of Death sangat disukai Alifa. Serial ringan berisi kisah remaja SMA Lupus juga dia gemari. Saat disinggung komik, dia lebih suka membaca manhwa daripada manga, (apakah kamu tahu apa perbedaannya?!)

Koleksi bukunya juga enggak tanggung-tanggung lo. Bahkan, satu buah rak buku pun tak cukup untuk menampung koleksi bukunya. Bukan main. Meski membaca sudah menjadi kebutuhan, tapi dia tidak membuat jadwal pasti. Doi mengaku kalau membaca semampunya. Terlebih juga tergantung mood-nya. Terlebih rutinitas sebagai pelajar dengan tumpukan tugas, membuat doi hanya membuka beberapa lembaran buku bacaan saja.

Alifa meyakini banyak manfaat dari membaca buku. Tapi bergantung juga dari jenis buku yang dibaca.

“Tujuannya membaca kan mengubah orang jadi lebih baik. Memang enggak mungkinlah bisa baca satu buku terus jadi orang baik. Because it has to be continuous. The effects will take place in the long run,” tutupnya. (*/ai/suju/pre)


BACA JUGA

Jumat, 04 September 2015 21:03

Dualisme KNPI Ancam Anggaran

<p style="text-align: justify;"><strong>BONTANG</strong> - Dualisme kepemimpinan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*