MANAGED BY:
MINGGU
18 AGUSTUS
BONTANG | BESSAI BERINTA | SANGATTA POST | METRO SAMARINDA | PEMKOT & DPRD | OLAHRAGA | ZETIZEN

ZETIZEN

Jumat, 25 November 2016 00:26
Please! Stop Bully Me....
Halaman Zetizen Bontang Post. Foto wajah: Ayunda Fauziah Hidayat, Abdul Hasan(FOTO-FOTO: ANANDA PUTRI AISYAH/SUJU BONTANG POST)

PROKAL.CO, Kalian pasti pernah mengalami kekerasan verbal atau non verbal. Well, kurang lebih bisa dikatakan sebagai bullying. Nah, beberapa anak buka-bukaan akan pengalamannya. Baik jadi korban atau pelaku bullying.

FIRST, siswi Smansa akan berbagi pengalaman bullying. Pertama, Ayunda Fauziah Hidayat. Siswi Kelas XI MIPA 1 mengalami bullying sejak duduk di bangku SD, dan berlanjut hingga SMP. Umumnya Ayunda -- sapaan Ayunda Fauziah Hidayat – mendapat penyiksaan batin. Meski bukan fisik, doi tetap merasa “sakit”. Bahkan kalau ada pilihan, lebih memilih tersakiti secara fisik. Soalnya, kalau luka fisik lebih cepat sembuh timbang luka perasaan.

Bullying yang Ayunda alami lebih ke pergaulan. Apalagi, saat SMP di sekolah ada semacam “geng” atau kelompok. Nah, doi dianggap enggak solid dalam geng. Cewek kelahiran Bontang, 15 November 2000 itu menambahkan, untungnya bullying berhenti saat SMA.

“Aku yakin, mekera yang pernah mem-bully pasti akan dapat balasan. Alhamdulillah selama SMA ini sudah enggak pernah lagi di-bully,” ujar dia lega.

Ayunda tahu, aksi bullying di sekolah kerap terjadi dan menghantui. Beberapa siswa diantaranya menjadi korban. Baik secara fisik maupun verbal. Yah, bullying ibarat masalah yang bisa menimpa semua siswa. Ayunda berharap, seluruh anak di Kota Taman bisa bijak dan menghargai sesama. Sehingga bullying tidak terjadi lagi.

“Semua orang enggak ada yang sempurna. Oleh karenanya, kalau enggak mau disakiti, maka jangan menyakiti,” pungkasnya.

Next, Abdul Hasan namanya. Cowok biasa disapa Hasan ini mengaku gamblang. Kalau dia tak pernah jadi korban bullying. Sebalinya, doi adalah PELAKU BULLYING.  Yerp, Hasan kerap melakukan bullying secara verbal. Itu dia lakukan sebagai hiburan. Karena Hasan menganggap, ejekan atau perkataan “bully” yang dia keluarkan adalah fakta.

“Biasanya sih ejek-ejekan. Soalnya korban itu sendiri yang memulai. Tapi dianggap biasa saja. Enggak sampai dimasukkan dalam hati sama yang bersangkutan,” papar cowok kelahiran Bontang 7 Mei 1998 itu.

Hasan sering nyablak dan blak-blakan. Apapun dia lontarkan terkait orang lain. Untungnya, doi tidak pernah dilabrak atau mendapat laporan sekolah. Kalaupun ada yang enggak terima, hanya sebatas tidak ditegur saja. Itupun tak sampai berlarut-larut.

“Sampai bertengkar sih, iya. Tapi hanya satu hari saja. Baikannya juga enggak pakai ‘maaf-maafan’. Yang aku bully mulai menyapa lagi. Terus kami ketawa-ketawa lagi,” terangnya Hasan terkekeh.

Hasan meyakini, sebenarnya aksi bullying dilakukan sekelompok orang. Biasanya pelaku tidak berani sendirian. Sebagai orang nyablak dan terkadang suka mengejek, Hasan berpesan pada para korban bully. Supaya melawan. Kalau perlu balas pelaku bullying.

“Biasanya, orang-orang yang suka membully tuh kalau dibentak langsung diam. Jadi kalau kalian dibully, lawan saja. Kalau perlu balas!,” seru dia.

Ada satu lagi korban bullying. Sayangnya doi enggan diungkapkan pada media. Yerp, sebut saja dia AN. Salah satu siswa di SMA Kota Taman. AN mengalami bully verbal dan fisik. Bunga mengenang, saat duduk di bangku Kelas VI SD pernah dipukul teman. Hanya karena salah paham.

“Pergaulan saat itu berkelompok-kelompok. Kalau ada yang salah dikeroyok,” paparnya.

AN jadi korban bullying sampai saat ini. Khususnya SMA sekarang, ia sering dapat sapaan sinis dari teman-teman. Memang, AN menyadari bullying hilang dimulai dari diri sendiri. Sebagai korban harus bertransformasi dan mengubah diri. Misalnya, memberanikan diri menghadapi pelaku. Kalaupun masih merasa sulit untuk mengahadapi pelaku, korban bisa meminta bantuan orang-orang sekitar. Seperti lapor orang tua atau guru.

Ada lagi IN, menjadi korban bullying sejak SD. Doi yang enggan terungkap identitasnya ini bahkan mengaku sampai pernah adu pukul dengan siswa lain di sekolah. Penyebabnya cuma karena doi sering bawa susu kotak. IN diejek “anak kecil”.

“Waktu itu saya masi kelas 6 SD. Cuma gara-gara saya sering minum susu malah dibilang seperti anak kecil. Terus juga dia (pelaku) mengatakan dengan keras, jadi teman-teman yang lain ikut tertawa,” papar IN.

Lantaran kesal kerap diejek “anak kecil”,  IN terlibat perkelahian. “Jadi kudatangi orangnya, terus aku pukul. Aku kira dia bakal mengalah karena dia lelaki. Eh, ternyata malah balik memukul. Nah, waktu itu situasinya ramai banget. Tapi aku enggak peduli. Yang jelas, aku cuma mau menghajarnya sampai dia tidak lagi menertawakanku,” urai IN.

Saat IN Kelas VIII SMP juga dibully. Akibatnya, saat tugas kelompok IN selalu sendiri. Enggak ada yang mau satu kelompok dengan IN. Makanya IN mengerjakan tugas kelompok individu saja.

Bahkan, IN mengalami hari-hari penuh kesendirian mengiris hati. Nahasnya, ada saja yang mengusili IN sampai menangis. Lantaran terganggunya, ia bahkan sampai melakukan tindakan fisik.

“Enggak tahu kenapa, seketika aku beranjak mendatangi pelaku. Dia lari, tapi aku enggak peduli. Terus ketangkep, habis itu dia kuhempaskan ke tembok,” paparnya.

Sejak kejadian itu, IN dapat julukan “Preman Pasar”. Sampai berlanjut di kelas IX. IN hanya bisa menangis. Akibat bullying, IN sulit punya teman. Ditambah lagi ia sekelas dengan teman satu sekolah waktu SMP dulu. Dan kerap mendapat gangguan dari kawan lamanya itu.

IN mencoba cuek. Sekaligus tetap sadar satu hal, bahwa masa depannya tak ditentukan oleh para pengejel. IN ingin sekali bullying masuk peraturan sekolah. Dicantumkan dalam buku tata tertib. “Pihak sekolah seharusnya memberikan sanksi pula kepada para pelaku bullying,” ujar dia. (*/ai/suju/pre)

ANANDA PUTRI AISYAH/SUJU BONTANG POST

Dampak Psikologi Korban Bully

“Bully sendiri mempunyai dampak bagi korban. Jadi anak yang mengalami bully kemungkinan akan mengalami penurunan prestasi, gelisah, phobia ke sekolah. Sampai yang paling parah adalah depresi dan hendak menyakiti diri sendiri. Akibat Phobia ke sekolah, si anak jadi malas ke sekolah. Kadang timbul berbagai alasan yang membuat tidak mau berangkat sekolah. Mulai dari alasan sakit atau pusing. Dan mengalami kondisi psikosomatik. Korban juga bisa mengalami gangguan tidur, sensitive, hingga mampu berbuat kasar. Selain itu, korban juga bakal menarik diri dan mengucilkan diri dari kehidupan sosial. Karena keinginannya untuk marah yang tak tersampaikan. Biasanya korban bullying berkeinginan marah, tapi tak berdaya. Selain itu, orang yang dibully cenderung orang lemah. Akibatnya, emosi lebih labil, gampang marah, dan kadang jadi pendiam. Lama-lama, korban jadi pribadi temperamental dan gampang tersinggung.”

Orang Sekitar harus Peka 

“Orang sekitar korban bullying, seperti orang tua, guru, dan teman-teman harus peka terhadap perubahan perilaku orang yang bersangkutan. Utamanya orang tua. Perubahan yang harus disadari adalah perubahan perilaku, emosi, dan sikap, seperti mimik wajah. Orang tua juga harus peka terhadap segala perubahan fisik anak. Terlebih jika terjadi luka fisik atau saat dielus sang anak merasakan sakit. Termasuk perubahan mood ceria menjadi diam. Selain itu, orang tua juga harus membuka komunikasi sehat. Seperti menanyakan harinya di sekolah. Ajak ngobrol si korban, agar ia dapat membuka diri. Nah, saat mengobrol itu, usahakan orang tua juga menjadi pendengar yang baik. Agar pembicaraan tidak hanya berlangsung satu arah yang dominan.”

Dian Anggrainny

Dokter Psikologi RS PKT


BACA JUGA

Jumat, 04 September 2015 21:03

Dualisme KNPI Ancam Anggaran

<p style="text-align: justify;"><strong>BONTANG</strong> - Dualisme kepemimpinan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*